Beberapa hari terakhir, Anton sudah mulai jarang terlihat di kost-kostan. Teman-teman satu kostnya masih menyangka bahwa Anton sedang sibuk mengerjakan skripsi yang gak kelar-kelar. Bukan tanpa alasan, karena setiap keluar dari kost, Anton selalu membawa tas ransel usang satu-satunya yang ia punya.Walaupun tidak pernah melihat isi tas Anton secara langsung, teman-teman satu kostnya memastikan bahwa isi tas Anton adalah buku-buku atau naskah skripsi Anton.

**

Tebakan teman-teman Anton tidak salah, tapi juga tidak 100% benar. Tas ransel yang selalu di bawa Anton setiap kali ia pergi meninggalkan kost memang berisi kumpulan buku. Namun bukan buku-buku yang berkaitan dengan skripsi yang tengah ia kerjakan, melainkan buku-buku yang berhubungan dengan sastra. Mulai dari Kahlil Gibran sampai novel-novel popular dan best seller di Indonesia. Anton mulai tertarik dengan dunia sastra sejak ia mengenal perempuan bernama Keyla. Masih ingat Keyla kan? Iya, Keyla, perempuan pertama dan satu-satunya yang membuat Anton rela begadang hingga tengah malam hanya untuk membuat sebuah puisi cinta. Perempuan yang berhasil membuka pintu hati yang telah lama ia kunci. Dan perempuan itu-lah yang akhirnya membuat Anton harus menderita patah hati untuk kesekian kalinya. Keyla pergi meninggalkan Anton, ketika Anton menaruh hati padanya. Miris..

Sudah sebulan semenjak kepergian Keyla. Awalnya, Anton mengalami depresi dan patah semangat. Namun lama-kelamaan, dia mulai terbiasa. Anton sudah bisa melupakan Keyla. Segala hal tentang Keyla dan kenangannya telah ia kubur dalam-dalam. Semua? Tidak, tidak semuanya. Kecintaan Anton terhadap dunia sastra yang ia dapatkan dari hubungannya dengan Keyla tidak sirna. Bahkan bertambah besar.

Kecintaan terhadap dunia sastra ini-lah yang membuat Anton perlahan-lahan mulai menghapus bayangan Keyla dari benaknya. Seminggu sekali, ia menyempatkan diri pergi ke toko buku. Ia bisa menghabiskan waktu seharian membaca buku-buku, yang memang di sediakan dan di perbolehkan untuk di baca disana. Kalau ada buku yang menurutnya harus di baca berulang-ulang, maka ia akan membelinya.

**

“Wah, rajin amat lo ton, tengah malem gini bawa tas ransel. Garap skripsi ya? Semangat ya ton!!”  tegur Oky, salah seorang penghuni kost ‘berbudi’.

Kebetulan, kamar Oky persis berada di sebelah kamar Anton. Anton yang terlihat sedang mengunci pintu kamar hanya tersenyum mendengar pertanyaan teman satu kostnya yang berbadan subur itu.

“Gue jalan dulu ya nyet. Tolong liat-liatin kamar, di dalem kamar gue ada emas batangan. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia kita berdua.” Anton menepuk pundak Oky sambil berlalu.

“Eh, serius lo ton?” Oky setengah tidak percaya dengan perkataan Anton barusan.

Tanpa menoleh ke belakang, Anton melambaikan tangan dan mengangkat ibu jarinya. Oky mengartikan isyarat tersebut sebagai jawaban “iya”. Oky mengangguk-ngangguk lugu. Ia sangat mudah percaya dengan apa yang di katakan orang lain kepadanya.

“Wokee sob. Tenang aja, gue bakal jagain kamar lu..” ujar Oky setengah berteriak.

Teriakannya tentu tidak terdengar oleh Anton. Anton sudah ngacir dan berlalu dengan motor bututnya. Anton mengira Oky tidak akan menanggapi perkataannya dengan serius.

Tapi perkiraan Anton meleset. Oky merasa bahwa ia mendapatkan tugas khusus dari Anton. Penghuni senior di kost. Dalam hatinya, ia bertekad tidak akan tidur semalaman dan akan menjaga kamar Anton dengan segenap jiwa. Benar saja, sepanjang malam, Oky hanya nongkrong di depan kamar Anton. Ia bahkan telah menyiapkan dua bungkus kopi instant dan dua bungkus rokok Dji sam soe untuk membantunya terjaga. Anak kost yang lain sedikit heran dengan tingkah laku Oky malam itu.

