Ada yang berbeda dari Angga. Tak biasanya dia bersikap romantis padaku. Tadi pagi, ia bahkan menjemputku di rumah dan mengantarkanku ke kampus. Sebenarnya aku menyenangi perubahan yang terjadi pada Angga. Dia yang biasanya cuek dan kurang perhatian menjadi begitu memanjakanku. Tapi perasaanku menjadi berbeda, walaupun aku sering mengharapkan dia berlaku seperti ini kepadaku, namun aku tetap mencintai Angga apa adanya. Angga memang tipe cowok yang cuek dan apa adanya. Dia bukan owok romantis yang sering mengajakku nonton atau memberiku setangkai bunga. Tapi ia sayang aku. Aku tahu itu. Dan  hari ini, sikap Angga berubah drastis.
**
Tumben-tumbenan Angga meneleponku pagi-pagi.
“Bek, aku jemput ya. Ntar aku anter ke kampus.”
Angga biasa memanggilku bebek, bukan yank, nta atau panggilan mesra lainnya. Katanya, aku kalau sedang jalan mirip unggas yang telornya biasa digunakan untuk membuat martabak tersebut.
“Tumben mbing?”
“Gak apa-apa bek, pengen aja..”
“Ya sudah. Aku tunggu ya kambingku sayang..”
Angga, kambingku tersayang. Hmmm, panggilan kambing ini sebenarnya terlontar begitu saja. Abis, dia manggil aku bebek. Jadi, mau tak mau aku juga harus punya nama panggilan “spesial” untuknya.
**
Suasana pagi di rumahku seperti suasana pagi di rumah keluarga lainnya. Kami biasa mengawali pagi dengan ritual sarapan bersama. Di keluargaku, hukumnya adalah wajib. Mbak Sari, perempuan yang biasa menyiapkan sarapan telah menyelesaikan tugasnya. Menu hari ini adalah nasi goreng.
“Pagi mi, pagi pi..”
kucium pipi papi dan mamiku. Ku ambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai coklat.
“Shasha Berangkat dulu ya mi, pi..”
“eh..eh, mau kemana kamu? kok buru-buru? sarapan dulu. Papi juga belum sarapan lho..”
Mami mencoba mencegahku ketika hendak beranjak dari meja makan. Biasanya, papi-lah yang mengantarkanku ke kampus.
“Shasha di jemput Angga mi. Ini juga udah terlambat..”
“Tumben? Ada angin apa si Angga jemput kamu Sha?”
Papi terlihat kebingungan. Aku menjawab pertanyaan papi dengan mengangkat kedua tanganku ke atas, artinya : ” Gak tau pi..”
Bel pintu ruang tamu berbunyi. Mbak Sari terlihat berlari hendak membukakan pintu. Tapi segera kutahan. Biar aku saja yang membukakan pintu untuk pangeranku tersayang.
“Shasha pergi dulu ya pi, mi..”
Kuciumi tangan kedua orang tuaku, dan beranjak menuju pintu ruang tamu. Papi dan mami tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.
Di depan pintu, telah menunggu sesosok cowok putih dan ganteng. Dia lah Angga. Kambingku terinta.
“Ini buat kamu..”
Angga memberiku setangkai mawar putih. Masih segar dan wangi. Tumben ni anak romantis? Batinku dalam hati. Tapi aku tak menanyakannya.
“Makasi ya mbing…”
**
Sykurlah pagi ini peralanan sangat lancar. Tidak macet sama sekali. Sepanjang perjalanan, Angga memutar lagu-lagu cinta romantis kesukaanku. Tumben. Karena aku tahu sebenarnya Angga tidak terlalu menyukai musik mellow. Dia pencinta musik Rock sejati. Rock sampai mati, katanya suatu hari. Mungkinkah Angga sudah berubah? Ah betapa menyenangkan jika dia memang benar-benar berubah.
**
Angga mengantarku hingga masuk ke gerbang kampus. Ketika hendak membuka pintu mobil, Angga menarik tanganku, dia mencium keningku. Oh My God, pagi ini dia benar-benar romantis. Ia lalu turun lebih dulu, dan membukakan pintu mobil untukku.
“Bek, ntar aku jemput ya…”
“Ok mbing…hati-hati di jalan ya..”
Anggapun berlalu. Aku tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kampus.
**
Selesai sudah kuliahku hari ini. Benar-benar membosankan. Kuliah hari ini tentang statistik dan Pancasila. Dua mata kuliah yang paling aku benci. Tapi hari ini perasaanku lagi girang. Angga berjanji akan menjemputku dan mengajakku jalan-jalan.
Benar saja, begitu keluar kelas, aku sudah melihat mobil Angga terparkir di depan pintu gerbang kampus. Kambingku tersayang sudah menunggu. Aku bergegas menghampirinya.
“Udah lama mbing?..”
“Yah, lumayan bek. Ayo masuk, kita makan siang ya. Terus nonton. OK?”
Angga membukakan pintu mobilnya untukku. Nonton? Wow, selama 6 bulan pacaran, baru kali ini Angga mengajakku nonton berdua. Biasanya, kami selalu pergi beramai-ramai dengan teman-teman Angga.
