Hari ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Mataku masih terasa kaku dan perih. Aku baru tidur dua jam. Tapi hari ini aku punya janji yang harus kutepati, janji kepada orang yang paling kucintai, orang yang paling berarti dalam hidupku. Hari ini aku berjanji untuk mengantar Njas ke sekolah, sesuatu yang hampir tidak pernah bisa ku lakukan. Sebulan sejak Njas pertama kali masuk sekolah dasar,  ibuku lah yang selalu mengantar Njas ke sekolah. Tapi kali ini, aku ingin sekali-sekali mengantar Njas ke sekolah. Apalagi kemarin ia sendiri yang memintaku. Segera kurapikan tempat tidurku dan kubuka jendela kamarku. Matahari masih malu-malu, seperti seorang anak kecil yang masih lugu, ketika disapa langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung ibunya. Namun tetap menengok, tersenyum mencari perhatian, ingin diajak bermain. Matahari pagi selalu menghadirkan semangat bagiku, semangat yang sering sirna ketika malam tiba. Matahari pagi memberi suka, menyembuhkan luka yang diberikan malam. Matahari pagi datang dengan harapan, harapan akan sejuta mimpi yang terbentang. Oh begitu indahnya matahari pagi ini, aku menyesal tak dapat menyaksikannya setiap hari.

**

Kulangkahkan kakiku menuju pintu kamarku yang reot, kubuka perlahan. Kulihat ibuku sedang mengerjakan aktifitasnya sehari-hari di dapur. Ibuku memang hebat, setiap hari, sebelum matahari menyapa pagi, ia sudah terbangun. Pekerjaannya sebagai seorang penjual nasi pecel keliling memang mengharuskannya terbangun pagi-pagi sekali untuk kemudian pergi ke pasar dan membeli bahan-bahan  untuk membuat pecel. Tidak hanya itu, ia juga membeli bahan kebutuhan rumah, seperti sayur mayur dan lauk pauk. Aku sering meminta ia untuk berhenti bekerja dan istirahat saja di rumah. Toh uang dari hasilku bekerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tetapi ia tak pernah mau meninggalkan pekerjaannya tersebut. Pekerjaan yang telah ia lakukan sejak umurku 5 tahun. Sejak ayah kandungku meninggal dunia karena sakit. Ia tak pernah menikah lagi, mungkin karena cintanya kepada ayahku sungguh besar, dialah yang membesarkanku seorang diri. Menghidupiku dari berjualan nasi pecel keliling. Aku selalu kagum dengan dirinya, di usianya yang senja, ibuku sama sekali tak pernah mengeluh kecapaian. Semua dilakukannya dengan hati yang ikhlas. Sosok wanita yang tegar dan kuat. “Tumben jam segini udah bangun Mir? Masuk kerjanya masih lama kan?” Tanya ibu padaku. Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas, ia seperti keheranan melihatku terbangun sepagi ini. “Mau nganter Njas berangkat ke sekolah bu.” Jawabku singkat. “Loh, gak usah, biar ibu saja yang nganter. Kamu kan capek Mir, semalem habis ngelembur. Kamu istirahat saja, nanti kan masuk kerja lagi Mir.” Timpal ibuku, kulihat peluh mengalir deras di keningnya, dia pasti capai. “Gak apa-apa bu, biar aku saja yang nganter Njas ke sekolah. Lagipula, aku sudah janji bu sama Njas. Sini bu, aku bantu ya masaknya.” “Alah, wes gak usah Mir, nanti badan kamu bau asap. Ya sudah, sana kamu siap-siap, katanya mau nganter Njas ke sekolah. Apa kamu mau sarapan dulu? Ibu masak ikan asin dan sayur asem kesukaanmu Mir.” Seperti biasa, ibu selalu menolak ketika aku hendak membantunya memasak di dapur. “Nanti saja bu, sekalian bareng sama Njas. Njas masih tidur bu?” “Masih Mir, coba kamu bangunkan dulu. Semalem dia nungguin kamu sampai larut.” Aku beranjak dari dapur dan menuju kamar ibuku. Kulihat Njas masih tertidur pulas, rasanya tak tega membangunkannya. Wajahnya yang lucu dan lugu membuat rasa kantukku hilang seketika. Kukecup perlahan keningnya, kupandangi wajahnya yang tanpa dosa. Tanpa sadar air mataku mentes tepat di pipinya. Njas terbangun, dia seperti terkejut. Tapi kemudian tersenyum, ah senyum yang sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari matahari pagi. “Bangun Njas, ayo sekolah. Ibu yang anterin ya.” Mulutnya terbuka, ia menguap. Sepertinya ia masih mengantuk. Tetapi kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan segera memelukku. Pelukkan yang sangat hangat dan nyaman. “Mbah kemana bu? Kok ibu yang nganter Njas?” Suaranya begitu halus dan lembut, lebih lembut dari kain sutra. “Loh, kan Njas kemarin minta ibu yang anterin. Ibu juga sudah janji. Jadi, sekarang ibu yang nganter Njas ke sekolah. Ayo, sekarang mandi, terus sarapan.” “Asyik, Njas di anter Ibu…” Mukanya langsung berbinar-binar.

