Seekor kucing sedang menikmati tulang ikan sisa makanan yang ia temukan di tong sampah. Anak-anak ayam mengekor di belakang induknya, paruh mereka menunduk mencari makanan. Mereka membentuk barisan yang rapi seperti sedang melakukan parade hari kemerdekaan. Pasukan semut leluasa bekerja, berharap pada sisa-sisa yang terbuang dari manusia. Angin yang berhembus sedikit kencang, mulai meruntuhkan dedaunan kering dari pohon mangga satu-satunya di tempat itu. Terlihat seorang wanita paruh baya yang menggunakan daster usang, tengah berjuang untuk mengumpulkan dedaunan yang berhamburan di tiup angin. Dia berusaha untuk membuat halaman itu bersih, walaupun harus melawan hembusan angin yang mencoba menggagalkan usahanya.

Halaman itu cukup luas, bahkan untuk digunakan sebagai tempat bermain futsal oleh para penghuni tempat tersebut. Seperti saat ini, sekitar 10 orang pria muda sedang berkumpul dengan peluh dan debu hanya untuk memperebutkan sebuah benda berbentuk bundar yang biasa di sebut bola. Karena halaman terbatas, maka di putuskan untuk bermain futsal saja. Tiang gawang di buat sendiri menggunakan kayu dari batang pohon mangga. Kreatif!! Menggunakan apa saja yang bisa di gunakan. Sesekali terdengar gelak tawa dan kata-kata yang masuk dalam kategori layak sensor. Semua terlihat bahagia, termasuk semut, kucing dan ayam.

Begitulah suasana sore di sebuah pemondokan mahasiswa atau yang biasa di kenal dengan sebutan kost-kostan. Wanita paruh baya tadi adalah istri dari penjaga kost, yang memang di tugaskan oleh si empunya kost, untuk menjaga kost-kostan pria ini. Mba Yanti namanya. Sudah hampir 5 tahun dia menemani suaminya, mas Bejo, yang di tugaskan oleh Ibu wenny sang pemilik kost-kostan. Ibu Wenny adalah seorang janda. Suaminya yang merupakan pensiunan perwira TNI telah meninggal 6 tahun yang lalu. Ibu wenny merupakan seorang wanita rumah tangga biasa. Sejak suaminya meninggal dia menjadi single parent dengan enam orang anak. Beruntung suaminya mewariskan usaha kost-kostan ini, sehingga ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk memenuhi segala kebutuhan hidup dirinya dan keenam anaknya. Kost itu ia namakan  kost-kostan pria Berbudi. Sesuai dengan nama suaminya, Budi Suhariono.

**

Anton adalah penghuni paling tua di kost ini. Dia sudah tinggal di kost-kostan ini sejak 6 tahun yang lalu. Anton merupakan mahasiswa tingkat akhir dari sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sudah 6 tahun kuliahnya tak selesai juga. Tahun ini adalah deadline, kalau saja tahun ini dia tidak lulus juga, maka siap-siaplah drop out dari kampus. Ada saja alasannya ketika di tanya mengapa kuliahnya tak juga usai. Sambil kerja-lah, sibuk mencari duit-lah dan hal-hal lainnya yang kadang tidak masuk akal.

“Jurusan gue itu teknik nuklir. Kalau gue lulus cepet-cepet, gue bingung entar mau kerja di mana. Indonesia kan gak boleh bikin senjata nuklir..”

“Lha, dulu pas awal kuliah kok milih masuk jurusan teknik nuklir ton?”

“Keren aja denger namanya. Teknik Nuklir…hihihihihihi”

Terlepas dari permasalahan kuliahnya yang tidak selesai-selesai, Anton merupakan sosok pria yang humoris dan menyenangkan. Mahasiswa tua yang berasal dari Jakarta ini sangat ramah dan baik kepada setiap orang. Dia akan selalu siap memberi bantuan kepada teman-temanya yang membutuhkan bantuan. Walaupun uang saku-nya perbulan pas-pasan, tetapi ia kerap dijadikan bank berjalan  alias tempat meminjam uang oleh teman-temannya. Orangnya easy going, mudah bergaul dan cepat akrab dengan orang-orang yang baru di kenalnya.

