Category: cerita dewasa


“Mau kemana mir? Mau masuk kerja?” Ibu menyapaku dengan lembut. Ia masuk ke dalam kamar yang pintunya memang sengaja tidak ku tutup.

“Ada janji mau ketemu temen bu. Mirna sementara ini ijin gak masuk kerja.” Aku menjawab pertanyaan ibu sambil terus memakai make up.

“Teman pria? Teman apa teman nih?” Ibu bertanya sambil menggodaku.

“Temen kok bu. Temen lama..” Jawabku sambil tersenyum.

Beliau menghampiriku, memegang pundakku sambil melihat wajahku di cermin. Ibu lalu mengambil lipstick di dalam kotak perhiasan dan memutar tubuhku.

“Ah ibu, Mirna buru-buru nih..” Kataku sambil mencoba membalikkan tubuhku keposisi semula.

“Sini, biar ibu yang makein gincu..” Ibu menahan tubuhku, dan langsung mengoleskan gincu warna merah muda di bibir tipisku.

“Anak Ibu memang paling cantik. Gak heran kalau banyak yang suka..” Ibu kembali menggodaku.

“Mir. Kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga. Anjas juga sudah cukup besar. Dia butuh sosok ayah Mir. ”Kata ibu tiba-tiba.

“Maksud Ibu?” Aku tertegun mendengar perkataan ibu. Tak biasanya dia menyinggung persoalan ini.

“Umur ibu saat ini sudah tua Mir. Ibu pengen ngeliat kamu dan Anjas bisa bahagia..” Ibu melanjutkan perkataannya.

Tangannya yang lembut telah selesai memberi warna pada bibirku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat ke arah cermin. Kini bibir tipisku telah berubah warna menjadi merah muda. Kupalingkan wajahku dari cermin, lalu kutatap wajah ibu. Wajah penuh keriput, tapi masih lembut, masih bercahaya. Kusandarkan kepalaku di pundak wanita tua yang telah mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkanku.

“Mirna sudah sangat bahagia bu. Mirna punya segala yang Mirna mau. Mirna punya seorang ibu yang sangat baik. Mirna juga punya seorang anak yang lucu. Semua itu adalah kebahagiaan yang tak akan tergantikan bu..” Kataku sambil memeluk pinggang ibu.

“Tapi Ibu sudah tua mir. Ibu gak akan hidup selamanya. Ibu gak tau umur ibu sampai kapan. Dan sebelum Ibu pergi, Ibu pengen ngeliat kamu dan Njas bahagia. Ibu pengen kamu punya seorang suami yang bisa menjagamu. Ibu pengen Anjas punya seorang ayah yang bisa dia jadikan teladan, yang bisa melindunginya, yang bisa dia banggakan Mir.” Kupandangi wajah ibu, matanya berkaca-kaca. Aku terdiam. Dalam hatiku, aku membenarkan perkataan ibu. Suatu saat, kami pasti akan terpisahkan. Terpisahkan oleh waktu. Tapi tak pernah sekalipun aku berfikir hal itu akan terjadi. Membayangkannya saja membuat hatiku perih. Entah seperti apa jadinya hidupku dan Njas kalau Ibu sudah tidak ada.

“Mir..Coba kamu lihat mbah Karti. Usianya lebih tua dari Ibu. Beliau pernah ngobrol dengan ibu. Beliau bilang, seandainya beliau mati hari ini juga, beliau sudah bisa tenang. Karena Dina, anak satu-satunya yang ia punya telah memiliki keluarga. Dina telah memiliki seorang suami yang baik, ayah dari Aldo. Ibu pengen kamu seperti itu Mir..”

“Jadi ibu pengen Mirna jadi istri kedua Bu?” Aku sedikit sewot dengan perkataan ibu.

“Bukan Mir, bukan seperti itu. Maksud ibu, kalau kamu bisa bahagia dengan pria yang kamu pilih, dan kalau pria itu bisa bertanggung jawab terhadap kamu dan Njas, kenapa tidak Mir? Ibu tidak menyuruh kamu untuk mau menjadi istri kedua. Tetapi kamu sendiri harus melihat kondisimu Mir. Kamu adalah seorang perempuan muda yang telah mempunyai seorang anak. Jaman sekarang, sudah sangat jarang ada pria muda yang mau menerima kondisi seperti itu Mir.” Air mataku menetes mendengar perkataan ibu. Pikiranku langsung tertuju pada Om jerry. Lelaki tua bajingan. Oh seandainya ibu tau siapa Om jerry sebenarnya. Suami mbak Dina dan ayah dari Aldo itulah yang suatu saat ingin kuperkenalkan kepada ibu. Tapi untung saja hal itu belum sempat kulakukan.

Ketika sedang menikmati belaian lembut ibuku, aku di kejutkan oleh suara hp. Telepon dari Bayu.

“Mir, hari ini jadi kan? Kamu aku jemput ya? Alamat kamu di mana?”

“Gak usah. Aku bawa motor sendiri.” Klik. Aku langsung mematikan Hp.

“Kok kasar banget sih Mir?” Tanya ibu keheranan.

“Ah gak apa-apa bu, sudah biasa..” jawabku singkat.

“Kalau seperti itu, ntar kamu di tinggalin loh Mir…” kata ibu..

“Dia Cuma temen biasa kok bu. Oh iya bu, Njas mana?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Anjas di rumah mbah Karti, main sama Aldo.” Jawab ibu.

“Oh, mbak Dina masih di sini ya Bu? Mirna pikir sudah balik ke Semarang..” ujarku

“Dina sudah balik ke Semarang kemarin. Dia kerja. Aldo kan masih libur, jadi Aldo tinggal di Jogja. Lagipula, ayahnya kan di sini juga Mir.” Ibu menjawab pertanyaanku dengan lembut.

“ Ya sudah. Mirna jalan dulu ya bu..” Ku raih tangan ibuku dan menciumnya.

“Kapan-kapan, di ajak kemari ya. Kenalin ke Ibu..” Kata ibu pelan..

“Tunggu waktu yang tepat bu…” Jawabku seadanya..

“Ya sudah, hati-hati ya nduk…”

Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan perkataan ibu. Ah, tapi siapa? Setelah mengetahui kebusukkan Om Jerry, Aku tentu tak ingin menikah dengan seseorang yang tidak benar-benar mencintaiku. Apalagi, seperti kata ibu, aku telah mempunyai seorang anak. Anak dari entah pria mana. Aku tak ingin menikahi pria yang hanya mencintaiku, tapi tak mencintai keluargaku. Aku juga tak ingin menikahi pria yang tak menerimaku apa adanya. Pria yang hanya tertarik dengan keindahan tubuhku.

**

Perjalanan dari rumahku menuju warung steak tempat biasa aku dan Bayu sering bertemu tidak memakan waktu yang lama. Hanya sepuluh menit saja. Aku suka tempat ini, dan aku suka menu masakannya. Bagi orang miskin seperti aku, makan steak merupakan hal yang mewah. Tapi di Jogja, ada sebuah warung yang menyediakan menu masakan ala Barat ini dengan harga yang tidak mahal.

Segera kuparkir motor matic-ku di depan warung. Aku menengok ke dalam warung. Bayu sudah datang. Dia duduk di meja yang terdapat di sudut ruangan. Tempat biasa kami duduk jika datang ke tempat ini. Ku hampiri Bayu yang terlihat gelisah. Dia pasti menyangka aku tak akan datang. Tapi aku pasti datang. Aku adalah tipe orang yang selalu menepati janji. Bagiku, janji lebih dari hutang. Janji itu sangat penting. Kalau aku sudah berjanji, aku pasti akan menepatinya. Bayu tersenyum melihat kehadiranku. Dia menarik kursi dan mempersilakan aku untuk duduk. Itu adalah kelebihan Bayu. Dia selalu memperlakukanku bak putri raja. Dia selalu melakukan hal-hal romantis yang kadang tidak terduga sama sekali. Pernah suatu saat, ketika masih pacaran, kami mengalami pertengkaran hebat. Aku ngambek, dan tidak mau menemui Bayu. Bayu mungkin saat itu memang benar-benar mencintaiku. Ia melakukan hal yang tidak kuduga sama sekali. Malam itu hujan sangat deras. Bayu hendak menemuiku dirumah. Tapi aku tak mau keluar. Kuminta Ibu untuk menyuruhnya pergi dan tidak memperbolehkan Bayu masuk ke dalam rumah. Ibu sempat tidak enak dengan Bayu, tapi aku memaksa. Bayu tidak menyerah begitu saja. Dia tetap berdiri di depan rumahku. Dia menungguku hingga pagi. Dia berteriak di tengah hujan, meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sungguh menyayangiku. Perbuatannya malam itu membuatku luluh dan memaafkannya.

**

Tak berapa lama, datang seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman. Rupanya Bayu telah memesan terlebih dahulu. Blackpepper dan jus tomat untukku. Hmm, Bayu masih ingat kesukaanku. Dia tidak lupa sama sekali. Ia bahkan menaburkan merica bubuk dan saos sambal ke atas makananku. Aku memang penikmat makanan pedas. Berbeda jauh dengan Bayu. Dia sama sekali tidak menyukai makanan pedas. Sirloin double yang ia pesan selalu istimewa, tidak pedas. Tapi hari ini sepertinya berbeda. Dia menaburkan merica dan saos sambal ke dalam makanannya. Aku sedikit kaget melihatnya. Apa yang terjadi? Mungkinkah Bayu sudah mulai menyukai makanan pedas? Lalu pelayan kembali datang dengan membawakan minuman. Siapa yang memesan pikirku. Jus tomat dan jus apel, minumanku dan minuman Bayu. Lalu, lemon tea ini kepunyaan siapa?

“Maaf mas, lemon tea-nya telat..” Kata pelayan itu pada Bayu.

“Oh Gak apa-apa mas. Makasi ya..” Jawab Bayu.

Tidak biasanya Bayu memesan dua minuman sekaligus. Untuk apa? Ah, lama tidak berjumpa, kebiasaan Bayu telah banyak berubah.

“Ayo Mir, kita makan dulu ya. Mumpung masih anget..” Bayu mempersilakan aku untuk makan.

Aku diam tidak menjawab. Aku masih sedikit terkejut dengan kebiasaan Bayu yang telah berubah. Namun tidak lama kemudian, pertanyaan dalam benakku tentang minuman tadi terjawab sudah. Bayu masih seperti dulu. Ia masih tidak menyukai makanan pedas. Minuman ekstra yang ia pesan, rupanya untuk mengatasi rasa pedas pada makanannya. Tindakannya hari ini mungkin untuk menyenangkan hatiku saja. Dulu aku memang selalu memaksanya untuk mencoba makanan pedas. Aku selalu menaburkan merica dan saos sambal ke dalam makanannya. Dan ketika melihatnya panik menahan pedas, aku tertawa girang. Mungkin itu yang coba ia lakukan sekarang. Ia berhasil, aku tersenyum kecil. Hanya tersenyum, tidak tertawa seperti dulu. Kulihat ada peluh membanjiri keningnya. Biasanya, aku akan melapnya dengan tissue. Tapi kali ini tidak, dan Bayu mahfum. Dia melap keningnya sendiri dengan tissue. Bayu..Bayu…

Kami makan tanpa suara. Bayu sempat ingin mengajakku berbicara, menanyakan kabar Ibu dan sebagainya. Tapi aku hanya menjawab seadanya, selebihnya, kami terdiam dan membisu seperti sepasang musuh yang hendak saling membunuh.

**

Selesai makan, aku langsung menanyakan hal yang ingin Bayu katakan padaku.

“Kamu mau ngomong apa?” Tanyaku sinis..

“Aku mau ngasi tau kamu rahasia Mir. Rahasiaku..”jawab Bayu pelan..

“Rahasiamu? Terus apa hubungannya dengan aku? Rahasiamu biar menjadi rahasiamu. Aku tak mau tahu..” Aku berbicara sambil memalingkan muka.

“Ada Mir, justru ini semua tentang kamu. Tentang kita…”ujar Bayu

“Kita? Emang ada cerita apa lagi tentang kita? Setauku, sejak kejadian itu, tidak ada hal spesial lagi tentang kita. Semua udah berakhir Bayu..”

“Justru Itu Mir, aku tahu semua tentang kejadian itu. Aku tahu kamu gak salah Mir. Aku tahu rahasia di balik itu semua..” Kata Bayu sambil terus berusaha meyakinkanku.

“Ya udah, Ayo cerita…” jawabku ketus

“Gak bisa di sini Mir, disini terlalu banyak orang. Gak enak..”

“Terus mau dimana? Kamu ini banyak maunya ya. Udah untung aku mau ketemu kamu lagi..” Aku kesal dengan Bayu, dia seperti hendak mengulur-ngulur waktu.

“Hmmm, kita cari tempat yang lebih sepi Mir. Kita ke bukit bintang ya? Nanti pakai mobilku aja.” Kata Bayu.

