Malam ini seluruh ketua RT RW di wilayah Desa Suka Ribut berkumpul di balai desa. Mereka semua di undang untuk menghadiri rapat Dewan Perwakilan RT RW dan Dukuh (DPRD) desa suka ribut..

Desa Suka Ribut merupakan sebuah desa percontohan, desa yang paling maju diantara desa-desa lainnya di kabupaten Suka Rusuh, kecamatan Suka Gila. Desa Suka Ribut terdiri atas 8 Dukuh. Kedelapan dukuh tersebut yaitu dukuh salak, dukuh melon, dukuh pisang, dukuh anggur, dukuh durian, dukuh belimbing, dukuh rambutan dan dukuh jeruk. Satu dukuh terdiri atas 5 RW. Dan satu RW terdiri atas 5 RT. Satu RT terdiri atas 10 rumah. Itu artinya, dalam satu RW terdapat 50 kepala keluarga, satu dukuh terdapat 250 kepala keluarga, sehingga dalam satu desa terdapat 2000 kepala keluarga. Sebagai desa percontohan, oleh pemerintah pusat, desa suka ribut memang mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan dengan desa-desa yang lainnya. Desa ini merupakan sebuah desa modern dengan sistim pemerintahan yang demokratis. Malah banyak yang memberi julukan sebagai Desa Istimewa Suka Ribut. Perangkat desa terdiri atas kepala desa, wakil kepala desa, kepala bagian dan kepala-kepala seksi yang merupakan pegawai negeri. Kepala desa dan wakil kepala desa dipilih melalui pemilihan kepala desa (pilkades) secara langsung oleh 2000 kepala keluarga. Memang, setiap satu rumah hanya mempunyai satu hak suara saja. Tidak hanya kepala desa dan wakil kepala desa, untuk posisi kepala dukuh dan wakil kepala dukuh juga di pilih secara langsung oleh warga. Selain perangkat pemerintahan desa, desa Suka Ribut juga mempunyai lembaga perwakilan rakyat, yaitu Dewan Perwakilan RT RW dan Dukuh (DPRD) Suka Ribut. Dewan Perwakilan RT RW dan Dukuh (DPRD) ini telah di bentuk semenjak pemilu pada tahun 2004 lalu. Anggota DPRD berjumlah 8 orang. Anggota DPRD merupakan perwakilan dari dukuh-dukuh, biasanya setiap dukuh mempunyai tiga orang calon anggota DPRD untuk kemudian diadakan pemilihan untuk memilih satu orang saja. Maka, setiap dukuh mempunyai satu orang perwakilan sebagai anggota DPRD. Biasanya yang menang adalah calon yang mendapatkan dukungan dari kepala dukuh setempat, baik dukungan politik, maupun dukungan dana untuk kampanye. DPRD Suka Ribut sebenarnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintahan desa dan sebagai lembaga aspirasi bagi para seluruh warga desa Suka Ribut. Namun dalam kenyataannya, DPRD lebih banyak memperjuangkan aspirasi kepala dukuh atau yang menguntungkan saja. Warga desa suka ribut tetap seperti itu adanya, miskin dan tak berpendidikan.

Mayoritas warga desa suka ribut terdiri atas golongan menengah kebawah. Mulai dari pegawai negeri rendahan, guru, petani, tukang becak dan penjual angkringan. Berbeda jauh dengan warga yang memiliki jabatan, baik di pemerintahan desa, dukuh, ketua RT, ketua RW maupun yang duduk sebagai anggota DPRD suka ribut.Warga yang duduk sebagai pejabat, tingkat sosialnya jauh lebih tinggi di bandingkan warga biasa. Selain ketua RT dan RW, pejabat-pejabat seperti kepala desa dan wakilnya, kepala dukuh dan wakilnya dan para anggota DPRD diberikan sebuah rumah dan kendaraan dinas. Jenis mobil dan besarnya rumah di sesuaikan dengan jabatan masing-masing.