**
Kami makan siang di sebuah restoran seafood yang terdapat di Mall besar di pusat kota. Sudah berkali-kali Angga membuatku terkejut dengan perubahan sikapnya hari ini. Termasuk dengan mengajakku makan di mall. Angga paling tidak menyukai tempat yang bernama Mall. Dia selalu menolak ketika ku minta untuk menemaniku berbelanja di Mall. Membosankan, katanya. Selesai makan, Angga mengajakku nonton, masih di mall yang sama. Angga sudah memesan tiket dari tadi pagi. PS : I love u. Itu judul film yang akan kami tonton. Angga memilih tempat duduk paling belakang. Ah, film ini sangat romantis sekaligus menyedihkan. Entah mengapa Angga memilih film ini. Sepanjang pemutaran film, aku meneteskan air mata. Aku membayangkan diriku menjadi perempuan di film itu. Ah, sungguh sedih, aku tak akan sanggup. Angga tersenyum melihatku. Dia mengusap air mataku dengan tissue, kemudian memelukku dengan mesra. Mbing, jangan tinggalin aku ya, batinku dalam hati.
**
Selesai nonton, Angga melanjutkan keromantisannya hari ini dengan mengajakku ke sebuah bukit yang tinggi. Bukit bintang namanya. Di tempat ini, bintang-bintang terihat dengan jelas. Sungguh indah dan romantis tentunya. Angga memelukku dari belakang, sesekali ia berbisik di telingaku.
“Aku sayang kamu bek…aku cinta kamu..”
Aku tersenyum mendengarnya. Aku juga mbing, bisikku dalam hati. Betapa aku tak ingin malam ini berlalu, betapa aku tak ingin perasaan bahagia ini pergi. Tapi, waktu memang memerintahkan kami untuk segera pulang. Apalagi mami telah meneleponku dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku lupa memberitahu orang tuaku bahwa aku akan terlambat pulang.
Angga mengantarku hingga depan pintu gerbang. Dia membuka laci mobil dan mengelurkan sesuatu.
“Bek, ini buat kamu. Di bukanya ntar ya kalau udah mau tidur..”
Angga memberiku sebuah benda kecil berbungkus kado motif bunga berwarna pink. Apa ini? Kalung? Cincin? Aku menerka-nerka isi kado itu.
Angga menggenggam tanganku dan merapatkan wajahnya di wajahku. Bibirnya bergerak maju, dan tak berapa lama telah menempel di bibirku. Ciuman yang sangat hangat. Lidah kami menyatu, liur kami menyatu. Begitu nyaman dan mesra. Ciuman paling hebat. Ciuman paling mesra dan dahsyat yang pernah Angga beri untukku. Angga mendekap tubuhku dengan lembut, dia masih menciumku. Tangannya membelai rambutku. Ah, berdebar rasanya jantung ini. Untuk kesekian kalinya pada hari ini, dia berbisik ke telingaku,
“aku sayang kamu bek..aku cinta kamu..”
**
“Besok jemput aku lagi ya mbing?”..
Aku menanyakan hal itu, berharap bahwa perubahan yang terjadi pada Angga, berlanjut hingga esok hari. Namun Angga hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Dan aku mengartikan senyumannya sebagai jawaban “iya”.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar. Papi dan mami sedang menonton televisi ketika aku masuk.
“Dari mana Sha?..”
“Jalan-jalan mi..”
Aku menjawab pertanyaan mami seadanya. Aku sudah tidak sabar mengetahui isi dari kado yang Angga berikan padaku. Angga berpesan kepadaku untuk membuka kado itu sebelum aku tertidur. Tapi aku mengabaikannya. Rasa penasaran telah hinggap di hatiku sejak tadi.
Kubuka pembungkus kado berwarna pink itu secara perlahan. Sebuah kalung berliontin hati. Dengan fotoku dan Angga di dalamnya. Aku melompat kegirangan. Ini barang pertama yang Angga berikan kepadaku. Ah, kenapa ia tak mengenakannya langsung kepadaku tadi. Kan bisa lebih romantis, gumamku dalam hati. Tapi tak apalah, mungkin ia malu. Aku langsung mengenakan kalung itu di leherku. Namun ternyata, selain kalung, ada benda lain di dalam kotak berbungkus kado itu. Sebuah kertas yang di lipat kecil. Apa ini? Kubuka kertas itu perlahan. 

” bebek sayangku..
mungkin kamu sedikit kaget dengan apa yang aku lakukan hari ini, dengan perubahan yang terjadi pada diriku. Aku memang bukan cowok romantis, cowok yang setiap hari memanjakanmu dengan setangkai bunga mawar dan kecupan manis di keningmu. Tapi aku sayang kamu bek, aku sungguh menyayangimu. Oh iya, itu ada kalung untukmu. Semoga kamu menyukainya.
bebek sayangku….
aku yakin kamu pasti akan terkejut ketika membaca suratku ini. Sama seperti kamu terkejut dengan perubahan sikapku hari ini. Tetapi untuk kesekian kalinya, aku mengatakan dengan bersungguh-sungguh, bahwa aku benar-benar mencintai dan menyayangimu.
bebek sayangku…
Besok pagi, aku harus pergi ke Australia. Ayahku sedang sakit keras, dan Aku adalah anak satu-satunya. Sungguh berat untuk mengatakan ini. Maaf bek, sebentar lagi aku akan menikah. Menikah dengan perempuan pilihan ayahku. Aku sungguh tak bisa menolaknya. Peremuan ini adalah anak dari dokter pribadi ayahku. Aku harus menuruti kemauan ayahku, karena mungkin itu adalah permintaan terakhirnya.
bebek sayangku..
maafkan aku, aku tak pernah bermaksud menyakitimu. Aku sungguh-sungguh menyayangimu. Tapi kamu harus mengerti posisiku. Berat untuk menghadapi semua ini. Aku mungkin seorang cowok cuek yang kurang perhatian. Tapi untuk kamu ketahui, aku menangis semalaman. Berat untuk mengakhiri hubungan kita. Berat untuk berpisah denganmu.
Maafkan aku bek, aku selalu menyayangimu seperti selama ini. Aku akan selalu mencintaimu.. cuma kamu bek…”
 

Love, Angga