Sesaat aku terdiam. Bukit bintang. Tempat paling romantis yang pernah ku datangi bersama Bayu. Daerah dataran tinggi yang terdapat di jalan wonosari itu merupakan tempat “pacaran” favoritku dengan Bayu. Kami sering menghabiskan waktu semalaman disana. Bahkan hingga pagi. Karena tempatnya yang tinggi, kita bisa melihat rumah-rumah dan bangunan lainnya yang berada di bawah. Semuanya tampak indah di kala malam, karena lampu-lampu menyala seperti kunang-kunang. Dan tempat ini merupakan tempat yang paling pas untuk menyaksikan keindahan bintang. Mungkin karena itulah tempat ini dinamakan bukit bintang. Aku dan Bayu sering ‘menggabungkan’ bintang-bintang di langit sehingga membentuk sesuatu. Entah itu berbentuk benda, binatang, dan lainnya. Di tempat itulah Bayu pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi. Di tempat itulah Bayu mengutarakan isi hatinya padaku. Di tempat itulah aku mendapatkan ciuman pertamaku. Tempat itu memberiku sejuta kenangan. Sudah lama aku tak pernah kesana, dan itu memang ku sengaja. Karena aku yakin, tempat itu akan membangkitkan kenanganku bersama Bayu. Dan itu artinya, membuka luka lama.

“Maaf, aku gak bisa..” kataku pada Bayu.

Aku beranjak dari kursi, bermaksud hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tapi Bayu menahanku. Ia meraih tanganku.

“Please Mir. Please. Aku mohon, kali ini Mir. Hal ini sangat penting Mir. Penting bagi kita..” Bayu memohon padaku..

“Kita? Mungkin hanya penting buat kamu Bayu. Kamu egois!!” Aku menepis tangan Bayu dan berjalan keluar warung.

“Mir. Tolong Mir, kali ini saja Mir. Aku hanya ingin bicara. Setelah itu terserah kamu Mir..” Bayu menarik tanganku. Ia berlutut dan memohon padaku.

Tentu saja tingkah Bayu menjadi perhatian orang-orang yang sedang makan di warung itu. Aku menjadi malu.

“Lepasin aku. Malu di liatin orang banyak tau!!” Kataku sambil berusaha melepas tangan Bayu dari lenganku.

“Enggak Mir. Aku gak akan lepas tanganku, aku gak akan berdiri sampai kamu bilang iya.” Bayu terus memohon padaku.

“Iya iya. Tapi kamu berdiri dulu, aku malu di liatin orang..”

“Bener iya Mir?” Bayu seperti tidak percaya dengan jawabanku

“Iya bener. Cerewet, cepat berdiri, malu tau di liatin orang banyak!!”

Aku sungguh kesal dengan Bayu. Dasar cowok egois. Aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain selain mengatakan ‘iya’. Karena Bayu akan melakukan apa yang ia katakan. Dia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia mau. Bayu akan terus berlutut seperti saat ini jika saja aku tetap mengatakan tidak.

Di dalam mobil, Bayu tersenyum melihatku. Kalau dulu, ketika masih pacaran, ia akan menggodaku saat melihat wajahku yang kusut karena ngambek. Tapi sekarang, dia hanya tersenyum. Sepeda motor kutitipkan di salon. Emak Ros sempat bertanya, tapi kujawab seadanya. Mungkin ia berpikir bahwa Bayu adalah pelangganku, dan aku ingin di bawa ke hotel. Aku tak terlalu merisaukannya. Suatu saat, aku akan menceritakan semua kepadanya. Sepanjang perjalanan, Bayu memutar lagu-lagu kesukaanku. Mungkin ia berharap aku akan tersenyum. Tapi tidak, aku menahan senyum itu. Aku masih kesal padanya. Kupalingkan wajahku ke jendela dan memandang ke arah luar.

**

Bayu memarkir mobil jazz silver miliknya di pinggir jalan. Tepat menghadap ke jurang. Aku masih bisa memandang keindahan Jogja di kala malam dari dalam mobil. Sesaat aku merasa betapa sesungguhnya aku merindukan tempat ini. Aku senang bisa berada disini lagi dan bersama dengan Bayu, walaupun keadaannya sudah berbeda. Tidak seperti dulu lagi. Tapi aku tak ingin terlalu larut dalam perasaan ini. Aku tak ingin terluka lagi. Bahkan, aku sendiri tidak yakin, apakah di hatiku masih ada cinta untuk Bayu.

“Ayo cepet, mau ngomong apa?”tanyaku pada Bayu.

“Aku pengen ngomong soal kejadian itu Mir.”Bayu menjawab pelan.

“Kenapa? Bukannya kamu malu? Kamu ninggalin aku gara-gara aku di perkosa kan? Terus ngapain kamu mau ngomongin masalah itu sekarang?”

“Aku salah Mir. Kamu gak ngerti posisiku. Jabatan ayah memaksaku untuk melakukan itu. Dan sekarang, aku sadar, semua itu salah..”

“Terus? Sekarang kamu maunya apa?” tanyaku dengan sinis

“Mir, orang-orang yang memperkosamu ternyata orang-orang sewaan mami Mir.”

“Maksud kamu?” tanyaku sambil menatap wajah Bayu.

“Iya Mir, kamu tau kan dulu mamiku pernah nyewa orang buat mata-matain kamu. Nah, ternyata oleh mami, orang-orang itu di suruh memperkosa kamu Mir.”

Aku terkejut mendengar cerita Bayu. Aku marah, aku benci. Ingin rasanya ku maki Bayu.

“Aku baru tau kejadian itu dua tahun yang lalu Mir.” Bayu melanjutkan ceritanya.

“Waktu itu mamiku sedang sakit. Dia terkena kanker. Mami menceritakan semuanya Mir. Tentu saja aku marah. Tapi mami sudah menyesali perbuatannya Mir. Beliau ingin bertemu denganmu, ingin meminta maaf. Sudah dua tahun ini aku berusaha mencarimu Mir..”

Aku hanya terdiam dan menangis. Aku masih Shock mendengar penuturan Bayu. Mengapa ibunya begitu tega melakukan semua itu padaku. Apa salah dan dosaku sehingga harus menerima penghinaan seperti itu.

“Sekarang mamiku sekarat Mir. Bahkan untuk matipun ia sulit. Sepertinya ada yang menjanggal di hatinya. Mungkin itu kamu Mir, mungkin beliau menunggu kata maaf darimu. Mir, aku masih Bayu yang dulu. Bayu yang benar-benar menyayangimu dengan tulus, mencintaimu apa adanya. Bayu yang akan selalu menjagamu. Sejak kehilanganmu, aku tak pernah berhubungan dengan perempuan manapun Mir. Hatiku masih untukmu. Aku menjaganya Mir.”

Bayu mendekatkan tubuhnya padaku. Ia menggenggam tanganku dengan lembut. Entah bagaimana perasaanku kini. Aku benar-benar marah. Bagaimana mungkin perbuatan sekeji itu bisa selesai hanya dengan permintaan maaf? Sedangkan aku dan ibu bertahun-tahun bergelut dengan luka yang mendalam. Segampang itukah Bayu datang meminta maaf dan menyatakan cintanya padaku? Kemana ia selama ini?

“Mir, aku dengar kamu sudah punya anak laki-laki Mir? Sekarang udah gde ya Mir? Namanya siapa Mir?” tanya Bayu sambil terus menggenggam tanganku. Sesekali ia mengusap air mataku.

“Anjas. Namanya Anjas.” Aku menjawab singkat. Tatapanku kosong. Tubuhku lemas.

“Mir. Aku pengen kita mulai dari awal lagi. Aku pengen kamu berhenti bekerja ditempat itu Mir. Aku akan mencintai anakmu seperti aku mencintaimu Mir. Aku berjanji Mir, gak akan pernah ada lagi orang yang akan menyakitimu dan keluargamu..”

Tiba-tiba aku terbayang sosok Anjas. Anak yang terlahir karena perbuatan keji orang-orang biadab. Anak yang sempat kubenci, namun kini begitu ku cintai. Oh, aku merasa bingung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan ini.  Perasaanku bergejolak. Kata-kata Bayu sungguh meyakinkan. Tapi apakah aku harus mempercayainya? Aku takut, aku sungguh takut. Ada sedikit rasa bahagia dihati ini. Ada sedikit rindu yang menyesakkan, rindu akan Bayu. Akan tetapi rasa takut yang menyelimuti jiwaku memaksaku untuk menolak perasaan itu.

Tiba-tiba Bayu mendekatkan wajahnya di hadapanku. Aku melihat matanya. Kupandangi dengan rasa benci sekaligus cinta.

“Aku mencintaimu Mir. Sangat mencintaimu..”kata Bayu

Berulang kali ia mengatakan hal itu. Tanpa kusadari, ada kelembutan menyentuh bibirku. Bayu menciumku. Entah mengapa aku hanya terdiam. Bahkan ketika Bayu memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Aku hanya terdiam. Dan ketika lidah kami saling bersentuhan, mataku terpejam. Ciuman yang telah lama hilang. Ciuman yang aku rindukan. Aku meladeni ciuman Bayu. Kumainkan lidahku dengan lidahnya. Cukup lama kami berciuman hingga kurasakan tangan Bayu mulai masuk kedalam bajuku. Sesaat, ada kenikmatan yang menyelimuti tubuhku ketika jari bayu mulai mengelus putingku yang sudah mengeras. Aku merasakan rangsangan yang sungguh hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tapi aku segera tersadar. Ku tepis tangan Bayu dan mendorong tubuhnya. Aku sungguh marah. Bagaimana mungkin ia memanfaatkan situasi seperti ini.

“Kamu sama seperti lelaki bajingan lain yang hanya ingin menikmati tubuhku!!”kataku sambil mendorong tubuhnya.

“Mir, maafkan aku Mir. Aku gak bermaksud seperti itu Mir.”Bayu mencoba meminta maaf.

“Cukup!! Aku gak butuh permintaan maaf dari kamu. Aku gak butuh permintaan maaf dari keluargamu. Aku sudah bahagia dengan keadaanku sekarang. Aku ga butuh kamu!!”

Kuambil Hp dari dalam tasku. Aku menghubungi operator taxi. Bayu mencoba untuk mencegahku. Tapi kugagalkan rencananya. Kubuka pintu mobil dan beranjak keluar. Bayu mengikutiku. Ia berusaha menahanku agar tidak pergi

“Mir. Denger penjelasanku dulu Mir..”Kata Bayu sambil terus berusaha meraih tanganku

Tapi aku terus berjalan menjauh darinya. Beberapa orang yang kebetulan ada di sana melihat kami. Tapi aku tak peduli. Tak berapa lama, taxi yang aku pesan datang. Aku langsung membuka pintu dan menyuruh sopir untuk segera jalan. Bayu berlari mengejar sambil memanggil namaku. Hpku berbunyi, Bayu menelponku, tapi kuabaikan. Segera kumatikan Hp agar Bayu tidak bisa menghubungiku. Sopir taxi mungkin merasa heran dan bertanya-tanya. Apalagi ia melihatku menangis di kursi belakang.

“Berantem ama cowoknya ya mba?”tanya sopir taxi mencoba ramah.

Aku hanya diam, tidak menjawab. Dadaku sesak, sangat sesak. Aku hanya bisa menangis. Menangisi nasibku. Tadinya aku sempat berharap Bayu akan benar-benar kembali. Setelah mengetahui kebusukkan Om Jerry, hanya Bayu-lah satu-satunya harapan bagiku, harapan bagi Njas untuk mempunyai seorang ayah. Tapi aku semakin tidak yakin setelah perbuatannya tadi. Aku sungguh muak. Aku memang seorang pelacur, tapi aku tak seburuk itu. Setidaknya untuk Bayu. Aku tak ingin dia hanya memanfaatkanku sebagai seorang pelacur. Kalau seperti itu, dia tak ada bedanya dengan para lelaki hidung belang yang hanya ingin menikmati tubuhku. Terbayang perkataan Ibu tadi sore. Maaf ibu, aku belum bisa memenuhi permintaanmu.

Bersambung….

Baca Cerita sebelumnya : Mirna dan dosa (pertempuran hati)

Aku terbangun oleh suara anak-anak kecil yang sedang bermain. Suara mereka terdengar merdu di telingaku. Suara tawa yang riang dan bahagia. Suara-suara yang selalu membuatku ingin kembali ke masa kecil. Aku mengenal suara dari salah satu anak. Suara Njas, buah hatiku tercinta. Aku berjalan keluar kamar. Rambutku masih acak-acak-kan. Mukaku terlihat kusam. Mulutku masih bau.

“Ibu….” Anjas berlari kearahku.

Ia memberiku sebuah pelukan. Pelukan  yang hangat. Aku tersenyum, kuberi kecupan di keningnya. Kecupan yang tidak sempat kuberikan sebelum ia tertidur semalam. Ada seorang anak kecil yang berlari menyusulnya.  Aku tak mengenalinya. Dia menarik tangan Njas, mengajaknya bermain. Anjas melepaskan pelukan di tubuhku.

“Njas main dulu ya bu…” Njas langsung berlari, bermain kejar-kejaran dengan teman barunya.

“Hati-hati Njas, jangan main jauh-jauh…” Ujarku setengah berteriak.

Syukurlah, Njas akhirnya mempunyai seorang teman. Selama ini Njas selalu bermain sendirian. Di kampung ini, anak kecil seumuran Njas memang jarang. Tapi siapakah anak kecil tadi? Aku belum pernah melihatnya sama sekali.

“Baru bangun Mir?”

Aku terkejut mendengar suara ibu. Aku tak menyadari kehadirannya. “Iya bu. Ibu ga jualan?”

“Hari ini libur Mir, Ibu pengen istirahat. Lha kamu gak kerja?”

“Enggak bu, Mirna udah ijin.”