**

Rapat anggota DPRD bersama perwakilan dari seluruh ketua RW dan RT rencananya akan dimulai selepas Sholat Isya’. Sekitar pukul 19.30. Rapat ini akan membahas usulan dari salah seorang anggota DPRD perwakilan dukuh durian tentang dana aspirasi dukuh. Dana aspirasi dukuh ini yaitu dana yang rencananya akan diminta kepada pemerintah desa dan di masuk-kan ke dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa). Menurut Satyo Pramono, anggota DPRD asal dukuh Durian yang memberikan usulan, dana aspirasi dukuh ini dimaksudkan untuk pembangunan dukuh-dukuh, karena menurutnya, pemerintah desa masih kurang perhatian terhadap pembangunan dukuh-dukuh di desa suka ribut. Dia mengusulkan agar setiap anggota DPRD mendapatkan dana masing-masing sebesar 5 juta rupiah perbulan. Dana itu dititipkan melalui setiap anggota DPRD untuk kemudian di gunakan sebagai dana pembangunan dukuh. Bang Sat, begitu biasa ia di panggil oleh warga desa Suka Ribut merupakan orang dekat kepala dukuh durian, yaitu Faisal Ichwan atau akrab dipanggil dengan sebutan Pak Ical. Pak Ical merupakan orang paling kaya di desa suka ribut. Dukuh durian merupakan dukuh yang terpandang. Pada pemilihan kepala desa tahun lalu, dukuh durian berkoalisi bersama empat dukuh lainnya, yaitu dukuh anggur, dukuh pisang, dukuh belimbing dan dukuh melon untuk memenangkan Suswanto Bimo Yudhistiro atau yang biasa di panggil Pak SBY sebagai kepala desa. Pak Ical-lah yang memberikan sokongan dana paling banyak selama masa kampanye Pak SBY berlangsung. Oleh karena itu, kedudukan Pak Ical sangat terhormat. Walaupun hanya sebagai kepala dukuh, namun Pak SBY yang notabene merupakan pemimpin desa sangat menghormatinya. Bahkan terkesan tunduk dengan-nya. Pernah beberapa waktu lalu, pak Ical terkena kasus pencemaran limbah di desa suka ribut. Salah satu usahanya, yaitu Sapindo pernah bermasalah karena mencemarkan lingkungan desa. Sapindo yang merupakan pabrik pengolahan susu sapi tersebut mencemarkan lingkungan desa dengan lumpur panas. Hasil pengolahan susu yang bercampur dengan bahan-bahan kimia. Dukuh yang tercemar adalah dukuh salak. Selama bertahun-tahun warga dukuh salak menderita karena pencemaran lingkungan ini. Namun oleh pak SBY, hal tersebut dianggap bencana alam dan merupakan tanggungan pemerintah desa Suka Ribut. Pemerintah desa pun mengeluarkan dana melalui APBD untuk membantu Pak Ical sebagai biaya ganti rugi warga dukuh salak dan penalangan bencana lumpur tersebut. Hal ini-lah yang membuat Ibu Asri Mulyasari  ingin mundur dari jabatannya sebagai kepala bagian keuangan desa suka ribut. Tapi Pak SBY masih menahannya, karena memang, desa suka ribut masih membutuhkan sosok seperti ibu Sri, seorang ahli keuangan yang berhasil membebaskan desa suka ribut dari dampak krisis global yang sempat melanda. Ibu Sri, begitu ia biasa dipanggil, sangat tidak setuju dengan langkah yang di ambil oleh Pak SBY yang mengeluarkan dana melalui APBD untuk membantu Pak Ical.

“Sangat tidak adil, Ical-lah yang harus bertanggung jawab atas bencana yang disebabkan oleh pabrik susu miliknya. Bukan lalu membebani pemerintah desa..” ujar Bu Sri.

Namun apa daya, beliau hanya bawahan. Ibu Sri memang tidak pernah akur dengan Pak Ical. Kala itu, sebelum memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai kepala dukuh, Pak Ical merupakan salah seorang pamong desa. Ia menduduki jabatan sebagai kepala bagian koordinator kesejahteraan rakyat (Kabag Kokesra) desa Suka ribut periode 2004-2009. Ibu Sri sering menemukan kejanggalan pada usaha-usaha milik pak Ical. Pak Ical di tengarai mengemplang pajak senilai ratusan juta rupiah. Hal itulah yang membuat hubungan mereka menjadi tidak akur.

“Pak Ical tidak pernah menyukai saya..” Kata Ibu Sri.