Selain Mas Bejo, Anton juga di tugaskan oleh Ibu Wenny untuk mengawasi anak-anak kost yang lain. Bahkan Ibu Wenny terkesan menganak-emaskan Anton di bandingkan yang lain. Setiap tahun, tarif sewa kost selalu naik, tetapi tidak bagi Anton. Dirinya tetap membayar sewa kost seperti ketika dia pertama kali masuk di kost-kostan ini. Bahkan dia di tugasi untuk menarik bayaran sewa kost setiap bulannya. Anton memang paling pintar mencari muka, termasuk dengan Ibu Wenny.

Sore itu, tumben-tumbenan Anton tidak ikut bermain futsal dengan anak kost yang lain. Biasanya, dia-lah yang paling semangat mengajak anak kost yang lain untuk olahraga sore.

“Daripada fitnes dan mengeluarkan duit banyak, mending kita main futsal di halaman kost-kostan, gratis! Sama-sama menyehatkan..” Katanya suatu saat.

Tapi hari ini, kamar Anton tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya, apabila kamar kost tertutup rapat dan terkunci dari dalam, itu artinya si pemilik kamar sedang bersama pacarnya. Sudah menjadi peraturan tidak tertulis di kost-kostan ini, dilarang mengganggu anak kost yang kamarnya tertutup rapat dan terkunci dari dalam! Anak-anak kost yang lainpun sepakat untuk tidak mengganggu Anton sore itu. Walaupun, mereka sempat bertanya-tanya, mengapa kamar Anton tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Setahu mereka, Anton tidak mempunyai seorang pacar. Anton memang mempunyai masalah dalam hal percintaan. Selama hampir 6 tahun hidup di Yogyakarta, Anton tidak pernah sekalipun terlihat membawa seorang perempuan ke dalam kamarnya.

“Gue punya pacar kok, cuman gue orangnya ga suka pamer. Pacar gue itu sibuk, wanita karier. Gua LDR (Long Distance Relationship)..”

Atau,

“Gue Lagi males pacaran. Punya cewek cuma bikin ribet aja, nyusahin…” Begitu jawabannya ketika di tanya soal pacar.

Tentu saja, itu adalah jawaban bohong. Jawaban diplomatis yang di keluarkan oleh Anton, untuk menutupi kenyataan bahwa sesungguhnya, ia adalah seorang pria tak laku. Bahkan setiap habis menjawab pertanyaan soal pacar, Anton langsung masuk ke kamarnya dan menangis.

“Tuhan, tolong datangkanlah seorang bidadari untukku. Aku pengen punya pacar Tuhan..”

Pertanyaan soal pacar terasa lebih menyakitkan di bandingkan dengan pertanyaan soal kuliahnya yang tak kelar-kelar. Anton bukannya tidak normal. Anton 100% pria jantan. Dia juga bukannya tidak pernah jatuh cinta atau tidak mempunyai ketertarikan dengan perempuan. Dia pernah jatuh cinta, bahkan sangat sering jatuh cinta. Anton adalah tipe cowok yang mudah jatuh cinta. Sedikit saja mendapatkan perhatian dari seorang perempuan, maka ia akan menganggap itu adalah pertanda bahwa perempuan tersebut menyukainya. Tetapi ia tidak pernah berani mengutarakan isi hatinya di hadapan perempuan yang di sukainya. Dia takut di tolak, dia takut perempuan tersebut akan menjauhinya ketika tahu perasaan Anton yang sebenarnya.

