Anjing : “Bangsat! Sialan, memang dasar gak tahu di untung, gak tahu terima kasih!” 

Semut 1 : “Ada apa anjing? apa yang membuatmu memaki-maki?”

Anjing : “Bagaimana tidak memaki, setiap malam aku begadang, aku kelilingi kompleks perumahan ini, setiap ada yang mencurigakan aku langsung menggonggong. Coba bayangkan, dalam semalam saja aku bisa mencegah hilangnya 14 tape mobil, 20 televisi, 9 laptop, 15 sepeda motor, ratusan gram emas, buntelan uang bernilai jutaan. Setiap malam aku membangunkan tukang jaga portal yang menerima gaji buta. Manusia berbaju putih dan bercelana biru itu kerjanya cuma tidur. Dasar pemalas, tukang mabok, perut buncit, penjilat…”

Semut 2 : “Satpam maksud kamu njing?”

Anjing : “Ya iyalah, memangnya siapa lagi yang berbaju putih dan bercelana biru, yang seharusnya waktu malam punya tugas menjaga portal ini?”

Semut 2 : “Lantas, apa yang membuat kamu begitu marah? Bukankah kamu setiap malam memang selalu keliling komplek? Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu itu amnesia, jadi susah tidur…”

Anjing : “Bukan amnesia mut, tapi insomnia, ah kau ini sudah berapa kali aku jelaskan, masih saja kau sering salah menyebutkannya..”

Semut 2 : “Eh, iya insomnia…maaf gan, saya lupa, lanjut gan, tadi pertanyaan saya kan belum di jawab, sok atuh di jawab sek..”

Anjing : “Bah, kau campur-campur pula itu bahasa Sunda dan Jawa. Begini mut, kamu tahu sendiri kan, aku ini anjing satu-satunya yang sering mangkal disini. Manusia di komplek ini kan tak punya anjing peliharaan. Aku sudah akrab dengan manusia disini, tak pernah aku menganggu mereka. Tak pernah pula ku minta makanan dari mereka. Ku cari sendiri makananku dari tumpukan sampah. Setiap malam aku jagakan harta mereka, rumah mereka dari manusia lain yang tidak aku kenal. Manusia yang satu ini aneh, mukanya tidak kelihatan, cuma matanya saja yang kelihatan. Tapi aku yakin, manusia itu bukan manusia-manusia penghuni komplek ini. Makanya aku selalu menggonggong biar si..apa tadi namanya mut? Lupa aku lupa..”

Semut 2 : “Satpam njing, ah sampeyan ngatain aku pelupa, sampeyan sendiri juga pikun…”

Anjing : “Iya itu si satpam, yang jagain portal. Aku menggonggong biar si satpam itu bangun. Kerjanya cuma tidur aja, padahal tugasnya jaga malam.”

Semut 2 : “Terus apa yang bikin kamu marah?”

Anjing : “Nah, kemarin seperti biasa aku ngintip tempat sampah. Perutku keroncongan. Aku sempat melihat manusia yang badannya besar, rumah nomor dua membuang sisa makanan cepat saji. Wah, pasti banyak tulang yang tersisa pikirku. Sewaktu aku mengorek-ngorek tempat sampah, tiba-tiba manusia itu melemparkan batu yang besar, tepat kena punggungku. Sial, tak jadi dapat makanan, nyeri pula ini punggungku. Tak berhenti sampai disitu, si satpam yang tumben masih terbangun, malah menyiram aku dengan sisa kopi yang masih panas, terbakarlah kulitku, sangat perih…”

Semut 3 : “Ssst…ssttt…lihat si kucing datang, wah bisa perang dunia ketiga nih si kucing kalau ketemu anjing.”
Anjing : “Heh kucing, ngapain kamu kesini? Ku makan pula kau. Aku lagi emosi ini!”

Kucing : “Piss bos, ane gak mau ribut. Dari tadi ane denger ente cerita sama semut-semut tentang manusia komplek ini. Ane juga punya cerita yang hampir mirip sob…”

Anjing : “Mau cerita apa kau? Awas kalau kau bela itu manusia, kau kan binatang kesayangan anak-anak kecil di komplek ini. Kumakan kau biar mampus!”

Kucing : “Santai dulu bos, kalem my man. Ane bukan mau bela manusia, tapi ane juga mau curhat nih sama ente-ente pade. Ente pikir cuma ente yang menderita kalau malem? Ane juga sob. Ente kan gak tahu, kalau malam ane di terlantarkan. Kalau siang ane memang bisa nyaman bos, anak-anak kecil masih pada bangun, masih ada yang ngasih ane makan, ngajakin ane main. Tapi kalau malem, pas anak-anak kecil tidur, ane di masukin karung bos. Ane diangkut, dibawa pergi ga tahu kemana. Makanya setiap malem ane kan ga pernah keliatan. Untung ane hapal jalan. Jadi pagi-pagi ane bisa balik lagi kesini…

Anjing : “Lha, sekarang kau kok bisa ada disini? Ini kan sudah malam..”
Kucing : “Tadi, sebelum di masukin karung, ane udah cabut duluan bos, kabur gitu deh. Jadi ga ketangkep. Ane sedih bos, padahal setiap siang dan sore, waktu manusia-manusia yang lebih besar itu sibuk, ane yang jaga anak-anak mereka. Ane yang nemenin anak-anak itu. Mungkin anak-anak mereka lebih sayang ane di banding orang tua mereka. Soalnya mereka jarang ketemu. Pagi-pagi manusia-manusia itu sudah sibuk pergi kerja. Pas pulang malem, anak-anak udah pada tidur. Tega nian mereka membuang aku…”

Anjing : “Tuh, manusia memang bangsat, tak tahu di untung. Bagaimana kalau kita berontak? Kita bikin ribut ini komplek. Biar aku gigit kaki mereka, biar aku obrak-abrik tempat sampah mereka. Biar aku buang kotoran di halaman rumah mereka. Biar saja, biar mereka mampus!”

Kucing : “Ane setuju bos, ane juga udah terlanjur sakit hati..”

Semut-semut : “Jangan njing, jangan cing. Biarkan saja mereka seperti itu. Selama ini mereka selalu menggunakan nama kita untuk hal-hal yang tidak baik. Sekarang gantian, janganlah kita seperti mereka. Hilangkan sifat-sifat manusia kita yang saling memangsa antar sesama, tidak manusiawi lagi, tidak punya perasaan, rakus, serakah, jahat, sombong. Biarkan saja mereka seperti itu, kami juga sering mengalami hal-hal seperti kalian. Saudara-saudara kami banyak yang mati terinjak, di siram minyak tanah, diberi kapur yang beracun, macam-macam lah. Tapi kami sadar, mereka diciptakan memang seperti itu. Biarlah tetap seperti itu adanya..”

Anjing : “Guk..guk..”
Kucing : “Meoonggg….”