Tadi malam, aku sudah menghubungi emak Ros. Aku meminta ijin selama seminggu. Aku ingin istirahat total dari pekerjaan busukku. Aku ingin menghabiskan waktu dengan keluargaku. Apalagi saat ini musim liburan. Aku ingin mengajak Njas dan ibu berlibur.

Hidungku mengendus sesuatu. Wangi masakan tercium dari arah dapur. Sungguh membangkitkan selera.

“Siapa yang sedang masak bu?”

“Mbah Karti Mir, dia udah nungguin kamu dari pagi. Kamu katanya mau di pijet. Sambil nunggu kamu, mbah Karti bantuin ibu masak di dapur..”

Aku baru ingat, semalam aku yang meminta ibu untuk menghubungi mbah Karti. Tukang pijat langgananku. Rupanya ia telah lama  menungguku. Setelah mencuci muka di kamar mandi, aku langsung menuju dapur.

“Siang mbah Karti. Udah nungguin lama ya mbah? Maaf mbah, Mirna baru bangun.”

“Gak apa-apa neng ayu. Ini mbah sekalian bantu ibumu masak.” Mbah Karti menjawab sapaanku dengan tersenyum. Dengan sebuah sendok. Ia cicipi masakan yang sedang ia buat. Kemudian ia kembali tersenyum. Pasti sudah pas rasanya, gumamku dalam hati.

Mbah karti merupakan  janda dari seorang veteran perang. Suaminya ikut membela bangsa ini dari penjajah. Namun negara ini sepertinya lupa dengan jasa-jasa beliau. Hidup mbah Karti sangat sederhana, bahkan bisa di bilang miskin. Mbah Karti hanya tinggal di sebuah gubuk reot terbuat dari kayu. Tempat itu tidak pantas di sebut rumah. Setiap bulan, mbah Karti hanya menerima uang 500 ribu rupiah saja dari negara. Sungguh sangat kecil bila dibandingkan dengan pengorbanan suaminya dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Jangankan presiden, kepala desa-pun tidak memperhatikannya. Nasib mbah Karti mungkin sama dengan nasib janda-janda pahlawan lainnya. Ah, bangsa ini sombong. Tak tahu malu.

“Mau dipijet sekarang neng?”

“Nanti saja mbah, habis makan. Mbah Karti juga makan ya. Kita makan sama-sama.”

Mbah Karti hanya tersenyum. Senyumnya masih manis, walaupun giginya sudah tak lengkap lagi. Usia mbah Karti telah senja. 70 tahun sudah ia melalui pahit manisnya hidup ini. Kulitnya sudah kriput. Badannya kurus ceking. Tapi kondisinya masih sehat. Jarang sekali terdengar mbah Karti terserang penyakit. Mungkin caranya menyikapi hiduplah yang membuatnya selalu terlihat sehat. Dia selalu bersyukur atas segala yang ia punya. Tak pernah sedikitpun mengeluh.

Seorang anak kecil tiba-tiba masuk kedapur. Ia menarik baju mbah Karti. “Mbah, aldo pengen pipis.”

“Di belakang adek yang manis. Sini tante anter. Mbah lagi masak.” Ujarku.

Kugendong anak itu dan ku antar menuju kamar mandi. Anjas mengikuti dari belakang. Anak kecil yang sedari tadi bermain-main dengan Anjas ternyata bernama Aldo. Anak siapa ini? Batinku dalam hati. Apa hubungan anak ini dengan mbah Karti?

“Makasih tante.” Kata anak itu kepadaku.

“Sama-sama Aldo. Njas mau pipis juga gak?” Mataku melirik Njas yang sejak tadi mengekor di belakangku.

“Enggak bu. Yuk do, kita main lagi.” Anjas menggandeng tangan Aldo dan mengajaknya bermain.

“Jangan jauh-jauh ya, sebentar lagi kita makan bareng.”

“Iya bu.” Jawab Njas sambil berlalu.

Ibu sudah berada di dapur ketika aku kembali. Banyak peluh di tubuhnya. Sepertinya ia telah selesai membereskan rumah. Sebuah pekerjaan rutin baginya. Bukannya aku tak ingin membantu ibu membersihkan rumah, tetapi ibu selalu menolak ketika aku menawarkan bantuan. Pernah sekali waktu aku menyempatkan diri menyapu halaman dan membersihkan kamar mandi. Ibuku langsung marah ketika mengetahui hal itu. Aku tak pantas melakukan pekerjaan kasar seperti itu. Sejak saat itu, Ibu selalu melarangku mengerjakan pekerjaan rumah.

“Mir, coba kamu panggil Aldo dan Anjas. Ini makanannya sudah siap..”

“Baik bu.”

“Aldo, Njas. Main-nya udahan dulu. Ayo kita makan sama-sama..”

Aldo dan Njas berlari riang ke arahku. Baju mereka lusuh dan kotor. Tangan dan kaki mereka penuh dengan debu. Anak-anak kecil tanpa dosa ini terlihat sangat bahagia.

“Ayo, tangan dan kakinya di cuci dulu. Habis itu makan.” Ibu menyuruh kedua anak itu untuk membersihkan diri.

Masakan mbah Karti sungguh enak. Bahkan harus di akui, masakan mbah Karti jauh lebih enak di banding masakan ibu. Sesekali ibu menegur Njas dan Aldo yang bercanda ketika sedang makan. Mbah Karti tertawa geli melihatnya. Aku sungguh menikmati suasana ini. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah ibu dan Njas. Ah, betapa aku mencintai keluarga ini

**

Aldo dan Njas sudah tertidur. Mereka pasti kelelahan setelah seharian bermain. Aku membantu ibu dan mbah Karti mencuci piring. Wajah ibu terlihat pucat. Aku menyuruhnya untuk beristirahat. Ia menolak, tapi aku memaksa. Ia mengalah. Setelah mencuci piring yang terakhir, ibu menuju kamar tidurnya.

“Ayo neng ayu, jadi mbah pijit?”

“Mbah Karti ga cape?”

“Enggak neng. sudah biasa.”

Aku mengajak mbah Karti kedalam kamarku. ” Di dalam saja mbah.”

Mbah Karti menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Kucopot pakaianku satu-persatu. Hanya celana dalam yang menempel di tubuhku. Aku mengambil kain jarik berwarna coklat untuk menutupi tubuhku. Mbah karti terlihat sibuk menyiapkan minyak urut. Sembari menunggu, kusempatkan untuk melihat handphoneku. Ada enam missed call. Dua dari Oom Jerry, dan empat dari nomor yang tidak dikenal. Pasti orang iseng, pikirku. Om Jerry sempat mengirimkan pesan singkat, “Kamu dimana sayang? Kok ga ada di salon? Om kangen nih..” Sempat ingin kubalas sms dari om jerry, tapi kuurungkan niatku. Nanti saja, saat ini aku tak ingin di ganggu oleh siapapun. Aku ingin menikmati hari-hari bersama keluargaku. Aku ingin istirahat.

Mbah Karti sudah selesai menyiapkan minyak urut. ” Telungkup neng ayu..”

Mbah karti menurunkan jarik yang menutupi tubuhku. Dia mengusapkan minyak pada punggungku dan memulai pijatan.

“Mbah, Aldo itu siapa mbah?”

“Aldo itu cucuku neng ayu. Anak dari Dina.”

“Loh, mbak Dina udah nikah to mbah?”

“Udah neng ayu. Dina di jadikan istri kedua. Dia nikah dengan pejabat. Orang gedean.”

“Kok mau mbah di jadikan istri kedua?”

“Wes gak apa-apa. Namanya juga cinta. Lagipula, suami Dina orangnya baik dan ramah. Walaupun umur mereka terpaut cukup jauh.”

“Sakit ya neng?” Mbah Karti menghentikan pijitannya ketika melihat aku sedikit meringis.

“Gak apa-apa mbah. Sakit sedikit. Dilanjutin aja mbah mijitnya.” jawabku.

“Terus, mbak Dina sekarang tinggal dimana mbah?” Aku melanjutkan obrolan kami.

“Dina di beliin rumah sama suaminya di Semarang neng. Dina kan kerjanya di semarang. Kebetulan sekolah Aldo lagi libur, makanya dina dan Aldo main ke Jogja.”

“Suami mbak Dina tinggal dimana mbah?” Aku semakin penasaran, entah mengapa rasa ingin tahuku tentang mbak Dina semakin menjadi-jadi.

“Suami Dina tinggal di Jogja bersama istri tuanya. Dia hanya sekali seminggu ke semarang untuk menjenguk Dina dan Aldo. Dia orang sibuk, anggota DPRD.”

Aku terdiam mendengar penuturan mbah Karti. Mbak Dina, anak satu-satunya telah menikah dengan seorang pria tua. Mbah Karti sepertinya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Apalagi, pernikahan mbak Dina dan pria yang usianya jauh lebih tua itu telah menghasilkan seorang cucu baginya. Seorang anak kecil yang lucu. Mbah Karti terlihat sangat menyayangi Aldo, cucu pertama dan satu-satunya. Sama seperti ibu yang begitu mencintai Anjas. Mendengar cerita mbah Karti, aku jadi teringat om Jerry. Pria tua yang baik dan ramah. Om jerry juga pernah mengajakku menikah. Tapi aku menolaknya. Aku tak ingin menjadi istri yang kedua. Aku tak sanggup menjadi seperti mbak Dina. Walaupun sesungguhnya, aku juga mulai mencintai om Jerry. Kehangatan dan kasih sayang yang ia berikan sungguh membuatku ingin terus bersamanya.

Bunyi handphone yang kuletakkan di samping kepala membuyarkan lamunanku tentang om Jerry. Segera ku ambil HPku. 1 pesan di terima.

“Mir, ini aku, Bayu..”

Aku terkejut. Jantungku berdegup kencang.

“Ada apa neng ayu?” Mbah Karti melihat perubahan dari raut mukaku. Naluri seorang ibu, dia seperti tahu bahwa ada sesuatu yang sedang melandaku.

“Gak apa-apa mbah. Ini ada sms dari temen.” Aku menjawab dengan singkat.

Mbah Karti membuka jarik yang menutup kakiku. Bagian punggung sudah selesai, sekarang bagian kaki. Aku masih memandangi HPku. Nomor tidak di kenal yang tadi meneleponku berkali-kali ternyata nomor Bayu. Darimana dia tau nomor Hpku? Aku bertanya-tanya dalam hati. Pasti mami Sarah. Iya, pasti. Semalam Bayu pasti menanyakan nomor teleponku pada mami Sarah.

“Jangan ganggu aku lagi!!!” Aku membalas sms dari Bayu.

Tak berapa lama, Bayu sudah membalasnya. “Aku hanya ingin bertemu Mir. Ada sesuatu yang ingin ku ceritakan. Kamu pasti ingin tau.”

“Aku tak ingin mengetahui apapun!! Sudahlah, jangan ganggu aku lagi!” Kembali kubalas sms dari Bayu.

“Ini sangat penting Mir. Menyangkut hidupku dan hidupmu. Menyangkut hubungan kita berdua Mir.”

Aku tak membalas sms Bayu yang terakhir. Apa gerangan yang sedang terjadi? Apa yang menyebabkan Bayu tiba-tiba mencariku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi pikiranku. Ada rasa keingintahuan yang besar. Namun rasa takut juga menyerangku. Aku takut pertemuanku dengan Bayu akan membuka luka lamaku. Aku takut perasaan cinta yang sudah kukubur dalam-dalam akn hidup kembali. Jauh di dalam lubuk hatiku, masih tersisa ruang untuk Bayu. Hanya Bayu. Tapi ruang itu sudah mengecil, dan aku takut ruang itu menjadi besar dan luas. Apalagi saat ini, separuh hatiku sudah kucurahkan untuk om Jerry. Hatiku bergejolak. Terjadi pertempuran yang dahsyat antara cinta, luka lama dan bayanganku akan masa depan.

“Sudah selesai neng ayu. Tinggal tangan dan bagian depan. Ayo terlentang.”

Aku membalikkan tubuhku.

“Neng ayu lagi ada masalah ya?” Mbah Karti kembali bertanya. Raut mukaku pasti terlihat jelek. Aku memang  tidak pernah bisa menyembunyikan perasaanku di depan orang lain.

“Gak kok mbah. Masalah kecil aja. Biasalah mbah, masalah cinta.”

“Masalah cinta itu bukan masalah kecil neng ayu. Satu-satunya hal yang paling indah di dunia ini adalah cinta. Bagaimana cinta bisa memainkan emosi kita. Membuat kita tertawa, menangis, terluka dan bahagia. Cinta memiliki segala hal dalam diri manusia. Jangan pernah membohongi diri sendiri. Jangan pernah takut. Cinta itu tidak pernah salah.”

Aku tertegun mendengar petuah dari mbah Karti . Mungkin mbah Karti benar. Tapi mbah Karti pasti tidak pernah tahu rasanya menjadi diriku. Mbah Karti tidak mengetahui masa laluku.

“Makasi mbah..”

“Dulu, waktu mas Jono ikut perang, setiap malam aku habiskan dengan rasa khawatir. Rasa tidak percaya, rasa kesepian dan terluka. Aku pernah meminta mas Jono untuk tidak ikut berperang, karena aku sangat mencintainya dan aku takut kehilangannya. Tapi mas Jono bersikeras. Dia begitu mencintai negeri ini. Aku merasa mas Jono sudah tidak mencintaiku lagi. Apalagi waktu itu kami baru saja melangsungkan pernikahan. Tapi mas Jono meyakinkanku. Jangan kau bandingkan rasa cintaku padamu dengan apapun. Karena tak akan pernah ada yang sanggup mengalahkan rasa cintaku padamu. Begitu kata mas Jono. Hingga perang usai, dan ia kembali untukku..”