Anton memang pintar bergaul. Dia tidak menemui kesulitan untuk mendapatkan teman baru. Banyak yang ingin menjadi temannya. Tapi dalam hal bercinta, nilainya sama dengan nol. Ketika berhadapan dengan seorang perempuan yang ia sukai, mukanya mendadak berubah warna menjadi putih pucat. Suhu badannya panas dingin, kakinya gemetar dan bicaranya menjadi gagap. Padahal, Anton bukanlah seorang pendiam. Dia terkenal cerewet dan suka “nyerocos” semaunya. Tetapi ketika berhadapan dengan seorang perempuan yang ia sukai, ia akan berubah menjadi seorang pendiam. Lebih pendiam di banding sebuah lukisan bergambar pemandangan yang indah. Sebuah lukisan masih mampu berkata-kata dengan keindahannya. Sedangkan Anton tidak sama sekali, bahasanya adalah bahasa sehari-hari. Dia tidak pernah tahu bagaimana caranya meluluhkan hati seorang perempuan, atau kata apa yang pantas diucapkan untuk menggambarkan isi hatinya. Anton yang menyenangkan akan berubah menjadi Anton yang membosankan. Mungkin hal itulah yang membuat kaum hawa  sedikit enggan menjadi kekasihnya.

Karena hal itulah, anak-anak kost yang lain menjadi sedikit heran dengan tingkah laku Anton hari itu. Dia keluar kamar hanya untuk membeli makan dan rokok. Selain itu ia tidak keluar kamar sama sekali.

“Sudah-sudah, jangan kita ganggu teman kita yang satu itu. Mungkin sedang ngerjain skripsi..” Kata Ibnu, mahasiswa asal Balikpapan.

Lalu, apakah yang sesungguhnya sedang di lakukan Anton di dalam kamarnya? Benarkah ia sedang serius mengerjakan skripsi yang sudah 2 semester tertunda?

**

Boxer kuning bergambar pisang tergeletak begitu saja di lantai. Bersebelahan dengan asbak yang terlihat penuh dengan rokok filter merek jarum super. Kasur tipis berbahan busa dengan sprei warna coklat (dulunya warna putih, cuma karena jarang di cuci warnanya berubah jadi coklat) dan selimut bergambar bunga terlihat acak-acakkan. Sebuah kipas angin yang sudah berdebu bertengger di pojok kamar, tepat di depan bagian bawah kasur. Hanya kasur, tanpa dipan. Lemari berbahan plastik terlihat sudah reot dan tidak kokoh lagi. Sepertinya lemari itu sudah bosan menjadi tempat penyimpanan pakaian-pakaian yang selalu bertambah setiap bulannya. Kulit lemari itu sudah sobek. Resletingnya tidak berfungsi lagi. Sesekali terlihat seekor kecoa berjalan keluar dari dalam kamar mandi yang kotor dan bau. Mungkin kecoa itu tidak tahan dengan kondisi kamar mandi, atau mungkin kecoa tersebut harus berebut dengan laba-laba yang doyan membuat sarang. Kecoa itu berjalan menuju sebuah tempat yang mungkin terlihat lebih nyaman dan hangat di banding kamar mandi. Perlahan-lahan kecoa tersebut masuk kedalam tumpukan sepatu yang terlihat usang. Selain sepatu, kumpulan pakaian kotor yang di letakkan begitu saja di lantai mungkin saja akan menarik perhatian kecoa. Disamping kasur, terlihat sesosok mahluk yang sedang serius menatap komputernya. Mahluk itu bertubuh ceking. Rambutnya di buat semi mohawk. Kulitnya coklat. Wajahnya berminyak dan kotor. Pasti belum mandi! Mahluk itu tidak menggunakan baju, hanya boxer ketat berwarna pink. Boxer kesukaannya. Saking sukanya, boxer itu sudah seminggu lebih tidak di cuci. Asap rokok mengepul dari dalam mulutnya. Mirip kereta api. Entah sudah berapa bungkus rokok yang ia habiskan hari ini. Sesekali tangannya dimasukkan kedalam boxer, untuk menggaruk pantatnya. Mahluk itu adalah penghuni dan pemilik sah kamar berukuran 3×4 meter yang sangat berantakan dan jorok tersebut. Dialah Anton.