Tetapi tidak ada hal yang bisa di lakukan oleh Ibu Sri, termasuk ketika posisinya sebagai kepala bagian keuangan desa suka ribut di goyang oleh isu korupsi dana bail out Bank Desa Kasturi senilai 6.5 Miliar rupiah yang di hembuskan oleh Bang Sat, anggota DPRD dari dukuh durian. Pada kasus Sapindo dahulu Ibu Sri juga mendapatkan tekanan dari wakil kepala desa kala itu, yaitu pak Yusuf Falla. Yusuf Falla merupakan orang dekat pak Ical. Mereka sama-sama tergabung dalam satu organisasi dimana pak Yusuf Falla duduk sebagai ketua umumnya. Organisasinya adalah GOLKARSA (Golongan Orang Kaya Desa). Organisasi berlambang pohon kamboja ini berisi orang-orang kaya yang picik dan haus kekuasaan. Sama seperti lambangnya yang biasa terdapat di kuburan, organisasi ini sangat angker dan sangat kuat. Pada saat ini, yang duduk sebagai wakil kepala desa adalah Pak Diono Boedi, berbeda dengan pak Yusuf Falla, Pak Boed lebih pendiam dan sepertinya hanya dijadikan boneka saja oleh Pak SBY. Mungkin pak SBY memilih Pak Boed sebagai wakil karena track record beliau yang masih bagus, sehingga banyak warga yang simpati. Terbukti dengan kemenangan mutlak 60 % yang mereka raih pada pemilu tahun lalu. Tahun ini, Ibu Sri akhirnya memutuskan untuk mundur sebagai kepala bagian keuangan desa suka ribut dan menerima tawaran sebuah bank swasta di kota yang memintanya menduduki jabatan sebagai kepala cabang. Posisinya digantikan oleh Abunawas Rakusa, orang dekat Pak SBY dan Pak Ical. Dan kini, warga desa suka ribut kehilangan salah seorang pamong desa yang pintar dan jujur.

**

Rapat DPRD akan segera berlangsung. Seluruh anggota dan seluruh perwakilan RT dan RW desa suka ribut telah hadir. Rapat ini disiarkan langsung oleh TV Wan. Stasiun televisi swasta desa kepunya-an Pak Ical. Nama tv itu diambil dari nama anak kesayangannya, Wawan Basri. Rapat di buka oleh ketua DPRD desa suka ribut Sarzuki Ali. Sarzuki Ali merupakan anggota DPRD dari dukuh Anggur. Dukuh tempat pak SBY berasal. Rapat berlangsung ricuh dan di hujani interupsi dari para anggota DPRD lainnya. Pak Sarzuki terlihat kewalahan menghadapi para anggotanya. Anggota DPRD memang seperti anak TK yang sedang berebut mainan, susah di kendalikan. Terjadi perdebatan sengit antara Bang Sat dan anggota DPRD lainnya. Mayoritas menolak usulan Bang Sat. Mereka menganggap usulan itu belum perlu untuk di berlakukan, karena sangat rentan untuk dijadikan ladang korupsi. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 4 jam tersebut akhirnya harus berakhir deadlock. Rapat tidak menghasilkan keputusan apapun. Sarzuki Ali menutup rapat untuk dan menjadwalkan bahwa rapat akan dilakukan seminggu kemudian untuk memberikan kesempatan para anggota untuk melakukan lobi-lobi politik.