Aku terdiam mendengarkan kisah mbah Karti dan suaminya. Ternyata apa yang aku alami mungkin belum seberapa dengan yang pernah ia alami. Air mataku menetes. Aku tak sanggup menahannya. Mbah Karti mengambil  sapu tangan miliknya. Ia mengusap air mataku, lembut dan penuh cinta.

“Percayalah pada kekuatan cinta neng ayu. Cinta tidak pernah salah..” Mbah Karti tersenyum.

“Iya mbah, makasi..” Aku menjawab sambil terisak.

**

“Mbah, mbah lagi ngapain?” Aldo memanggil mbah Karti dari luar kamar. Rupanya ia sudah bangun.

“Lagi mijitin tante Mirna cucuku sayang. Ini sudah selesai, sebentar ya.” Mbah Karti menjawab

“Cepet mbah. Mama dan papa sudah menunggu di luar.”

Mbah Karti membereskan perlengkapan pijatnya. Ku lap tubuhku dengan handuk lalu mengambil bra dan pakaianku. Badanku terasa lebih ringan. Pijatan mbah Karti memang tiada duanya. Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan sejumlah uang.

“Ini mbah, seadanya..”

“Loh, kok banyak banget neng ayu? Ga usah..”

Mbah Karti mencoba mengembalikan uang yang aku berikan. 500 ribu jumlahnya.

“Gak apa-apa mbah. Mumpung lagi ada rejeki. Buat tambahan mbah Karti. “

“Makasi ya neng ayu..” Mbah Karti mencium keningku.

Kubuka pintu kamarku. Diluar, sudah ada ibuku dan mbak Dina. Anjas tidak terlihat, sepertinya ia masih tidur. Aldo kegirangan karena mendapatkan sebuah mainan baru dari ibunya. Kuhampiri mbak Dina dan menyalami tangannya.

“Apa kabar mbak?” Tanyaku berbasa-basi.

“Baik Mir, kamu apa kabar?”

“Baik juga mba. Wah Aldo dapet mainan baru ya? duh senangnya..”

Aldo cuek dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia masih asik berkutat dengan mobil-mobilan barunya.

“Aldo, itu tante Mirna nanya kok malah di cuekin. Gak boleh gitu dong.” Mbak Dina coba menegur Aldo.

“Biar saja mbak. Namanya juga anak-anak. Suaminya mana mbak?” Baru saja aku bertanya, tiba-tiba seorang peria paruh baya datang.

Aku kaget bukan main. Pria tua ini adalah pria yang selama ini aku kenal. Pria baik dan ramah yang selalu memberikan apapun yang aku minta. Pria penyayang yang lembut. Pria yang membuatku jatuh cinta. Om Jerry!!!! Tubuhku langsung lemas. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Seperti mimpi buruk. Seperti langit telah runtuh menimpaku.

“Nah ini suamiku Mir. Ayo kenalan dulu, biar enak kalau ketemu di jalan.” Mbak Dina mencoba mengenalkan suaminya kepadaku.

Aku menyalami tangan om Jerry. Raut mukanya sama sepertiku. Pucat!!

“Ini lho mas, Mirna yang aku ceritakan. Cantik kan? Cariin jodoh mas buat Mirna. Siapa tau ada teman-teman mas di kantor yang mencari istri.” Celetuk mbak Dina sambil bercanda.

Aku hanya tersenyum kecut mendengar semua itu. Sama seperti Om Jerry, ia hanya terdiam. Wajahnya memerah. Pria biadab itu pasti malu, gumamku dalam hati. Mbah Karti seperti menyadari ketidakberesan yang terjadi. Ia segera mengajak keluarganya untuk pamit. Mbah Karti menyalami tangan ibuku. Kemudian memelukku.

Mbah Karti berbisik di telingaku, “Sabar ya neng ayu, Tuhan tidak tidur. Teruslah berusaha dan berdoa.”

Aku menganggukkan kepala. Hampir saja aku menangis. Keluarga itu-pun pamit meninggalkan rumah kami.Ibu memperhatikan wajahku.

“Kamu kenapa Mir?”

“Gak apa-apa bu. Cuma sedikit gak enak badan aja.”

Aku berjalan menuju kamar. Kututup pintu kamarku rapat-rapat. Kurebahkan tubuhku. Hpku berbunyi, om Jerry meneleponku. Tapi kubiarkan saja. Pria tak tahu malu. Pria penipu!!! Aku sungguh kecewa, aku terluka. Hatiku seperti di tusuk sebilah pisau tajam. Sakit, sakit sekali. Air mataku bahkan tidak menetes. Mungkin sudah habis, atau aku terlalu lelah menangis. Mengapa harus seperti ini? Apa salahku? apakah dosaku terlalu besar sehingga aku tak pantas untuk merasakan kebahagiaan? Apakah aku tak boleh mencintai dan dicintai? Hatiku kembali bergejolak, ada yang sedang bertempur disana. Ingin ku maki Tuhan, tapi aku teringat kata-kata dari mbah Karti. Tuhan tidak pernah tidur. Dia-lah yang mengatur semua ini. Kuambil Hpku. Kubuka sms dari Bayu. Kubaca sejenak, dan membalasnya..

“Besok jam 4 sore kita ketemu di warung steak biasa. Tempat kamu dulu sering ngajak aku. Kita hanya makan dan ngobrol. Setelah itu pulang. Jangan sampai telat. Telat satu menit saja, aku akan pergi dan ga mau ketemu kamu lagi…”

bersambung

baca  cerita sebelumnya : mirna dan dosa (bayu dan masa lalu)

Entah mengapa, malam ini aku tak begitu semangat melayani nafsu para pria hidung belang. Padahal, pada akhir pekan seperti ini, kesempatanku untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin sangatlah besar. Badanku sungguh letih, sepertinya besok aku akan berlibur sejenak dari aktifitas busuk-ku ini. Aku menelepon ibuku dan memintanya untuk menghubungi Mbah Karti, tukang pijat urat langgananku. Pijatan Mbah Karti sangat nyaman, tidak terasa sakit. Tangannya yang sudah terlihat keriput masih lihai dan bertenaga. Pijatannya mampu membuat badanku terasa segar dan menghilangkan stres dan penat di kepalaku. Tetapi sesungguhnya, bukan itu alasan utamaku ingin segera pulang dan menyudahi pekerjaanku malam ini. Perasaanku tidak enak, entahlah. Seperti ada sesuatu yang buruk yang hendak menimpaku. Aku tak ingin terlalu lama berandai-andai. Untuk itu, malam ini aku hanya melayani lima orang saja. Biasanya, ketika akhir pekan seperti sekarang, aku sanggup melayani sepuluh orang pria dan membawa pulang uang dalam jumlah yang banyak. Apalagi jika ada yang memintaku untuk menemani tidur di hotel. Long time service. Tarifku bisa jauh lebih mahal lagi. Untuk menemani tidur, aku meminta bayaran satu juta rupiah. Tidak termasuk biaya hotel. Tapi khusus malam ini, lima orang saja sudah cukup. Memang, banyak yang kecewa, terutama bagi yang memintaku untuk menemani mereka tidur di hotel. Aku menolaknya dengan alasan tidak enak badan.

**

Aku masuk kedalam kamar setelah sebelumnya duduk di teras depan losmen. Kututup pintu kamarku, kubersihkan riasan tebal di mukaku. Aku tidak mandi, nanti saja di rumah pikirku. Segera ku bereskan barang-barang bawaanku, tissue, kondom dan alat-alat make up yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi.

“Mir, Mirna. Kamu lagi ngapain? Kok pintu kamar di tutup. Ini ada yang nyariin kamu, cowok ganteng lho. Ayo, buruan keluar…!” Terdengar suara mami Sarah memanggilku dari luar kamar. Ia tidak tahu kalau aku akan pulang lebih cepat dari biasanya. Dia pasti akan bertanya-tanya.

“Sebentar mi, aku lagi beres-beres. Aku mau pulang mi, gak nerima tamu lagi. Mas-nya suruh balik besok lagi aja. Aku gak enak badan..!” Aku menjawab panggilan mami Sarah dengan setengah berteriak.

“Loh, koe ngopo kok pengen pulang? Iki isih ono sing ngantri mir. Piye to koe nduk?” Benar dugaanku, mami pasti akan bertanya-tanya. Dia pasti akan kecewa, karena malam ini begitu ramai, dan aku adalah anak kesayangannya, karena aku-lah yang akan memberinya pemasukan paling banyak dibandingkan anak-anaknya yang lain.

“Aku ga enak badan mi, sepertinya mau sakit.”

Tidak ada jawaban lagi dari mami Sarah. Mungkin dia telah menyuruh pria tadi untuk mencari perempuan yang lain. Aku sedikit tidak enak dengan mami Sarah. Ah, tapi sudahlah, tak perlu aku memikirkannya. Aku lalu melanjutkan pekerjaan membereskan barang-barang bawaanku yang tadi sempat tertunda karena mami Sarah memanggilku. Baru saja hendak memasukkan barang yang terakhir ke dalam tas, mami Sarah kembali mengetuk pintu kamarku.

“Mir, coba kamu keluar dulu, ini liat cowoknya dulu. Kamu pasti suka. Aku udah di kasih duit Mir..” Mami sarah mencoba merayuku.

Aku mangkel, aku jengkel. Aku tak suka di paksa-paksa. Mami Sarah seharusnya sudah tahu hal itu. Ia sudah mengenalku cukup lama. Kalau aku sudah bilang tidak, itu artinya aku tidak mau. Apapun alasannya aku tak akan pernah mau. Begitulah aku. Tapi ku buka juga pintu kamarku.

“Mamiiii…Aku kan udah bilang aku gak ma…” Suaraku terhenti oleh sesosok pria yang berdiri di hadapanku. Mami Sarah tersenyum, dan kemudian berlalu.

Pria ini sangat ganteng, wajahnya hampir mirip dengan Tora Sudiro, hanya saja badannya tidak sekekar Artis komedi yang badannya penuh dengan tatto tersebut. Kulitnya putih, badannya tinggi. Penampilannya sungguh rapi, penampilan khas eksekutif muda. Memakai kemeja lengan panjang yang di padukan dengan celana hitam berbahan kain. Sepatunya terbuat dari kulit dan bermerek. Di lengan kirinya terdapat sebuah jam berwarna silver dengan motif emas buatan Swiss. Tangan kanannya memegang sebuah ponsel terbaru dan canggih. Ponsel berlambang buah apel. Badannya sungguh wangi, bukan farfum murahan pastinya. Aku sungguh yakin, tidak ada satu perempuanpun yang mampu menolaknya. Setiap perempuan pasti akan bertekuk lutut di hadapannya. Dia tersenyum melihatku. Senyuman yang sangat indah, senyuman yang selama ini aku rindukan. Senyuman yang selama ini telah hilang dari hidupku.

“Aku sudah tidak terima tamu lagi, aku mau pulang. Aku sedang tidak enak badan.” Aku berkata kepada pria itu. Suaraku menjadi parau, berat dan bergetar. Ada air mata yang sedang berlomba untuk segera keluar dari pelupuk mataku. Tapi aku menahannya.

“Aku hanya ingin bicara Mir…” Jawab pria itu sambil tersenyum.

“Mau bicara apa? Aku tak punya waktu..” Jawabku ketus.

“Sebentar saja Mir, 10 menit saja. Aku mau bicara tentang kita Mir..”

Aku terdiam sejenak, dadaku langsung terasa sesak. Inikah hal yang aku takutkan terjadi? Inikah yang sejak tadi membuat perasaanku tidak enak? Air mata yang sedari tadi memang memaksa ingin keluar semakin mendesak mataku untuk memberi jalan keluar. Tapi otakku masih memerintahkan untuk tidak memberikan jalan dahulu. Aku harus bisa menahannya.

“Masuk..!” kataku. Kupersilakan pria itu untuk masuk ke kamarku, kamar sempit dan kotor. Hanya ada kipas angin kecil, sebuah cermin yang kacanya sudah retak dan kasur kecil berbahan kapuk yang sangat jauh dari nyaman.

Pria itupun masuk kedalam kamar yang di sekat menggunakan triplex. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri, matanya memperhatikan kondisi kamar tempat para pria hidung belang melampiaskan nafsunya padaku. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak pernah memasuki tempat seperti ini. Aku maklum, aku sungguh maklum. Bagi pria seperti dia, masuk ke tempat seperti ini mungkin menjadi hal yang sangat tabu dan menjijikkan.

“Ada apa? Gak suka ya sama kamarnya? Kalau gak suka ya silakan pergi..!” Ujarku.

“Enggak kok..” Jawabnya.

Kuperhatikan jam tanganku, kuperlihatkan padanya.

“Ini udah jam 1.30. Berarti waktumu untuk bicara hanya sampai jam 1.40..” Dia hanya meminta 10 menit, dan aku memberinya 10 menit.

Dia terdiam dan tersenyum. Matanya fokus melihat wajahku. Tidak berpaling sedetikpun. Tatapan matanya sunguh tajam, namun menyejukkan. Hanya dengan menatap saja, perempuan manapun pasti akan terlena, takjub dengan kegantengannya. Begitu pula aku, tatapan mata ini yang pernah membuatku merasa bahwa Tuhan hanya menciptakan satu orang pria saja. Dan itu adalah dia, Pria yang sekarang sedang berada di hadapanku.