Matanya terlihat serius menatap layar komputer tua yang ia beli dari hasil bekerja paruh waktu sebagai sopir freelance. Di sebelah Layar komputer terdapat tumpukkan buku-buku yang tebal. Jarinya terlihat lihai memainkan qwerty keyboard berwarna hitam. “Kumpulan puisi cinta.” Ia mengetik keyword tersebut di google. Walhasil ada ribuan puisi yang di tampilkan. Ia membuka satu persatu dan membacanya. Namun dia terlihat tidak puas. Kemudian keywordnya di ganti. Kumpulan puisi romantis. Tapi ia masih terlihat tidak puas. Dia berpaling dari layar komputer dan membuka sebuah buku tebal berjudul Sayap Sayap Patah. Dia merebahkan tubuhnya dan membaca buku itu. Tapi tak berapa lama, diapun bangkit dan menggeleng-gelengkan kepala. Anton kemudian mengambil buku lain yang berjudul Aku. Tetapi hasilnya tetap sama. Dia terdiam sesaat, tangan kanannya dipakai untuk menggaruk kepala, tangan kiri di gunakan untuk menggaruk pantat. Monyet ini sedang bingung kronis. Diambilnya bungkus rokok jarum super.

“Sialan, rokok gue abis…”

Anton segera bangkit. Dia menuju lemari pakaian untuk mengambil kaos oblong bergambar Kurt Cobain. Musisi idolanya. Setelah mengambil uang secukupnya, dia membuka pintu kamar. Dia bermaksud untuk pergi kewarung untuk membeli rokok. Dia sedikit terkejut ketika membuka pintu kamarnya. Matahari sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Masya Alloh, kok udah gelap aja ya? gumamnya dalam hati. Setelah mengunci pintu kamar, Anton-pun berjalan menuju anak tangga yang persis berada di sebelah kamarnya. Kamar Anton memang berada di lantai 2.

“Mau kemane lu ton?”

“Beli rokok nyet…” Jawab Anton cuek. Dia bahkan tidak tahu siapa yang menyapanya.

Tak berapa lama, Anton sudah kembali ke kamarnya yang menurut dia adalah istananya. Padahal jika dilihat, seekor kambing-pun mungkin enggan untuk tinggal di tempat itu. Warung tempatnya membeli rokok jaraknya tidak jauh dari kost-kostan. Cukup dengan berjalan kaki. Dia kembali melanjutkan aktifitasnya tadi. Dia mengambil sebuah bantal. Bukan untuk tidur, melainkan digunakan sebagai alas bagi pantatnya yang tepos. Dia membuka bungkus rokok yang baru ia beli, mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Dia membuka folder MP3 di hard disk komputernya. Tak berapa lama, terdengar suara serak khas Kurt Cobain menyanyikan lagu nevermind. Buku-buku tebal yang tadi ia baca di singkirkan jauh-jauh.

“Tak berguna…” Gumamnya.

Kemudian, dia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen, sepertinya ingin menuliskan sesuatu.

Puisiku Untuk Keyla

Gue, eh, Aku selalu meng membayangkan dirimu

Aku bukan binatang manusia jalang yang terbuang

Aku ingin mem menembakmu dengan peluru cintaku

Aku malu tapi mau

jadikanlah aku pacarmu

biarkan ku bingkai wajahmu dengan cintaku

Lelap haru di taman itu

mengingatkanku padamu

Di bacanya lagi puisi yang ia buat. Dahinya mengkerut.

“Puisi gue sampah banget dah ah. Keyla pasti ga suka nih..”

Anton menyobek kertas yang berisi puisi buatannya dan melemparkannya begitu saja. Ternyata apa yang teman-temannya pikir sejak tadi tidak benar. Anton tidak sedang mengerjakan skripsinya. Ia sedang berusaha untuk membuat sebuah puisi yang akan dia berikan kepada seorang perempuan bernama Keyla. Perempuan yang sudah 2 bulan ini membuatnya susah tidur, susah makan dan membuatnya menjadi betah berlama-lama di toko buku. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Keyla adalah mahasiswi tingkat 2 dan merupakan junior Anton. Anton pertama kali melihatnya di kampus ketika ia menjadi ketua panitia OSPEK, dan Keyla, kala itu adalah mahasiswi baru. Keyla mengambil jurusan sastra di kampusnya. Ia begitu menyukai dunia sastra. Ia mengagumi sosok Kahlil Gibran dan Chairil Anwar. Hal itulah yang membuat Anton tertarik atau yang lebih tepatnya terpaksa tertarik dengan dunia sastra. Pasalnya, Anton sering mengantarkan Keyla pergi ke toko buku. Sejak pertama melihat Keyla, Anton langsung tertarik. Benih-benih cinta mulai tumbuh di dalam hatinya ketika mereka mulai saling mengenal lebih dekat.