**

Pagi ini benar-benar menjadi berkah yang melimpah buatku. Bagaimana tidak, pagi ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku dapat mengawali hari dengan bersenda gurau bersama Njas. Kami mandi bersama, sarapan bersama dan aku dapat mengantarnya berangkat ke sekolah. Sungguh pagi yang indah.

Matahari sudah tidak malu-malu lagi, waktunya bagiku untuk berangkat kerja. Ibuku sudah tidak di rumah, ia pasti sudah berangkat keliling menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Bahkan sampai ke terminal bus. Mukaku sudah tebal dengan riasan yang menor. Wangi farfumku begitu menggoda, bajuku begitu ketat sehingga lekukan tubuhku yang kata orang proporsional ini terlihat dengan jelas. Bahkan banyak yang mengira kalau aku melakukan operasi khusus untuk mempercantik diriku. Berat badanku 50kg, dengan tinggi 170. Apalagi payudaraku memang cukup besar, ukuran 36B. Sehingga bagi sebagian besar laki-laki, terutama yang berhidung belang, aku adalah tipe perempuan yang ideal dan membangkitkan hasrat. Kadang ketika bercermin, aku melihat diriku bagai topeng monyet. Aku membenci diriku sendiri. Setelah selesai dengan urusan kecantikan, aku beranjak keluar. Kuambil kaca mata hitam dan jaket kulit hitam pemberian Oom Jerry, orang yang ku kenal di tempat kerjaku. Seorang lelaki paruh baya yang usianya sama dengan ibuku. Seorang penyayang yang baik hati. Aku begitu dekat dengan orang ini, mungkin karena sejak umurku 5 tahun, aku tak pernah lagi merasakan kasih sayang dan belai lembut seorang ayah. Oom Jerry bisa menempatkan dirinya sebagai seorang ayah bagiku. Dan aku nyaman dengan keadaan itu. Ku starter sepeda motorku, dan melaju menuju tempat kerjaku.

**

Sekitar 20 menit, aku sudah sampai di sebuah salon kecantikan untuk pria dan wanita. Disinilah aku bekerja, bukan sebagai seorang pelayan toko baju. Melainkan sebagai seorang kapster di sebuah salon kecantikan. Aku sengaja tidak memberitahukan ibuku soal pekerjaanku ini. Aku tak ingin ia tahu. Kuparkir motorku di tempat parkir khusus pegawai salon. “Selamat pagi mba Mirna..” Pak Parjo menyapaku ramah, tukang parkir sekaligus satpam salon di malam hari. “Pagi pak Parjo..” Kujawab sapaan ramahnya sambil tersenyum. Kubuka pintu salon, di dalam sudah ada “emak”, panggilan bagi wanita gemuk pemilik salon kecantikan ini. “Baru dateng Mir? Kok mukamu lesu? Kurang tidur ya?” Baru saja aku hendak melepas jaket dan helmku, emak sudah menjejali dengan pertanyaan yang menurutku tidak penting. “Iya mak, aku kurang tidur, semalem tamu rame..” Kujawab saja apa adanya, sambil berlalu menuju ke lantai atas. “Eh, tadi om Jerry nelpon ke sini, nanyain kamu udah dateng apa belum. Katanya dia udah nelpon HP kamu, tapi ga aktif..” Kata emak setengah berteriak. Aku langsung tersadar, ku periksa tasku. Ternyata benar, aku lupa membawa HP. Semalam baterai HPku habis, sebelum tidur HP aku charge, dan aku lupa membawanya.