“Ayo buruan ngomong..! Jangan diem aja. waktumu jalan terus, tinggal 8 menit!!” Aku memaksanya untuk berbicara, tak tahan rasanya melihat tatapannya. Jantung ini berdegup kencang. Air mata ini sudah tak terbendung lagi. Tapi aku harus kuat, setidaknya harus terlihat kuat di hadapan pria ini.

“Aku mau minta maaf Mir..”

“Minta maaf buat apa?”

“Buat semuanya. Aku salah Mir, aku salah karena telah membuatmu jadi seperti ini.”

“Heh!!! Jangan salah ya, aku jadi seperti ini bukan karena kamu!!! Aku jadi seperti ini karena mungkin takdirku memang seperti ini!” Aku tak mampu menahan emosiku. Sekali lagi, aku tak ingin terlihat rapuh di hadapan pria ini.

“Maafkan aku dan keluargaku ya Mir. Aku masih sayang kamu. Perasaanku masih seperti dulu..” Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Pergi kamu!!! Keluar, aku gak butuh kamu..!!!” Kulepas genggaman tangannya. Air mata yang telah lama menunggu untuk keluar akhirnya berhasil keluar beramai-ramai. Aku tak tahan lagi. Aku tak bisa berpura-pura.

“Tapi Mir…”

“Pergi!!!!” Ku bukakan pintu kamar, kutarik tangannya dan kusuruh ia untuk segera pergi dari kamarku.

Dia terlihat enggan, wajahnya seperti ingin mengatakan bahwa ia masih ingin berbicara denganku. Ia mencoba menahan tanganku dan hendak memeluk tubuhku. Tapi segera kutepis tangannya dan ku dorong tubuhnya keluar.

“Aku sayang kamu Mir…” Suranya masih terdengar.

Kututup pintu kamarku dengan kencang. Aku jongkok di sudut kamarku. Air mataku tak henti-hentinya membasahi pipi. Aku tak percaya, aku tak percaya dia datang lagi. Aku sedih, aku terpukul. Aku malu karena dia menemukanku dengan kondisi yang sangat menjijikkan. Aku malu karena sekarang aku bukanlah Mirna yang dulu. Aku yang sekarang adalah seorang pelacur. Perempuan murahan yang merelakan tubuhnya untuk di tukar dengan uang. Aku adalah perempuan najis. Perempuan yang berlumur dosa. Tubuhku penuh dengan cairan kotor dari puluhan pria-pria bangsat. Aku tak henti-hentinya menangis sampai mami Sarah membuka pintu kamar yang memang tidak ku kunci. Ia memelukku dengan erat. Aku-pun menangis di pelukannya. Jemari tangannya membelai rambutku dengan lembut. Aku sedikit tenang dan nyaman. Mami Sarah memang tempatku menyurahkan segala isi hati. Dia adalah seorang pendengar yang baik. Dia juga sering memberikan nasihat, walaupun terkadang nasihat yang ia berikan berbeda jauh dengan yang ia lakukan sendiri dalam kehidupannya.

**

Aku sudah sedikit tenang. Air mataku sudah tidak menetes seperti tadi lagi. Mami Sarah merangkulku dan mengajakku duduk di kasur kecil dalam kamarku. Ia memberiku segelas air putih yang memang telah ia siapkan untuk diriku sejak tadi.

“Minum dulu Mir..” ujarnya.

Kuambil gelas yang berisi air putih dari genggamannya. Kuminum perlahan. Aku masih terdiam, aku masih shock dengan kejadian tadi. Mami Sarah seperti mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku. Dia memang telah mengetahui segalanya tentang aku. Termasuk masa laluku.

“Itu yang namanya Bayu Mir?” Mami Sarah bertanya padaku.

“Iya mi..” jawabku singkat.

“Ya sudah. Kamu sekarang pulang saja. Istirahat Mir. Tenangin pikiranmu dulu. Nanti kamu sakit lagi. Mau mami anter gak?”

“Gak usah mi, aku pulang sendiri aja. Makasi ya mi..” Kupeluk tubuh mami Sarah..

Mami Sarah memang bijaksana. Dia memang seorang mucikari, namun pada saat-saat seperti ini, dia menjadi sosok ibu bagiku. Dia sungguh perhatian padaku. Dan itu tulus, aku bisa melihat dari matanya. Aku berjalan meninggalkan gang kupu-kupu menuju ke tempat parkir stasiun tugu. Tempatku menitipkan sepeda motorku. Sepanjang perjalanan, pikiranku terganggu oleh sosok Bayu. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Aku tidak menyempatkan diriku untuk menengok Njas seperti biasanya. Maaf Njas, untuk malam ini Ibu tidak memberikan kecupan selamat tidur di keningmu. Ibu takut air mata ibu akan menetes di pipimu, dan membuatmu terbangun.

**

Kurebahkan tubuhku di atas kasur, tetapi bukan untuk tidur. Padahal aku sangat ingin tertidur dan melupakan kejadian malam ini. Tapi pikiranku menolaknya. Bayu, sudah hampir 7 tahun aku tak melihatnya. Bayu adalah mantan pacarku. Pria yang sangat kucintai. Dia adalah anak seorang anggota DPR. Anak dari keluarga kaya. Kami berpacaran selama hampir 2 tahun. Orang tuanya tidak setuju dengan hubungan yang kami jalani. Seperti kisah sinetron klasik. Tapi memang seperti itulah keadaannya. Aku hanyalah seorang anak penjual nasi pecel keliling yang sangat miskin. Berbeda dengan keluarganya, yang merupakan keluarga terpandang. Ayah Bayu adalah seorang pengusaha pertambangan dan merupakan seorang tokoh politik nasional yang terpandang. Sudah tiga periode menjadi anggota DPR hingga saat ini.

Aku dan Bayu memang menjalani hubungan secara “backstreet”. Pernah suatu saat Bayu mengajakku kerumahnya untuk di kenalkan dengan orang tuanya. Tetapi sambutan orang tuanya kepadaku sungguh tidak seperti yang aku harapkan. Ibunya mengusirku dan memaki-maki aku. Aku di sebutnya perempuan murahan, perempuan miskin yang tidak tahu diri. Aku hanya perempuan yang ingin menguasai harta keluarga mereka. Aku tak pantas untuk Bayu, anak satu-satunya dan merupakan pewaris tunggal dari kekayaan orang tuanya. Aku di usir dengan kasar, dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku di sana. Benar-benar mirip kisah sinetron.

Aku sungguh terpukul dengan perkataan orang tua Bayu. Aku sama sekali tidak mengincar harta Bayu. Aku tulus mencintainya. Bayu-pun tahu hal tersebut. Setelah kejadian itu, aku meminta Bayu untuk mengakhiri hubungan kami. Benar kata orang tua Bayu. Aku tak pantas untuknya. Aku hanya perempuan miskin anak seorang penjual nasi pecel keliling. Aku hanya orang kampung yang hina. Tetapi pada saat itu, Bayu meyakinkanku bahwa suatu saat orang tuanya akan menerimaku. Bayu tak ingin berpisah denganku, dia sangat mencintaiku. Dan sejak saat itulah kami menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi. Sungguh sangat menyakitkan. Apalagi orang tua Bayu menyewa orang untuk mengawasiku. Aku seperti seorang penjahat yang segala gerak-geriknya di awasi. Tapi kecintaanku dan janji yang pernah di ucapkan Bayu bahwa ia tak akan meninggalkankulah yang membuatku bertahan. Sampai suatu saat, kejadian buruk itu menimpaku.

**

Ah, aku jadi teringat pristiwa busuk itu lagi. Pristiwa yang membuatku sempat membenci dan tidak menerima kehadiran Njas, buah hatiku. Malam itu, aku di mintai pertolongan oleh ibu untuk meminjam uang dari yu’ Sinem. Salah seorang teman ibuku. Ibu saat itu sedang sakit, dan tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli obat. Yu’ Sinem adalah orang yang sangat baik. Ia selalu memberikan ibuku pinjaman apabila ibuku sedang membutuhkan uang. Bahkan ia tak pernah menagihnya sama sekali. Tetapi ketika telah mempunyai uang, ibuku selalu membayarnya.

“Utang itu harus di bayar, jangan di bawa sampai mati..” Kata ibuku suatu saat.

Akupun segera pergi menuju rumah Yu’ Sinem dengan menggunakan sepeda tua, satu-satunya harta peninggalan dari ayahku. Rumah Yu’ Sinem dengan rumahku cukup jauh jaraknya. Beda kampung. Kampungku berada persis di belakang kompleks perumahan mewah tempat Bayu dan keluarganya tinggal. Jalan yang di lalui pun sangat sepi dan rawan, apalagi ketika malam. Ibuku sebenarnya menyuruhku untuk meminta tolong kang Juned untuk mengantarkanku. Kang Juned adalah tetangga kami, seorang tukang ojek. Tetapi aku menolaknya, aku tak ingin merepotkan orang lain. Dan berangkatlah aku menuju rumah Yu’ Sinem dengan mengendarai sepeda. Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanya bentangan sawah. Sangat jarang kendaraan melewati jalan ini, bisa di hitung dengan jari saja. Kukayuh sepedaku dengan kencang, berharap aku segera sampai kerumah Yu’ Sinem. Apalagi pada waktu itu perasaanku sungguh tidak enak, ada sebuah mobil di belakangku seperti sedang mengikutiku. Semakin kencang ku kayuh sepedaku, semakin kencang pula mobil itu mendekatiku. Dan terjadilah peristiwa itu. Mobil itu menyerempetku hingga aku terjatuh. Setelah itu, turunlah 6 orang pria berbadan kekar dan berambut cepak. Mereka memukul wajahku. Aku di angkut ke dalam mobil mereka. Mulutku di sumpal dengan kain dan tanganku diikat. Aku sungguh tak berdaya ketika mereka melucuti satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku. Aku mencoba berontak, namun mereka kembali menghajarku dengan keras. Mataku di tutup agar aku tak melihat wajah mereka. Mereka lalu menggagahiku satu persatu secara bergantian. Sakit sekali rasanya, aku merasa ada darah yang mengalir dari kemaluanku. Perawan yang aku jaga selama ini harus terenggut paksa oleh 6 orang pria biadab.Setelah puas melampiaskan nafsu bejad mereka, aku lalu di keluarkan dari mobil begitu saja. Badanku sungguh lemas tak berdaya. Akupun tak sadarkan diri.

**

Ketika sadar, aku sudah berada di sebuah rumah sakit. Entah siapa yang mengantarku malam itu. Aku sungguh ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih, atau mungkin mencacinya. Karena pada saat itu, aku lebih memilih untuk mati saja. Kabar tentang pristiwa kelam itu sangat cepat menyebar di kampungkudan terdengar oleh Bayu dan keluarganya. Keluarga Bayu pun mempunyai alasan baru untuk semakin menghinaku. Mereka semakin bersemangat untuk memisahkan Bayu dariku. Mereka sepertinya sudah tahu bahwa aku dan Bayu masih sering bertemu secara sembunyi-sembunyi. Mungkin mereka mengetahui hal tersebut dari orang-orang yang mereka sewa untuk mengawasiku. Sejak kejadian itu, Bayu tak pernah menemuiku lagi. Ia mengingkari janjinya untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi. Aku menjadi depresi dan terluka. Begitu pula ibuku. Ia sungguh tak tahan dengan omongan para tetangga di kampungku yang sering mencibir kami. Ibu-pun memutuskan untuk pindah dari kampung tersebut. Ibu menjual rumah kecil harta warisan dari orang tua ibuku. Uang hasil menjual rumah sebagian digunakan untuk membayar rumah sakit. Sebagian lagi di tabung dan di gunakan untuk sewa rumah kontrakan kami yang baru, tempat tinggal kami sekarang. Rumah kontrakan kami yang sekarang jaraknya sangat jauh dari kampungku dulu. Ibu memang sengaja memilih daerah yang jauh dari tempat tinggal kami yang dulu. Sempat terpikir untuk meninggalkan Jogjakarta, tapi Ibu tak tahu hendak kemana. Tidak ada keluarga yang sudi menampung kami.

**

Dan disinilah aku sekarang, dan beginilah aku sekarang. Tujuh tahun sudah Bayu, kemana saja kamu? Disaat aku butuh seseorang untuk melindungiku, di saat aku membutuhkan seseorang untuk mencintaiku, kamu menghilang begitu saja. Kamu mengingkari janjimu Bayu, kamu meninggalkanku justru di saat aku benar-benar membutuhkanmu. Dan sekarang kamu kembali, begitu mudah kata maaf keluar dari mulutmu. Begitu mudahnya kau buka pintu luka yang telah lama kututup rapat-rapat.