Keyla adalah sosok perempuan mandiri dan dewasa. Ia tak pernah merepotkan orang lain. Apa yang bisa di lakukannya sendiri, pasti dilakukan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Parasnya manis, berkulit putih dan tubuhnya proporsional. Ia menggunakan kaca mata minus berukuran kecil. Hal tersebut tidak membuatnya terlihat bodoh atau lugu, tetapi justru membuatnya terlihat semakin cantik, smart dan berpengetahuan luas.

Anton yang dulunya tidak tahu dan tidak pernah mau tahu soal sastra menjadi tertarik karena Setiap bertemu, Keyla pasti membahas Chailil Anwar, Kahlil Gibran dan sastrawan-sastrawan terkenal lainnya. Anton tidak pernah merasa jenuh mendengar cerita-cerita tersebut. Perasaannya terhadap Keyla justru bertambah. Dia sangat menyukai cara Keyla berbicara. Halus, lembut namun terkadang manja. Tetapi Anton tetaplah Anton. Dia tak pernah sanggup untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Keyla. Padahal, apa yang ia rasakan terhadap Keyla sangat jauh berbeda dengan yang ia rasakan dengan perempuan-perempuan lainnya. Dia-pun tidak menjadi terlalu gagap, karena Keyla selalu bisa menyajikan topik pembicaraan yang menarik.

Tetapi kali ini, Anton tidak mau lagi berdiam diri. Dia harus segera menyatakan cintanya kepada Keyla. Apalagi kesempatan yang ia punya hanya sampai besok. Besok, Keyla akan pergi dalam waktu yang lama. Ayahnya yang merupakan seorang diplomat menyuruhnya untuk tinggal dan melanjutkan studynya di Australia. Anton sempat sedih ketika mengetahui hal tersebut. Tapi apa daya. Keyla harus menuruti permintaan ayahnya. Apalagi ia merupakan anak perempuan satu-satunya. Anak bungsu dari 5 bersaudara. Ke-empat kakaknya sudah berkeluarga. Wajar kalau ayahnya ingin Keyla tinggal di Australia.

Anton masih takut untuk menyatakan isi hatinya secara langsung kepada Keyla. Dia takut menjadi gagap dan justru menghancurkan segala rencananya. Ia memutuskan untuk membuat puisi cinta untuk Keyla. Tapi membuat puisi cinta itu tak semudah yang ia bayangkan. Apalagi sebelumnya, ia tak pernah sama sekali membuat puisi untuk seorang perempuan yang ia cintai. Untuk itulah ia membeli buku-buku sastra karya Kahlil Gibran dan Chairil Anwar. Untuk referensi, pikirnya. Dia juga tak segan-segan mendengarkan lagu-lagu cinta. Biasanya dia paling anti dengan lagu-lagu jenis ini. Tapi demi cinta, semua harus di lakukan.

Anton-pun melanjutkan menulis puisi. Sudah banyak kertas yang terbuang. Tapi, setelah hampir tiga jam berlalu, Anton terlihat tersenyum puas. Dia mematikan komputer dan tidur. Besok ia harus bangun pagi-pagi sekali, untuk menemui Keyla di bandara, sebelum keberangkatannya ke Australia.

**

Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Tak biasanya Anton bangun sepagi ini dan sudah berpenampilan rapi. Dia menggunakan baju khusus yang di belinya kemarin. Setelah menggunakan minyak wangi dan gel untuk rambutnya, Anton-pun bergegas keluar kamar. Anton menghidupkan sepeda motor bebek miliknya, dan melajulah ia menuju bandara. Menuju cintanya.