**

Kabar tentang usulan dana aspirasi dukuh ini-pun telah tersebar di masyarakat desa suka ribut. Sebagian besar tidak setuju, walaupun ada juga yang menerima dan ada yang acuh tidak mau tahu. Salah seorang tokoh masyarakat yang menolak keras usulan tersebut adalah Wicaksono Wigoelar atau biasa di panggil W saja oleh warga desa suka ribut. W adalah sahabat karib Ibu Sri, sama seperti sebagian besar warga desa, ia juga sangat membenci pak Ical. Karena usulan tersebut datangnya dari kubu pak Ical ia dengan tegas menolaknya. Pokoknya, apapun bentuknya, segala sesuatu yang datangnya dari pak Ical harus di tolak, karena pasti hal tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa bagi masyarakat kecil. Tidak jauh berbeda dengan W, seorang wartawan senior Gunardi Mardiono Ahmad atau biasa di panggil GM juga menolak tegas usulan dana aspirasi dukuh tersebut. Bahkan ia telah mengembalikan award yang ia dapatkan dari Ical group sebagai tokoh yang berpengaruh bagi desa. Baginya, Ical sudah keterlaluan dan harus di lawan. Ada lagi Benadi Hantoro atau Benhan, tokoh yang juga menolak usulan dana aspirasi dukuh tersebut. Ketiga tokoh ini menggunakan twitter sebagai sarana mengeluarkan pendapat-pendapat mereka. Oleh karena itu, banyak yang menjuluki mereka sebagai penghuni twitterland. Selain yang menolak, ada juga yang mendukung usulan dana aspirasi dukuh tersebut. Dia adalah Ihsan Jaya Putra, atau biasa di panggil IJP. IJP mengatakan bahwa usulan tersebut sangat bagus, jangan kita lihat sisi jeleknya, yang kita lihat sisi baiknya karena dana tersebut sangat berguna bagi kelangsungan pembangunan desa secara keseluruhan. IJP merupakan pengamat politik desa suka ribut yang juga penghuni twitterland. Iasering menggunakan situs jejaring sosial itu untuk mengutarakan pendapat-pendapatnya. Kabar tentang perbedaan pendapat ini ternyata menarik perhatian Asroel Rochiman, seorang aktivis yang pernah ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa suka ribut melalui jalur independent tapi tidak lolos. Karena undang-undang masih belum memperbolehkan calon dari jalur independent. Bung roel, begitu ia biasa di sapa, sangat menyukai apabila ada orang-orang yang bersebrangan pendapat seperti saat ini. Ia seperti kompor yang memanas-manasi. Untuk itu, ia mengundang W, GM, Benhan dan IJP untuk melakukan debat secara terbuka pada acara politik bersama radio Had Rok. Radio Had Rok adalah radio desa. Pemiliknya adalah Haji Ahmad. Had Rok sendiri merupakan singkatan dari Haji Ahmad Radio Ok! Setelah semua tokoh setuju untuk melakukan debat dengan bung Roel sebagai moderatornya, di putuskanlah bahwa acara debat tersebut akan di langsungkan besok malam. Sebenarnya debat akan di langsungkan di tv wan, tapi para tokoh seperti W, GM dan Benhan tidak setuju. Menurut mereka, tv wan bukanlah stasiun tv independent, karena tv wan merupakan milik Pak Ical.

**

“Selamat malam kawula muda yang tidak aphatis. Selamat malam warga desa Suka ribut yang tidak harmonis. Malam ini masih bersama saya, penyiar kesayangan anda semua yang ganteng dan bersuara indah..” Terdengar suara penyiar radio Had Rok menyapa para pendengar radio.

Handji adalah penyiar satu-satunya yang di miliki oleh Had Rok radio. Dia adalah presenter kenamaan dari kota. Tetapi entah mengapa, dia lebih memilih untuk tinggal di desa suka ribut dan memilih berkarier di desa itu. Dia juga merupakan seorang aktivis yang sangat nasionalis. Dia bahkan membuat situs internet bernama sukaributunite.com. Situs itu dia buat untuk mempersatukan warga desa yang memang sangat suka berselisih faham.

“Saya yakin, malam ini anda semua tengah menantikan acara debat yang pasti akan berlangsung sangat seru. Debat malam ini akan membahas usulan salah seorang anggota DPRD mengenai dana aspirasi dukuh. Debat akan menampilkan tokoh-tokoh yang terkenal dan beken di desa kita. Mereka semua adalah penghuni twitterland. Ada bung W, ada GM, ada Benhan, ada bung IJP dan bung Roel yang akan bertugas sebagai moderator. Tetapi sebelum debat di mulai, silakan bagi anda yang memiliki akun twitter untuk memfollow twitter saya di @handji. Twitter W di @ww, Gm di @gma_gma, Benhan di @benhan_aja, IJP di @Sakaw_IJP dan bung Roel di @asroelrochiman. Terakhir, mari kita awali debat ini dengan mengucap Basmallah, Bissmillahhirrahmannirrahiim. Amin.”

Debat pun di mulai. Seperti yang di perkirakan, debat berlangsung sangat seru. Semua tokoh memberikan pendapat dengan argumen yang meyakinkan, kecuali W yang argumennya sedikit mentah.

“Pokoknya saya tidak setuju, apapun dari Ical saya tidak setuju. Titik!” Kata W. Sepertinya ia mempunyai dendam kesumat terhadap Pak Ical.