**

Ayam jantan sudah memulai aktifitasnya. Mataku sudah tidak kuat lagi. Seperti ada jutaan badak yang berdiri diatasnya. Air mataku sepertinya sudah tidak memaksa lagi untuk keluar, mungkin sudah capai.

bersambung

baca cerita sebelumnya : mirna dan dosa (gang kupu-kupu)

Hari ini aku hanya melayani tiga orang pelanggan saja, termasuk om Jerry. Badanku masih terasa letih, aku tak ingin terlalu memaksakannya. Apalagi, malam ini aku masih harus melayani para pria hidung belang lainnya. Om Jerry tidak menempati janjinya untuk kembali datang. Ia meneleponku dan mengatakan bahwa kesibukkan menghalanginya untuk datang menjemputku dan mengajakku makan seperti biasa. Aku sedikit kecewa, tapi aku tak terlalu memikirkannya. Kejadian yang menimpa Emak sedikit banyak memberiku pelajaran. Aku menjadi  bersikap hati-hati terhadap para lelaki yang mencoba merayuku, dan berkata cinta padaku. Om Jerry tentu berbeda dengan pria asal Kalimantan yang telah meninggalkan emak begitu saja. Aku yakin om Jerry adalah seorang yang jujur dan tulus. Atau mungkin saja aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya, sehingga membuatku begitu yakin terhadapnya.

Jarum jam di dinding kamar kecil tempat aku melayani nafsu pria-pria busuk itu sudah menuju ke angka delapan. Itu artinya aku harus bergegas. Kulangkahkan kakiku menuju lantai atas, tempat menjemur pakaian. Kuambil sebuah handuk berwarna merah muda dengan motif hati. Handuk ini juga merupakan pemberian dari om Jerry. Aku suka menggunakan handuk ini, kainnya sungguh lembut dan tebal. Bukan handuk murahan pastinya. Sebelum meninggalkan salon, aku selalu mandi agar nanti di tempat kerjaku selanjutnya, badanku kembali segar dan wangi. Aku termasuk tipe perempuan yang suka berlama-lama di kamar mandi, bagiku, mandi adalah sebuah ritual penting. Dimana aku dapat membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel di tubuhku. Daki-daki dari bermacam-macam pria hidung belang yang keringatnya telah bercampur dengan keringatku. Apalagi tadi, ada salah seorang pelanggan yang mungkin sangat terobsesi dengan film porno. Dia menumpahkan spermanya di atas dadaku. Aku sungguh jijik, tapi apa daya, dia telah membayarku dan dia bebas melakukan apapun yang dia mau. Kugosok bagian dadaku berulang kali dengan sabun, kemudian kubilas dengan air. Jari-jari lentikku bermain-main di antara lekukkan payudaraku yang masih terlihat kencang. Bagian tubuhku yang paling diminati oleh pria-pria hidung belang. Putingku terasa sedikit perih ketika aliran air jatuh di atasnya, sepertinya salah seorang pelangganku tadi menggigit puting payudaraku yang mungil ini. Sialan, orang itu benar-benar maniak.

**

Selesai mandi, kulanjutkan ritual mempercantik diri dengan memberi riasan pada wajahku. Aku memberi warna merah pada bibir tipisku. Kuganti pakaianku dengan yang lebih seksi. Kaos ketat berwarna putih, dengan bra hitam di dalamnya. Sengaja kuperlihatkan belahan dada dan pusarku, agar semakin menggoda nantinya. Kaos ketat berwarna putih itu kupadukan dengan rok mini berwarna hitam dan celana dalam yang tipis. Sempurna sudah aku menjadi badut malam ini. Aku bahkan  menggunakan farfum yang wanginya dapat tercium dari jarak 5 meter.

Wajah emak masih ceria, uang yang ia dapat hari ini sangat banyak. Dia sedikit acuh ketika aku pamit untuk pulang. Tangannya yang tak lagi halus terlihat lihai menghitung keuntungan hari ini. Aku tersenyuim melihatnya. Wajahnya sungguh berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasa ketika salon sedang sepi. Kunyalakan sepeda motor mio berwarna merah muda. Kendaraan yang menemaniku sehari-hari. Kuberi pak Parjo uang secukupnya. Ia menolaknya, tetapi aku memaksa. Ia-pun menerimanya sambil tersenyum.

“Makasi mba, semoga rejekinya makin lancar..” Pak Parjo memberiku do’a.

“Amin, sama-sama pak. Bapak juga ya, semoga rejekinya lancar..” Jawabku.

Sungguh baik orang tua ini, batinku dalam hati. Akupun melaju menuju pusat keramaian kota Jogja. Sepanjang jalan aku mengalami kemacetan, pemandangan yang lazim terlihat ketika malam minggu tiba. Muda-mudi yang kasmaran, anak-anak ABG yang sedang mencari jati dirinya, mahasiswa-mahasiswa kaya dengan dandanan mentereng dan mobil yang mewah, rombongan keluarga yang sedang menikmati liburan akhir pekan, semua berkumpul jadi satu di jalan raya. Banyak pria yang memperhatikanku. Mata mereka tertuju pada payudara dan rok mini-ku yang sesekali terbuka karena tertiup angin sehingga celana dalamku terlihat. Pernah sekali waktu, ada kejadian yang menggelikan. Seorang bapak-bapak tua terjatuh dan menabrak tiang lampu yang terdapat pada trotoar pembatas jalan. Posisi bapak tersebut persis di sebelahku. Sebelumnya, ia memang terus-terusan memperhatikanku, matanya terus tertuju padaku. Mungkin konsentrasinya menjadi hilang, dan secara tidak sadar, sepeda motornya berbelok arah dan menabrak tiang lampu tersebut. Aku selalu tersenyum setiap kali mengingat kejadian tersebut. Aku sedikit merasa berdosa.

**

Perjalananku dari salon menuju tempat kerjaku selanjutnya memakan waktu sekitar 20 menit. Cukup lama, biasanya hanya membutuhkan 10 menit saja. Kuparkir sepeda motorku di tempat parkir stasiun Tugu Yogyakarta yang terkenal itu. Lalu aku berjalan menuju sebuah gang sempit. Gang berlambang kupu-kupu. Disini-lah aku bekerja setiap malam. Disini jua-lah emak dulu menjajakan tubuhnya pada pria-pria hidung belang. Gang berlambang kupu-kupu ini adalah sebuah kawasan lokalisasi prostitusi yang sangat terkenal di Yogyakarta, bahkan di Indonesia. Sarkem namanya. Singkatan dari pasar kembang, nama jalan tempat gang ini berada. Lokasi gang ini tepat di belakang jalan Malioboro yang tersohor itu. Maka tidak heran, setiap akhir pekan, selain Malioboro, Sarkem merupakan salah satu tujuan wisata di kota Jogja. Gang sempit ini sebenarnya adalah pemukiman warga, namun setiap malam rumah-rumah kecil tersebut di sulap menjadi losmen-losmen yang menyediakan penjaja tubuh seperti aku ini. Aku tidak pernah tahu pasti sejak kapan daerah ini berubah menjadi daerah lokalisasi prostitusi. Gang ini berbentuk seperti labirin. Banyak terdapat belokan-belokan kecil yang saling terhubung satu dan lainnya. Di sepanjang jalan, banyak perempuan-perempuan seperti aku berdiri atau sekedar duduk berjajar dan kemudian menggoda setiap pria yang lewat. Mulai dari usia sekolahan, hingga ibu-ibu tua dan keriput ada disini. Tarif perempuan penjaja tubuh disini bermacam-macam, tergantung usia, wajah dan tubuh mereka masing-masing. Tarif berkisar antara 50 ribu hingga 120 ribu rupiah sekali main. Itu sudah termasuk menyewa kamar losmen yang memang sudah disediakan. Sistimnya mirip dengan salon, namun pemilik losmen hanya mendapatkan bagian 25% setiap transaksi. Berbeda dengan emak Ros yang meminta bagian sebesar 50%. Tarifku adalah 120 ribu untuk satu kali main. Tarif termahal di tempat ini, walaupun sangat murah apabila di bandingkan dengan tarifku di salon emak Ros. Aku adalah primadona tempat ini. Aku adalah perempuan yang paling di minati. Mungkin karena bentuk tubuhku yang proporsional dan di imbangi dengan parasku yang cantik. Tetapi tidak hanya itu, ada yang bilang kalau goyangan-ku di ranjang-lah yang membuat mereka ketagihan. Aku tak begitu peduli dengan semua itu. Yang aku butuhkan hanyalah uang mereka, dan aku memberikan kenikmatan kepada mereka. Pria hidung belang yang berkunjung ke lokalisasi ini jauh lebih banyak di bandingkan dengan salon. Jenisnya-pun lebih beragam. Kalau di salon, pelanggan yang datang biasanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Mahasiswa kaya, pejabat, anggota DPRD dan lain-lain. Di Sarkem, pelanggan yang datang lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mahasiswa kere, anak-anak ABG, Satpam dan lain-lain. Tetapi setiap malam minggu dan libur panjang, lokalisasi ini di penuhi pelancong dari luar kota yang kebetulan berlibur ke Malioboro dan mampir ke Sarkem. Untuk itu-lah, setiap malam minggu, aku berdandan jauh lebih seksi di banding malam-malam biasanya. Tarifku-pun naik, setiap malam minggu, tarifku menjadi 150 ribu sekali main.

**

“Wah, kok baru dateng Mir? Udah banyak yang nunggu kamu tuh. Udah banyak yang ngantri..” Mami Sarah menyambutku dengan pertanyaan yang hari ini sudah dua kali kudengar.

“Macet mi..” Jawabku singkat.

Mami Sarah adalah pemilik Losmen Cinta, losmen yang paling terkenal di lokalisasi ini. Losmen yang terkenal dengan perempuan-perempuan muda yang cantik dan seksi. Tarif perempuan-perempuan penjaja tubuh di losmen ini lebih mahal di bandingkan losmen-losmen lainnya yang terdapat di gang sempit, kumuh dan bau ini. Tetapi losmen ini selalu ramai di kunjungi. Dan aku-lah primadona losmen ini. Benar kata mami Sarah, tak berapa lama, sudah ada pelanggan yang mendekatiku. Kalau di lihat dari gayanya berpakaian, dia adalah seorang mahasiswa, pengunjung terbanyak lokalisasi ini. Aku pura-pura acuh tak acuh. Berbeda dengan perempuan lain penghuni lokalisasi ini, aku tak pernah menggoda pria yang lalu lalang di hadapanku. Aku tak perlu melakukan itu semua, mereka-lah yang mendatangiku.

“Berapa-an mba?..” Ia menanyakan hargaku.

“150 ribu mas, seperti biasa..” Jawabku.

Ia mengangguk, tanda setuju. Tidak menawar sama sekali. Mungkin dia memang telah menantiku, atau sudah terbius dengan kemolekkan tubuhku.

Aku menggandeng tangannya dengan mesra. Kuajak ia menuju kamar tempat aku “praktek”. Kulepas pakaianku satu-persatu hingga tak ada sehelai benang-pun yang menempel di tubuhku. Pria itu-pun bergegas melucuti pakaiannya, dia terlihat sudah tidak tahan. Kuambil kondom yang memang sudah di sediakan oleh losmen. Kupasangkan kondom beraroma buah stroberi kedalam penisnya yang sudah tegang. Segera kusuruh ia untuk menindihku. Tidak ada pemanasan sebelum melakukan hubungan seksual. Aku tak ingin berlama-lama dengan satu orang pelanggan. Kecuali ia memberiku uang tambahan.

Lima menit berlalu. Kembali kubersihkan bagian paling sensitif dari tubuhku. Kurapikan bajuku, dan aku menunggu, menunggu malam berlalu….

Bersambung…..

baca cerita sebelumnya : mirna dan dosa (emak ros)

Sekarang hari Sabtu, dan awal bulan. Salon pasti sangat ramai. Banyak pria-pria hidung belang yang baru menerima gaji dan menghamburkan sebagian gaji mereka untuk kepuasan nafsu birahinya. Salon ini memang sudah terkenal seantero Jogja, mulai dari pejabat, pegawai negeri sampai mahasiswa pernah berkunjung ke salon ini. Namun aku lebih memilih melayani pejabat dan pria-pria paruh baya, disamping mempunyai banyak uang, biasanya mereka tidak terlalu banyak maunya. Beda dengan mahasiswa, selain selalu menawar dan banyak maunya, aku juga merasa kasihan dengan mereka. Menggunakan sebagian uang makan-nya hanya untuk kenikmatan sesaat. Pernah sekali waktu aku mendapatkan seorang pelanggan dari kalangan mahasiswa. Orangnya lumayan ganteng, berkulit putih dan terlihat glamor. Sebelum ke tahap berikutnya, biasanya aku melakukan pijatan kepada para pelanggan, karena memang, sesungguhnya pelayanan yang di tawarkan adalah pelayanan pijat. Selanjutnya, pintar-pintar kita untuk merayu pelanggan agar mau mengeluarkan uangnya lagi untuk pelayanan “plus-plus”. Aku sendiri tak pandai memijat, bahkan tidak bisa memijat sama sekali. Sesungguhnya yang kulakukan itu bukanlah pijatan, melainkan sentuhan-sentuhan halus yang dapat membangkitkan syahwat para pria tersebut. Mulai dari punggung, pantat hingga selangkangan mereka. Bahkan tidak segan-segan aku menyentuh bagian paling sensitif dari tubuh pria, yaitu penisnya. Aku yakin sentuhan-sentuhan itu akan membuat mereka penasaran, sehingga menginginkan yang lebih daripada sekedar pijat. Mahasiswa itu terlihat sangat menikmati pijatan lembut yang kuberikan. Sesekalitangannya yang jahil ingin meraba payudaraku yang memang sengaja agak ku tonjolkan. Tetapi segera kutepis tangannya.

“ Kalau untuk yang itu, ada biaya tambahannya mas..” Ujarku.

“ Kalau main berapa mba? ” Dengan muka penasaran, ia bertanya.

