Si Soleh bertanya pada bapaknya yang tukang becak, “pak, kapan ya kita bisa punya mobil seperti itu?” sambil menunjuk ke arah sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam. “Kamu kok aneh-aneh, jangan mimpi kamu!buat makan saja kita susah, belum lagi buat bayar kontrakan. Mobil seperti itu yang punya cuma orang besar, orang kaya, orang gdongan. Orang seperti kita, sudah bisa makan saja untung..” Si Soleh sedih, hatinya terluka. Dia ingin sekali bisa merasakan berada di dalam mobil. Dia ingin tahu, benda apa saja yang terdapat di dalam mobil itu. Pasti sangat nyaman berada di dalamnya. Tidak seperti becak kepunya-an bapaknya. Temannya yang bernama Adi lebih beruntung, bapaknya adalah seorang sopir pribadi dari seorang pejabat. Adi sering di ajak oleh bapaknya bekerja. Kebetulan majikan bapaknya adalah seorang yang baik hati. Dari Adi-lah Soleh mendengar cerita bahwa berada di dalam sebuah mobil itu sungguh sangat menyenangkan. Kursinya empuk, ada televisinya, sejuk dan nyaman. Bocah lugu berumur 8 tahun ini tertegun lesu. Seperti menyesali keadaan. Dia menyalahkan Tuhan, menurutnya Tuhan sungguh tidak adil. Mengapa bapaknya hanya menjadi tukang becak, mengapa tidak menjadi sopir pribadi seperti bapaknya Adi. Jadi, kapanpun dia ingin merasakan nyamannya berada di dalam sebuah mobil, ia tinggal meminta kepada bapaknya untuk diajak bekerja. Keesokan harinya, selesai membantu ibunya berjualan di pasar, Soleh tidak langsung menemui bapaknya di pangkalan becak, tempat bapaknya biasa “ngetem” sambil menunggu penumpang. Ia menuju rumah Adi. Siapa tahu bapaknya Adi memperbolehkan ia untuk “mencicipi” rasanya berada di dalam mobil. Keinginannya sudah menggebu-gebu, padahal ia tahu pasti bapaknya akan memarahinya habis-habisan. Disamping telat mengantar makanan, Soleh sangat dilarang untuk meminta-minta kepada orang lain. “Walaupun kita miskin, meminta-minta itu adalah hal yang hina..” Sesampai di rumah Adi, dia mendapati pemandangan yang tidak biasa. Rumah Adi yang biasanya sepi kini mendadak rame. Banyak orang berkumpul, ibu-ibu menggunakan kerudung, dan bapak-bapak menggunakan baju muslim dan kopiah. Persis suasana pengajian. Soleh pun memasuki pekarangan rumah Adi. Soleh melihat ke dalam rumah Adi, dilihatnya Adi sedang menangis sesenggukan di pelukan pamannya. Ada apa gerangan? Soleh-pun membatin. Soleh memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang tamu yang hadir di rumah Adi. Soleh tersentak, ia terkejut mendengar jawaban orang tersebut. Orang itu mengatakan bahwa bapaknya Adi telah meninggal karena kecelakaan mobil ketika mengantar majikannya keluar kota. Soleh terdiam, dari jauh ia pandangi Adi yang masih menangis. Air mata Soleh menetes, dia langsung berlari pergi meninggalkan rumah Adi. Jauh, ia terus berlari. Pangkalan becak tempat bapaknya biasa “mangkal” adalah tujuannya. Sesampainya disana, ia berlari menghampiri bapaknya. Dia memeluk tubuh bapaknya dengan erat. Sambil terisak, iapun berkata, “maafkan Soleh ya pak, Soleh gak pengen punya mobil lagi, Soleh bangga punya bapak tukang becak, Soleh sayang bapak, Soleh gak mau bapak mati..” Dahi bapaknya mengkerut, namun kemudian ia tersenyum. Diusapnya kepala Soleh dengan lembut. “Tuhan itu Maha Adil. Dialah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Hanya Dia yang tahu apa yang terbaik buat kita, walaupun kadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Percayalah nak, selalu ada hikmah di setiap kejadian. Dan bersyukurlah, karena setiap hembusan nafas kita adalah kenikmatan tiada tara.”