“Dana aspirasi dukuh itu pernah di gunakan oleh negara tetangga, dan tidak berhasil. Dana aspirasi atau gentong babi itu hanya akan jadi ladang korupsi bagi anggota DPRD” kata Benhan.

“Dana aspirasi itu seperti money politic bagi anggota DPRD, seolah-olah mereka-lah yang berjasa membangun desa sehingga mengamankan posisi mereka sebagai anggota DPRD pada periode yang akan datang..” Ujar GM menggebu-gebu.

“Kita jangan melihat permasalahan dari satu sisi saja. Mari lihat dari berbagai sisi, bahwa sebenarnya niat dari dana aspirasi dukuh itu baik. Tidak ada niat yang jelek..” IJP mengeluarkan pendapatnya.

Debat berlangsung sekitar dua jam. Kemenangan bagi kubu yang menolak usulan dana aspirasi dukuh tersebut. Skor telak, 3-1. Karena memang, hanya IJP lah yang mendukung usulan dana aspirasi dukuh tersebut. Bung Asroel yang bertugas sebagai moderator menutup acara debat malam itu. Tidak ada kesimpulan yang bisa di tarik karena debat berlangsung seperti debat kusir, penuh emosi dan tidak menghasilkan apapun. Handji sang penyiar-pun mendekatkan bibirnya ke microphone.

“Para pendengar Had Rok yang budiman dan budimin. Bagaimana, seru bukan debatnya? Bagaimana dengan anda? Anda mendukung yang mana? Silakan anda memilih. Desa kita adalah desa yang demokratis, jadi siapapun berhak untuk mengeluarkan pendapatnya. Jika pendapat anda ingin di bacakan pada saat saya siaran, segera kirim sms ke Had Rok radio. Ketik Reg (spasi) nama anda (spasi) komentar anda. Kirimkan ke 4499. Insya Allah, akan saya bacakan. Selanjutnya, mari kita tutup acara ini dengan sama-sama membaca Hamdallah, Alhamdulillahhirrobbilalamiin. Amin. Jumpa kembali pada debat-debat selanjutnya, hanya di acara Politik Bersama Had Rok Radio. Sebelum berpisah, saya akan memutarkan sebuah lagu lama milik Iwan Fals. Bongkar! Ass. Wr. Wb. Selamat malam semuanya..chaoooo..” Suara Handji sayup-sayup menghilang disela-sela suara serak Iwan Fals yang melantunkan lagu bongkar..

**

Acara debat pada malam itu ternyata mempunyai efek yang besar. Kubu pak Ical, melalui Bang Sat segera putar otak. Pada rapat berikutnya, mereka menarik usulan dana aspirasi dukuh dan menggantinya dengan dana aspirasi RT. Dalam Rapat DPRD ke-2, Bang Sat mencabut usulan sebelumnya. Ia mengganti dengan usulan yang baru. Yaitu, dana aspirasi RT. Ia mengusulkan setiap RT mendapatkan dana segar sebesar 500 ribu rupiah setiap bulannya. Dana itu di titipkan melalui setiap anggota DPRD untuk kemudian diserahkan kepada masing-masing RT di setiap dukuh. Jika sebelumnya Bang Sat mengusulkan dana aspirasi dukuh sebesar 5 juta rupiah perbulannya, kali ini ia malah meminta yang lebih besar lagi 500 ribu setiap RT. Itu artinya, jika dalam satu dukuh terdapat 25 RT, maka jumlah dana yang di usulkan dalam satu bulan per anggota adalah Rp. 12.500.000,- per anggota. Jumlahnya membengkak dua kali lipat, bahkan lebih. Tentu saja, anggota DPRD yang lain dengan tegas menolak, bahkan menuduh Bang Sat mengada-ada. Rapat kali ini-pun berakhir deadlock, sama seperti rapat sebelumnya. Sarzuki Ali kembali menjadwalkan rapat ke-3 yang akan di adakan seminggu lagi.

**

Pada rapat ke-3, kubu pak Ical melalui wakilnya di DPRD yaitu Bang Sat, kembali mengganti usulan sebelumnya. Kali ini, Bang Sat mengusulkan dana percepatan pembangunan RT dan RW desa suka ribut. Entah mengapa kubu Pak Ical sangat menggebu-gebu mengusulkan hal tersebut. Hingga saat ini, belum ada keputusan, apakah seluruh anggota DPRD menerima atau menolak usulan tersebut.