“ 300 ribu mas, sudah ama pijet..”

“ Wah kok mahal mba? Gak bisa kurang po? ” Dia coba menawar.

“ Gak bisa mas, emang segitu harganya mas. Kalau pijit saja cuma 50ribu mas…”

“ 250 ya mba? Duit saya pas-pasan nih..”

Wah, duit pas-pasan kok kesini, gumamku dalam hati. Tapi akhirnya aku mengalah juga, tak tega kulihat raut mukanya yang menahan hasratmenggebu. Didit namanya. Seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta kenamaan di Jogja. Awalnya aku heran, mengapa orang seganteng dia datang ke tempat seperti ini, logikanya, dia pasti telah memiliki seorang pacar. Dan memang benar, dia telah memiliki seorang pacar, teman sekampusnya. Ketika ku tanyakan mengapa ia tetap datang ke tempat seperti ini, jawabannya sungguh klasik,

“ pacar saya goyangannya kurang hot mba…” aku tersenyum mendengarnya.

Tapi segera  kutepis jauh-jauh simpatiku terhadap pria muda ini, yang kubutuhkan adalah uangnya, aku tak perduli lagi dengan hal lainnya. Dan sejak saat itu, aku menjadi malas melayani pelanggan dari kalangan mahasiswa lagi.

**

Emak terlihat sangat girang, pemandangan yang memang biasa terlihat setiap akhir pekan. Apalagi pada tanggal muda seperti sekarang, dompetnya akan semakin tebal. Dia mendapat bagian 50 % dari setiap tamu yang datang. Tapi itu khusus untuk pegawai freelance seperti aku, pegawai yang melayani pijat “plus-plus”. Untuk kapster biasa, emak menerapkan sistem gaji. Rosalia Dewi, nama yang dia berikan untuk dirinya sendiri. Menurut cerita yang aku dengar, nama aslinya adalah Siti Rohimah. Tidak perlu aku sebutkan alasan mengapa ia mengganti namanya menjadi Rosalia Dewi. Tetapi kami disini memanggilnya dengan sebutan “emak”, di samping sudah agak tua, di salon ini dia memang berperan sebagai ibu dari kami semua. Kalau di tempat prostitusi yang berkelas, sebutannya mungkin mami. Sempat terlintas untuk memanggilnya mami, tapi ia tidak suka, panggil emak saja katanya. Emak sering bercerita kepadaku, bahwa dulu sewaktu ia muda, ia sangat di sukai oleh para lelaki hidung belang. Bahkan nona Ros, begitu julukannya dulu, sangat terkenal seantero Jogja. Tidak ada pria yang tidak kenal namanya. Dulu, masih menurut pengakuannya, wajahnya sungguh cantik, tubuhnya begitu indah. Tinggi semampai, proporsional dan montok. Dalam waktu semalam, dia bisa menghasilkan uang jutaan dari melayani para lelaki hidung belang. Duit sejuta pada masa itu sangatlah besar nilainya. Setiap malam, para lelaki hidung belang antri untuk menikmati kenikmatan yang di tawarkan oleh tubuhnya yang elok. Aku tertunduk diam setiap mendengar dirinya menceritakan masa-masa jayanya dulu sebagai seorang wanita pemuas nafsu. Mengapa dia menceritakan hal itu dengan penuh semangat, sepertinya dia bangga karena dulu tubuhnya sangat ingin di nikmati oleh para lelaki hidung belang. Sangat berbeda jauh dengan diriku, sebisa mungkin aku harus menutup-nutupi pekerjaanku sebagai seorang wanita pemuas nafsu. Tak terbayangkan apabila ibuku dan anak-ku yang masih kecil mengetahui profesiku yang sebenarnya. Hati mereka pasti hancur, pun juga hatiku. Ah tapi biarlah, setiap orang memang berbeda-beda dalam menyikapi hidup.

Emak juga pernah cerita, bahwa dulu ia pernah berhenti bekerja sebagai perempuan pemuas nafsu. Hal itu dikarenakan kehadiran seorang pria yang mampu meluluhkan hatinya. Pria ini dulunya adalah salah seorang pelanggan setia emak. Dalam sebulan, pria itu bisa memakai jasa emak sebanyak 5 kali. Emak jatuh cinta, lalu mau saja ketika pria itu mengajaknya menikah. Pria itu mengaku kepada emak, bahwa dirinya masih bujangan dan berprofesi sebagai seorang pengusaha di bidang tekstil. Pria yang menurut cerita emak berasal dari daerah Kalimantan itu adalah tipe pria yang di idam-idamkan oleh kebanyakan perempuan. Berparas cakap dan berkulit putih. Apalagi ia mengaku sebagai seorang pengusaha, tentu masa depan akan terjamin. Mereka-pun akhirnya melangsungkan pernikahan di bawah tangan. Pernikahan siri. Sebenarnya emak menginginkan pernikahan secara resmi, tapi pria itu menjanjikan, suatu saat ia akan menikahi emak secara resmi. Emak-pun percaya. Mereka lalu mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota. Sebulan berjalan, pernikahan mereka berlangsung biasa saja, sama seperti pernikahan-pernikahan yang lainnya. Emak berhenti total dari pekerjaannya sebagai seorang perempuan pemuas nafsu pria. Saat itu, ia hanya fokus untuk memuaskan satu orang pria saja, pria yang telah menjadi suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, emak berjualan baju. Modal ia dapatkan dari tabungannya saat masih menjadi perempuan pemuas nafsu. Bulan berikutnya, pria itu berkata kepada emak, bahwa ia akan pulang ke daerahnya di Kalimantan. Pria itu berkata bahwa ia hanya pergi seminggu saja, ada urusan bisnis, setelah itu ia akan kembali lagi ke Jogja. Seminggu berlalu, sebulan berlalu, setahun berlalu dan pria itu tidak pernah kembali Tiada yang dapat emak lakukan selain menangis. Ia tak tahu kemana hendak mencari suaminya tersebut. Sampai suatu saat, emak iseng mengunjungi lokalisasi tempatnya dulu bekerja. Ketika ia datang ke tempat itu, teman-teman satu profesinya dulu melihatnya dengan sinis. Banyak diantara mereka yang saling berbisik, entah apa yang sedang mereka perbincangkan, pikir emak kala itu. Namun ada salah seorang temannya yang bernama Luna. Ia yang memberitahukan kepada emak, bahwa pria yang menjadi suaminya tersebut masih sering main ke tempat prostitusi itu. Dan dari cerita yang Luna dengar, pria itu berada di Jogja hanya untuk tugas dari kantornya di Kalimantan, bukan sebagai seorang pengusaha tekstil yang selama ini emak tahu. Di Kalimantan, pria itu telah memiliki seorang istri dan dua orang anak. . Emak terjatuh, pria yang ia sayang dan cintai , pria yang telah ia percaya selama ini ternyata telah membohonginya. Ia sudah tak percaya lagi dengan semua pria. Dirinya pun kembali bergelut di dunia hitam, dunia yang sempat membesarkan namanya. Tapi hanya berlangsung selama 2 tahun. Ia sudah semakin tua, tubuhnya menggemuk dan tidak proporsional lagi. Kulitnya tidak semulus yang dulu. Meski telah beberapa kali operasi plastik, hal tersebut tidak mampu mengembalikan kecantikkannya seperti dulu. Tarifnya turun drastis, ia tak lagi di gilai para lelaki hidung belang. Tak ada lagi pria yang antri hanya untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Diapun berhenti, dia meminjam uang di rentenir dan mendirikan sebuah salon kecantikan, tempatku bekerja saat ini. Dan hingga saat ini, dia tidak pernah menikah lagi.

**

Begitulah emak, kisah hidupnya benar-benar memilukan. Pernah sekali waktu aku bertanya, mengapa ia masih saja mendirikan usaha yang tidak halal, mengapa tidak membangun sebuah usaha yang halal saja.

“Isoku Cuma ini Mir, aku gak iso yang lain…” begitulah jawaban yang aku terima.

Emak Ros, bagaimanapun dia, adalah orang yang berjasa bagiku. Aku masih teringat ketika pertama kali ia menemukanku di sebuah pasar. Dia yang mengajakku untuk bekerja di salonnya. Awalnya aku menolak, tapi karena aku sangat membutuhkan uang, aku-pun menerima tawarannya.

Sebuah masa lalu yang menyakitkan, tapi ia berhasil melaluinya. Lihatlah dirinya sekarang, sepanjang hari ia selalu tersenyum. Wajahnya berbinar-binar, pundi-pundi uang telah menantinya. Sedangkan aku? Aku seperti robot yang terus-terusan di beri pelumas. Hanya libur ketika sedang menstruasi. Hari ini belum selesai, nanti malam, aku masih harus bekerja, bergelut dengan dosa. Demi impianku, demi ibu dan anakku.

Bersambung……

Baca cerita sebelumnya : mirna dan dosa (om jerry)

Hari ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Mataku masih terasa kaku dan perih. Aku baru tidur dua jam. Tapi hari ini aku punya janji yang harus kutepati, janji kepada orang yang paling kucintai, orang yang paling berarti dalam hidupku. Hari ini aku berjanji untuk mengantar Njas ke sekolah, sesuatu yang hampir tidak pernah bisa ku lakukan. Sebulan sejak Njas pertama kali masuk sekolah dasar,  ibuku lah yang selalu mengantar Njas ke sekolah. Tapi kali ini, aku ingin sekali-sekali mengantar Njas ke sekolah. Apalagi kemarin ia sendiri yang memintaku. Segera kurapikan tempat tidurku dan kubuka jendela kamarku. Matahari masih malu-malu, seperti seorang anak kecil yang masih lugu, ketika disapa langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung ibunya. Namun tetap menengok, tersenyum mencari perhatian, ingin diajak bermain. Matahari pagi selalu menghadirkan semangat bagiku, semangat yang sering sirna ketika malam tiba. Matahari pagi memberi suka, menyembuhkan luka yang diberikan malam. Matahari pagi datang dengan harapan, harapan akan sejuta mimpi yang terbentang. Oh begitu indahnya matahari pagi ini, aku menyesal tak dapat menyaksikannya setiap hari.

**

Kulangkahkan kakiku menuju pintu kamarku yang reot, kubuka perlahan. Kulihat ibuku sedang mengerjakan aktifitasnya sehari-hari di dapur. Ibuku memang hebat, setiap hari, sebelum matahari menyapa pagi, ia sudah terbangun. Pekerjaannya sebagai seorang penjual nasi pecel keliling memang mengharuskannya terbangun pagi-pagi sekali untuk kemudian pergi ke pasar dan membeli bahan-bahan  untuk membuat pecel. Tidak hanya itu, ia juga membeli bahan kebutuhan rumah, seperti sayur mayur dan lauk pauk. Aku sering meminta ia untuk berhenti bekerja dan istirahat saja di rumah. Toh uang dari hasilku bekerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tetapi ia tak pernah mau meninggalkan pekerjaannya tersebut. Pekerjaan yang telah ia lakukan sejak umurku 5 tahun. Sejak ayah kandungku meninggal dunia karena sakit. Ia tak pernah menikah lagi, mungkin karena cintanya kepada ayahku sungguh besar, dialah yang membesarkanku seorang diri. Menghidupiku dari berjualan nasi pecel keliling. Aku selalu kagum dengan dirinya, di usianya yang senja, ibuku sama sekali tak pernah mengeluh kecapaian. Semua dilakukannya dengan hati yang ikhlas. Sosok wanita yang tegar dan kuat. “Tumben jam segini udah bangun Mir? Masuk kerjanya masih lama kan?” Tanya ibu padaku. Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas, ia seperti keheranan melihatku terbangun sepagi ini. “Mau nganter Njas berangkat ke sekolah bu.” Jawabku singkat. “Loh, gak usah, biar ibu saja yang nganter. Kamu kan capek Mir, semalem habis ngelembur. Kamu istirahat saja, nanti kan masuk kerja lagi Mir.” Timpal ibuku, kulihat peluh mengalir deras di keningnya, dia pasti capai. “Gak apa-apa bu, biar aku saja yang nganter Njas ke sekolah. Lagipula, aku sudah janji bu sama Njas. Sini bu, aku bantu ya masaknya.” “Alah, wes gak usah Mir, nanti badan kamu bau asap. Ya sudah, sana kamu siap-siap, katanya mau nganter Njas ke sekolah. Apa kamu mau sarapan dulu? Ibu masak ikan asin dan sayur asem kesukaanmu Mir.” Seperti biasa, ibu selalu menolak ketika aku hendak membantunya memasak di dapur. “Nanti saja bu, sekalian bareng sama Njas. Njas masih tidur bu?” “Masih Mir, coba kamu bangunkan dulu. Semalem dia nungguin kamu sampai larut.” Aku beranjak dari dapur dan menuju kamar ibuku. Kulihat Njas masih tertidur pulas, rasanya tak tega membangunkannya. Wajahnya yang lucu dan lugu membuat rasa kantukku hilang seketika. Kukecup perlahan keningnya, kupandangi wajahnya yang tanpa dosa. Tanpa sadar air mataku mentes tepat di pipinya. Njas terbangun, dia seperti terkejut. Tapi kemudian tersenyum, ah senyum yang sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari matahari pagi. “Bangun Njas, ayo sekolah. Ibu yang anterin ya.” Mulutnya terbuka, ia menguap. Sepertinya ia masih mengantuk. Tetapi kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan segera memelukku. Pelukkan yang sangat hangat dan nyaman. “Mbah kemana bu? Kok ibu yang nganter Njas?” Suaranya begitu halus dan lembut, lebih lembut dari kain sutra. “Loh, kan Njas kemarin minta ibu yang anterin. Ibu juga sudah janji. Jadi, sekarang ibu yang nganter Njas ke sekolah. Ayo, sekarang mandi, terus sarapan.” “Asyik, Njas di anter Ibu…” Mukanya langsung berbinar-binar.

