Pukul dua pagi, seperti biasanya, jam seginilah aku pulang kerumah. Anjas sudah tidur pastinya. Untuk anak berumur enam tahun, pada jam-jam seperti ini, rasanya mustahil masih bisa melihat dia tertawa, bermain-main dengan sepeda kecilnya, atau untuk sekedar memberi ucapan selamat tidur kepadanya. Anjasmara, begitu nama lengkapnya. Ibuku memberikan nama itu karena ia memang mengidolakan suami dari Dian Nitami itu. Banyak orang yang mentertawakan ketika ibu memberikan nama itu, ” orang susah kok ngasi nama yang bagus-bagus..” Begitu kata mereka. Tetapi ibuku tidak perduli, siapa tahu nanti cucuku bisa menjadi aktor terkenal seperti Anjasmara, begitu kata beliau. Njas, begitu kami biasa memanggilnya, merupakan buah hatiku satu-satunya. Anak dari entah lelaki mana. Pada malam itu, ada tujuh orang lelaki bajingan yang menggagahiku secara bergiliran. Sungguh sangat menyakitkan apabila aku harus mengingat kejadian 6 tahun lalu itu. Apalagi pada waktu itu umurku baru 18 tahun. Dulu sempat terpikir untuk menggugurkan kandunganku, tetapi ibu melarangku. ” Ojo nduk, bocah ki ra nduwe dosa. Nek koe ra gelem melihara, ben aku wae sing melihara…” (Jangan nak, anak didalam kandungan kamu itu tidak punya dosa, kalau kamu tidak mau merawat, biar aku saja yang merawat), begitu kata ibuku. Dan akupun menurutinya, walaupun dengan setengah hati. Aku menanggung sakit dan beban malu yang luar biasa. Perasaan itu berlanjut ketika Njas lahir. Aku tak sudi memberinya asi, untuk melihatnya-pun aku tak sudi. Najis, anak haram pikirku waktu itu. Tetapi dengan penuh kesabaran ibuku memberikan nasihat kepadaku, sekali lagi ia mengatakan, bahwa anak itu tidak punya dosa sama sekali, dia adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan di rawat dengan baik. Butuh waktu setidaknya dua bulan, hingga akhirnya hatikupun luluh. Waktu itu ibuku sedang berjualan di pasar, Njas menangis. Malas rasanya aku mendengar suara tangisannya. Kira-kira lima belas menit lamanya, dan Njas masih menangis. Dengan setengah hati aku menuju kamar ibuku. Aku sempat terdiam, apa yang harus aku lakukan? Pikirku. Lalu kuputuskan untuk mengangkat Njas dari tempat tidur, aku menggendongnya. Tapi dia masih saja menangis. Lalu aku teringat kata ibuku, bayi kalau menangis, itu tandanya dia lapar. Kubuka braku, lalu kudekatkan puting susuku yang sebelah kiri kedalam mulut Njas. Dengan cepat, diapun menyedot-nyedot puting susuku. Rasanya sakit. Tapi hatiku lega, karena Njas langsung terdiam, ia berhenti menangis. Dia memang lapar. Kupandangi wajahnya, kubelai kulitnya yang lembut, ah, benar kata ibuku, anak ini tidak punya dosa sama sekali, wajahnya benar-benar bersinar, bersih dan suci. Akupun meneteskan air mata, sungguh kejam aku sebagai seorang ibu, membiarkan anak ini tanpa belaian kasih sayang. Tidak lama ibuku muncul, dia menatapku dalam-dalam, ia tersenyum tapi meneteskan air mata. Aku terdiam, dan sejak saat itu, Anjas telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, pelipur laraku, penghapus lapar dan dahagaku. Dialah matahari yang menyinari gelapnya kehidupanku. Dialah Malaikat yang membuatku bertahan hidup.
**

Seperti biasanya, setiap malam, sebelum membersihkan riasan busuk di mukaku dan beranjak tidur, aku selalu menyempatkan diri menengok kamar Njas untuk sekedar memberikan kecupan di keningnya. Dengan perlahan ku buka pintu kamar yang sudah reot, kulihat ibuku juga telah tertidur tepat disamping Njas. Tangannya yang usang dan keriput melingkar di tubuh Njas, memeluk Njas dengan kehangatan dan kasih sayang. Setelah mengecup kening Njas, aku juga memberikan kecupan di kening ibuku. Terima kasih Ibu, bisikku. Ibuku tiba-tiba terbangun, kecupanku sepertinya telah mengganggu tidurnya. Dengan berbisik dia berkata, ” lembur lagi Mir? ” ” Iya bu. ” Jawabku. ” Yo wes, istirahat dulu, koe pasti capek kerjo. Aku buatin teh manis panas yo.” Ibuku mencoba berdiri dari tempat tidur, tapi aku segera menahannya. ” Gak usah bu, aku buat sendiri aja. Ibu tidur saja, ibu juga pasti capai, seharian jualan di pasar dan menjaga Anjas.” Sekali lagi ku kecup kening ibuku, ku selimuti badannya. Lalu aku beranjak keluar kamar. “Koe sesok lembur meneh Mir?” Belum sampai pintu, ibuku kembali memanggilku. “Iya bu, besok kan malam Minggu, pasti ramai.” Aku keluar kamar dengan perasaan berdosa. Air mataku menetes, aku berdosa, aku berbohong kepada Ibuku, Bidadari penyelamatku. Dia tidak pernah tahu apa pekerjaanku. Dia sering menanyakan kepadaku, tetapi slalu ku jawab seadanya, kalau tidak segera ku alihkan topik pembicaraannya. Aku bilang, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah toko baju. Dan malam harinya, aku lembur dan bekerja paruh waktu di cafe. Aku tak akan pernah sanggup memberitahukan pekerjaanku yang sebenarnya. Aku tak ingin ia tahu, aku tak ingin Njas tahu. Aku lalu pergi ke kamar mandi. Kubasuh mukaku, kubersihkan sisa-sisa riasan di mukaku. Aku harus tidur, hari ini sungguh melelahkan, dan besok malam aku harus kembali bekerja di sebuah gang kumuh, tepat di belakang pusat kota Jogjakarta, Malioboro..

Bersambung….