Anton terlihat tergopoh-gopoh, ia berlari kencang dari tempat parkir motor menuju ke terminal keberangkatan. Hari ini hari senin, hari dimana orang-orang memulai aktifitasnya. Dia terjebak kemacetan sepanjang perjalanannya menuju bandara. Biasanya, waktu yang di butuhkan dari tempat kost menuju bandara hanya 10 menit. Namun kali ini, waktu yang di butuhkan hampir setengah jam. Pesawat Keyla berangkat pada pukul 6.45.

“Keyla…”Anton berteriak ketika melihat Keyla hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan.

Keyla tersenyum melihat Anton.

“Maaf aku telat. Ini untuk kamu..” Anton menyerahkan amplop berisi puisi yang telah ia siapkan semalaman.

“Ini apa ton?” Keyla terlihat bingung menerima amplop dari Anton.

“Dibawa aja Key, entar di baca di pesawat ya..” Anton nyengir.

“Ok deh. Eh aku berangkat dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik…” Keyla memberi kecupan pada pipi Anton.

Anton terdiam, dia tak menyangka akan mendapatkan kecupan dari Keyla. Bahkan dia masih terdiam ketika Keyla melambaikan tangan kearahnya, tanda perpisahan tengah berlangsung.

Setelah pesawat lepas landas, Keyla membuka amplop pemberian Anton. Ada kertas bermotif  bunga mawar, lengkap dengan potongan bunga mawar yang asli. Keyla memang sangat menyukai bunga mawar, dan Anton tahu hal tersebut.

Untuk Keyla Yang Manis

Dear Keyla…

Aku gak pernah menyangka bahwa suatu saat aku akan bertemu perempuan seperti kamu. Aku gak pernah berfikir bahwa cowok seperti aku akan bertemu bidadari cantik seperti kamu. Kamu mampu mengubah aku, dari yang sebelumnya tidak peduli, menjadi peduli, dari yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Dari yang sebelumnya tidak wangi menjadi wangi. Dari yang sebelumnya jarang mandi, menjadi doyan mandi..hehehehe (beneran lhoo). Kamu adalah perempuan pertama yang buat aku seperti ini. Kamu adalah perempuan tercantik yang pernah aku lihat.

Keyla yang manis..

Waktu mendengar kabar rencana kepergianmu ke australia, aku sungguh terpukul. Aku sungguh sedih. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu Key, aku tak tau apakah aku mampu jauh darimu. Hmmm, aku memang cowok pengecut Key, aku tak pernah bisa mengungkapkan perasaanku secara langsung sama kamu. Eh, tapi aku buat puisi lho…. dan ternyata aku baru tau, buat puisi itu susah banget. Aku udah beli buku Kahlil Gibran dan Chairil Anwar. Aku udah dengerin lagu-lagu cinta, tapi tak ada satu katapun yang mampu menggambarkan isi hatiku. Untuk itu, aku mutusin buat nulis puisi pake kata-kataku sendiri (tadinya mau nyontek ;p). Semoga kamu suka dengan puisi yang aku buat…

With Love, Anton

Untuk Keyla

kodok tertawa riang, mereka tidak bernyanyi, mereka tertawa

mereka mentertawakan aku, aku dan khayalanku yang lugu

semut-semut berbaris rapi, tetapi sesekali terhenti, tidak untuk mengambil makanan, tetapi untuk tertawa

mereka mentertawakan aku, aku dan khayalanku yang lugu

nyamuk-nyamuk terbang mengelilingiku, tapi mereka tidak tertawa, mereka hanya berbisik padaku

kamu lugu, kamu lucu, kamu bodoh, begitu kata mereka

mengapa? tanyaku

manusia di ciptakan untuk sesama manusia

betapa bodohnya dirimu mengharapkan  bidadari?

aku terdiam,

mereka benar, mereka semua benar

sungguh tak pantas bagiku mendapatkan cinta dari  mahluk ciptaan tuhan yang paling indah

betapa lugunya aku berkhayal  tentang bidadari

tapi biarkanlah aku tenggelam dalam kebodohanku

ijinkanlah aku berimajinasi dengan keluguanku

aku hanya manusia yang jatuh cinta