**

Pagi ini benar-benar menjadi berkah yang melimpah buatku. Bagaimana tidak, pagi ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku dapat mengawali hari dengan bersenda gurau bersama Njas. Kami mandi bersama, sarapan bersama dan aku dapat mengantarnya berangkat ke sekolah. Sungguh pagi yang indah.

Matahari sudah tidak malu-malu lagi, waktunya bagiku untuk berangkat kerja. Ibuku sudah tidak di rumah, ia pasti sudah berangkat keliling menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Bahkan sampai ke terminal bus. Mukaku sudah tebal dengan riasan yang menor. Wangi farfumku begitu menggoda, bajuku begitu ketat sehingga lekukan tubuhku yang kata orang proporsional ini terlihat dengan jelas. Bahkan banyak yang mengira kalau aku melakukan operasi khusus untuk mempercantik diriku. Berat badanku 50kg, dengan tinggi 170. Apalagi payudaraku memang cukup besar, ukuran 36B. Sehingga bagi sebagian besar laki-laki, terutama yang berhidung belang, aku adalah tipe perempuan yang ideal dan membangkitkan hasrat. Kadang ketika bercermin, aku melihat diriku bagai topeng monyet. Aku membenci diriku sendiri. Setelah selesai dengan urusan kecantikan, aku beranjak keluar. Kuambil kaca mata hitam dan jaket kulit hitam pemberian Oom Jerry, orang yang ku kenal di tempat kerjaku. Seorang lelaki paruh baya yang usianya sama dengan ibuku. Seorang penyayang yang baik hati. Aku begitu dekat dengan orang ini, mungkin karena sejak umurku 5 tahun, aku tak pernah lagi merasakan kasih sayang dan belai lembut seorang ayah. Oom Jerry bisa menempatkan dirinya sebagai seorang ayah bagiku. Dan aku nyaman dengan keadaan itu. Ku starter sepeda motorku, dan melaju menuju tempat kerjaku.

**

Sekitar 20 menit, aku sudah sampai di sebuah salon kecantikan untuk pria dan wanita. Disinilah aku bekerja, bukan sebagai seorang pelayan toko baju. Melainkan sebagai seorang kapster di sebuah salon kecantikan. Aku sengaja tidak memberitahukan ibuku soal pekerjaanku ini. Aku tak ingin ia tahu. Kuparkir motorku di tempat parkir khusus pegawai salon. “Selamat pagi mba Mirna..” Pak Parjo menyapaku ramah, tukang parkir sekaligus satpam salon di malam hari. “Pagi pak Parjo..” Kujawab sapaan ramahnya sambil tersenyum. Kubuka pintu salon, di dalam sudah ada “emak”, panggilan bagi wanita gemuk pemilik salon kecantikan ini. “Baru dateng Mir? Kok mukamu lesu? Kurang tidur ya?” Baru saja aku hendak melepas jaket dan helmku, emak sudah menjejali dengan pertanyaan yang menurutku tidak penting. “Iya mak, aku kurang tidur, semalem tamu rame..” Kujawab saja apa adanya, sambil berlalu menuju ke lantai atas. “Eh, tadi om Jerry nelpon ke sini, nanyain kamu udah dateng apa belum. Katanya dia udah nelpon HP kamu, tapi ga aktif..” Kata emak setengah berteriak. Aku langsung tersadar, ku periksa tasku. Ternyata benar, aku lupa membawa HP. Semalam baterai HPku habis, sebelum tidur HP aku charge, dan aku lupa membawanya.

**

Took..took..took.. “Mirna sayang..” Terdengar suara pintu di ketok, dan suara seorang pria memanggilku dari luar bilik kamar yang memang tersedia di salon ini. Aku terkejut, rupanya tadi aku sempat tertidur. Aku hafal suara ini, suara Oom Jerry. Kubuka pintu kamar berukuran 2×3 meter itu. Seketika Oom Jerry langsung memelukku dan menutup pintu. Dicumbunya aku habis-habisan, mulai dari kening, bibir hingga daerah-daerah sensitif di seluruh tubuhku. Sepuluh menit berlalu, kami berdua bergulat dengan peluh membasahi tubuh. Setelah kekamar mandi dan membersihkan diri, aku kembali ke kamar. Kulihat Oom Jerry mengenakan pakaiannya kembali. “Loh, mau kemana om? Kok buru-buru? Tumben nih? Gak kangen ya sama Mirna?” Ucapku sambil melingkarkan kedua tanganku di pundak Oom Jerry. “Aku buru-buru Mir, ada rapat di kantor. Gubernur mau dateng. Nanti sore aku kesini lagi ya. Ini kamu pegang dulu, nanti aku tambah ya sayang. Kamu jangan cemberut dong..” Oom Jerry memberikanku sejumlah uang, 500 ribu rupiah. Ia menenangkanku dan memberikan kecupan lembut di keningku. Raut mukaku memang berubah, biasanya Oom Jerry menyempatkan diri untuk berdiam sejenak, bersenda gurau denganku. Atau setidaknya mengajakku makan di sebuah restauran. Tapi tidak untuk hari ini, sepertinya dia memang terburu-buru.  Aku cukup mengerti tentang kesibukannya sebagai seorang anggota DPRD, tapi entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama dengannya. Oom Jerry memang berbeda dengan pelanggan-pelangganku yang lain. Aku tidak perlu lagi merayu untuk memberikan pelayanan ekstra. Aku memang bekerja di Salon, tapi tugasku bukan untuk melayani pelanggan biasa. Aku tak bisa mencuci rambut atau hal-hal lainnya yang berhubungan dengan salon kecantikan. Aku bekerja sebagai tukang pijat, itupun tidak benar-benar memijat seperti pijat refleksi dan lain-lain. Pijat adalah topeng dari pelayanan yang lebih khusus. Pelangganku kebanyakan adalah pria-pria beristri. Mungkin mereka tidak puas dengan istri mereka, atau mereka memang seorang penggila sex, dan akulah pelampiasan mereka. Tetapi Oom Jerry berbeda, pernah ketika suatu saat ia memintaku untuk melayaninya, tetapi aku tak menyanggupinya. Aku sedang tidak enak badan dan merasa kecapaian. Oom Jerry tidak memaksa, ia tetap memberiku uang dalam jumlah yang besar. Aku jatuh cinta, jatuh cinta dengan karismanya, dengan wibawanya. Dengan sifat kebapakannya. Dia sering memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku sekarang, dia mengajakku untuk nikah siri. Segala kebutuhanku dan keluargaku akan di tanggung olehnya. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa, aku tak ingin menikah siri, aku ingin mempunyai seorang suami yang resmi. Sedangkan Oom Jerry juga tak bisa serta merta menceraikan istrinya, karena dia juga butuh citra yang baik sebagai seorang politikus. Dan disinilah aku hingga saat ini, masih menanti.

bersambung…..

baca cerita sebelumnya : mirna dan dosa<!–

Pukul dua pagi, seperti biasanya, jam seginilah aku pulang kerumah. Anjas sudah tidur pastinya. Untuk anak berumur enam tahun, pada jam-jam seperti ini, rasanya mustahil masih bisa melihat dia tertawa, bermain-main dengan sepeda kecilnya, atau untuk sekedar memberi ucapan selamat tidur kepadanya. Anjasmara, begitu nama lengkapnya. Ibuku memberikan nama itu karena ia memang mengidolakan suami dari Dian Nitami itu. Banyak orang yang mentertawakan ketika ibu memberikan nama itu, ” orang susah kok ngasi nama yang bagus-bagus..” Begitu kata mereka. Tetapi ibuku tidak perduli, siapa tahu nanti cucuku bisa menjadi aktor terkenal seperti Anjasmara, begitu kata beliau. Njas, begitu kami biasa memanggilnya, merupakan buah hatiku satu-satunya. Anak dari entah lelaki mana. Pada malam itu, ada tujuh orang lelaki bajingan yang menggagahiku secara bergiliran. Sungguh sangat menyakitkan apabila aku harus mengingat kejadian 6 tahun lalu itu. Apalagi pada waktu itu umurku baru 18 tahun. Dulu sempat terpikir untuk menggugurkan kandunganku, tetapi ibu melarangku. ” Ojo nduk, bocah ki ra nduwe dosa. Nek koe ra gelem melihara, ben aku wae sing melihara…” (Jangan nak, anak didalam kandungan kamu itu tidak punya dosa, kalau kamu tidak mau merawat, biar aku saja yang merawat), begitu kata ibuku. Dan akupun menurutinya, walaupun dengan setengah hati. Aku menanggung sakit dan beban malu yang luar biasa. Perasaan itu berlanjut ketika Njas lahir. Aku tak sudi memberinya asi, untuk melihatnya-pun aku tak sudi. Najis, anak haram pikirku waktu itu. Tetapi dengan penuh kesabaran ibuku memberikan nasihat kepadaku, sekali lagi ia mengatakan, bahwa anak itu tidak punya dosa sama sekali, dia adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan di rawat dengan baik. Butuh waktu setidaknya dua bulan, hingga akhirnya hatikupun luluh. Waktu itu ibuku sedang berjualan di pasar, Njas menangis. Malas rasanya aku mendengar suara tangisannya. Kira-kira lima belas menit lamanya, dan Njas masih menangis. Dengan setengah hati aku menuju kamar ibuku. Aku sempat terdiam, apa yang harus aku lakukan? Pikirku. Lalu kuputuskan untuk mengangkat Njas dari tempat tidur, aku menggendongnya. Tapi dia masih saja menangis. Lalu aku teringat kata ibuku, bayi kalau menangis, itu tandanya dia lapar. Kubuka braku, lalu kudekatkan puting susuku yang sebelah kiri kedalam mulut Njas. Dengan cepat, diapun menyedot-nyedot puting susuku. Rasanya sakit. Tapi hatiku lega, karena Njas langsung terdiam, ia berhenti menangis. Dia memang lapar. Kupandangi wajahnya, kubelai kulitnya yang lembut, ah, benar kata ibuku, anak ini tidak punya dosa sama sekali, wajahnya benar-benar bersinar, bersih dan suci. Akupun meneteskan air mata, sungguh kejam aku sebagai seorang ibu, membiarkan anak ini tanpa belaian kasih sayang. Tidak lama ibuku muncul, dia menatapku dalam-dalam, ia tersenyum tapi meneteskan air mata. Aku terdiam, dan sejak saat itu, Anjas telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, pelipur laraku, penghapus lapar dan dahagaku. Dialah matahari yang menyinari gelapnya kehidupanku. Dialah Malaikat yang membuatku bertahan hidup.
**

Seperti biasanya, setiap malam, sebelum membersihkan riasan busuk di mukaku dan beranjak tidur, aku selalu menyempatkan diri menengok kamar Njas untuk sekedar memberikan kecupan di keningnya. Dengan perlahan ku buka pintu kamar yang sudah reot, kulihat ibuku juga telah tertidur tepat disamping Njas. Tangannya yang usang dan keriput melingkar di tubuh Njas, memeluk Njas dengan kehangatan dan kasih sayang. Setelah mengecup kening Njas, aku juga memberikan kecupan di kening ibuku. Terima kasih Ibu, bisikku. Ibuku tiba-tiba terbangun, kecupanku sepertinya telah mengganggu tidurnya. Dengan berbisik dia berkata, ” lembur lagi Mir? ” ” Iya bu. ” Jawabku. ” Yo wes, istirahat dulu, koe pasti capek kerjo. Aku buatin teh manis panas yo.” Ibuku mencoba berdiri dari tempat tidur, tapi aku segera menahannya. ” Gak usah bu, aku buat sendiri aja. Ibu tidur saja, ibu juga pasti capai, seharian jualan di pasar dan menjaga Anjas.” Sekali lagi ku kecup kening ibuku, ku selimuti badannya. Lalu aku beranjak keluar kamar. “Koe sesok lembur meneh Mir?” Belum sampai pintu, ibuku kembali memanggilku. “Iya bu, besok kan malam Minggu, pasti ramai.” Aku keluar kamar dengan perasaan berdosa. Air mataku menetes, aku berdosa, aku berbohong kepada Ibuku, Bidadari penyelamatku. Dia tidak pernah tahu apa pekerjaanku. Dia sering menanyakan kepadaku, tetapi slalu ku jawab seadanya, kalau tidak segera ku alihkan topik pembicaraannya. Aku bilang, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah toko baju. Dan malam harinya, aku lembur dan bekerja paruh waktu di cafe. Aku tak akan pernah sanggup memberitahukan pekerjaanku yang sebenarnya. Aku tak ingin ia tahu, aku tak ingin Njas tahu. Aku lalu pergi ke kamar mandi. Kubasuh mukaku, kubersihkan sisa-sisa riasan di mukaku. Aku harus tidur, hari ini sungguh melelahkan, dan besok malam aku harus kembali bekerja di sebuah gang kumuh, tepat di belakang pusat kota Jogjakarta, Malioboro..

Bersambung….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.