**

Took..took..took.. “Mirna sayang..” Terdengar suara pintu di ketok, dan suara seorang pria memanggilku dari luar bilik kamar yang memang tersedia di salon ini. Aku terkejut, rupanya tadi aku sempat tertidur. Aku hafal suara ini, suara Oom Jerry. Kubuka pintu kamar berukuran 2×3 meter itu. Seketika Oom Jerry langsung memelukku dan menutup pintu. Dicumbunya aku habis-habisan, mulai dari kening, bibir hingga daerah-daerah sensitif di seluruh tubuhku. Sepuluh menit berlalu, kami berdua bergulat dengan peluh membasahi tubuh. Setelah kekamar mandi dan membersihkan diri, aku kembali ke kamar. Kulihat Oom Jerry mengenakan pakaiannya kembali. “Loh, mau kemana om? Kok buru-buru? Tumben nih? Gak kangen ya sama Mirna?” Ucapku sambil melingkarkan kedua tanganku di pundak Oom Jerry. “Aku buru-buru Mir, ada rapat di kantor. Gubernur mau dateng. Nanti sore aku kesini lagi ya. Ini kamu pegang dulu, nanti aku tambah ya sayang. Kamu jangan cemberut dong..” Oom Jerry memberikanku sejumlah uang, 500 ribu rupiah. Ia menenangkanku dan memberikan kecupan lembut di keningku. Raut mukaku memang berubah, biasanya Oom Jerry menyempatkan diri untuk berdiam sejenak, bersenda gurau denganku. Atau setidaknya mengajakku makan di sebuah restauran. Tapi tidak untuk hari ini, sepertinya dia memang terburu-buru.  Aku cukup mengerti tentang kesibukannya sebagai seorang anggota DPRD, tapi entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama dengannya. Oom Jerry memang berbeda dengan pelanggan-pelangganku yang lain. Aku tidak perlu lagi merayu untuk memberikan pelayanan ekstra. Aku memang bekerja di Salon, tapi tugasku bukan untuk melayani pelanggan biasa. Aku tak bisa mencuci rambut atau hal-hal lainnya yang berhubungan dengan salon kecantikan. Aku bekerja sebagai tukang pijat, itupun tidak benar-benar memijat seperti pijat refleksi dan lain-lain. Pijat adalah topeng dari pelayanan yang lebih khusus. Pelangganku kebanyakan adalah pria-pria beristri. Mungkin mereka tidak puas dengan istri mereka, atau mereka memang seorang penggila sex, dan akulah pelampiasan mereka. Tetapi Oom Jerry berbeda, pernah ketika suatu saat ia memintaku untuk melayaninya, tetapi aku tak menyanggupinya. Aku sedang tidak enak badan dan merasa kecapaian. Oom Jerry tidak memaksa, ia tetap memberiku uang dalam jumlah yang besar. Aku jatuh cinta, jatuh cinta dengan karismanya, dengan wibawanya. Dengan sifat kebapakannya. Dia sering memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku sekarang, dia mengajakku untuk nikah siri. Segala kebutuhanku dan keluargaku akan di tanggung olehnya. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa, aku tak ingin menikah siri, aku ingin mempunyai seorang suami yang resmi. Sedangkan Oom Jerry juga tak bisa serta merta menceraikan istrinya, karena dia juga butuh citra yang baik sebagai seorang politikus. Dan disinilah aku hingga saat ini, masih menanti.

bersambung…..

baca cerita sebelumnya : mirna dan dosa<!–