“Bah, ngapain pula si anak badak ini disini? Tak ada kerjaan rupanya?” Iwan Aritonang,  mahasiswa jurusan hukum asal Medan yang kebetulan melintas di depan kamar Anton menegur Oky.

“Gue lagi dapet tugas rahasia tak. Sono lo minggat. Daerah ini harus steril 24 jam!!” jawab Oky.

“Bah, sudah sinting kau rupanya..” Kata batak, panggilan sehari-hari Iwan.

“Lo yang miring. Udah sono, minggat..” sambar Oky sambil mendorong tubuh batak bermaksud mengusirnya dari tempat itu.

Batak-pun berlalu sambil meletakkan jari telunjuk ke dahinya, posisi miring. Isyarat untuk mengatakan bahwa Oky sudah sinting. Oky cuek. Dia meneguk kopi instant yang sudah ia seduh dengan air panas.

Tidak hanya batak, anak-anak kost lain yang kebetulan melintas di depan kamar Anton juga menanyakan hal yang sama. Dan Oky-pun memberikan jawaban yang sama pula. “Pada gak tau kali yak, gue kan lagi dapet tugas rahasia dari bos Anton!!” Oky mengoceh sendirian, benar-benar mirip orang sinting.

**

Anton memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah warnet. Warnet? Yap, sudah seminggu ini Anton bekerja paruh waktu sebagai operator warnet. Warnet ‘Happy’ ini adalah kepunyaan Andi, teman kampusnya yang kebetulan sudah lebih dulu lulus. Anton langsung menerima ketika Andi menawarkan pekerjaan sebagai OP warnet. Lumayan untuk nambah uang saku, pikir Anton.

Jarum jam sudah menunjuk ke angka 12. Waktunya bagi Anton untuk bertugas menggantikan shift operator warnet yang lain.

“Bang, jagain capung ya. Jangan sampe ada yang berani menyentuh, membelai, apalagi sampai mengambil..hehe..” Anton berkata kepada tukang parkir warnet.

“Siap bos!!” jawab tukang parkir sambil memindahkan capung ke tempat khusus.

Capung adalah nama yang di berikan Anton bagi sepeda motor bebek butut miliknya. Motor bebek mungil berwarna hijau itu memang pantas di beri nama capung. Bentuk lampunya sangat mirip dengan bentuk kepala capung. Apalagi warnanya juga hijau muda. Pas.

Anton masuk ke dalam warnet. Dia memberikan waktu kepada OP sebelumnya untuk me-rekap data-data yang menyangkut keuangan. Berapa orang yang datang ke warnet dalam rentan waktu 8 jam, dan berapa jumlah uangnya. Dalam satu hari terdapat 3 shift. Shif pagi, shift sore dan shift malam. Satu shift berdurasi 8 jam. Anton memilih shift malam. Dia memang suka begadang.

Anton lalu mengecek data di layar computer. Malam ini cukup ramai. Memang, warnet baru dengan spesifikasi computer yang tinggi dan harga promosi pasti akan di serbu pelanggan. Anton biasanya menghabiskan waktu dengan chatting atau main game. Dia tidak terlalu suka bermain facebook. Baginya, facebook hanyalah permainan ABG (Anak Baru Gde). Gak penting dan gak bermanfaat sama sekali.

Tapi Anton lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca. Untuk itu-lah ia selalu membawa tas ransel yang berisi buku-buku sastra. Dan malam ini, ia berniat untuk mengulang membaca novel karya Andrea Hiratta yang berjudul Sang Pemimpi. Terhitung, sudah tiga kali ia membaca novel ini. Anton jatuh cinta dengan alur dan gaya penulisan Andrea Hiratta. Apalagi sejak menonton filmnya di bioskop, Anton sampai harus meneteskan air mata. Mungkin karena terharu, mungkin juga karena  teringat sosok Keyla. Keyla-lah yang mengenalkan Anton pada novel-novel karya Andre Hiratta, khususnya Sang Pemimpi.

**

Baru setengah membaca, lubang hidung anton terlihat kembang kempis, seperti mencium sesuatu. Anton terdiam sejenak, dia terlihat familiar dengan bau ini. Setelah mengingat-ingat, Anton lalu memastikan bahwa bau yang ia cium adalah bau kentut!! Bau yang telah menyerangnya belakangan ini. Setelah memastikan kalau bau yang ia cium adalah bau kentut, Anton mengangkat bagian atas kaos yang ia kenakan untuk menutup hidungnya. Tindakannya tidak terlalu berpengaruh besar, bau itu begitu kuat sehingga mampu menembus kaos oblong yang di gunakan Anton untuk menutupi hidungnya. Anton mual, dia beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari ruangan. Sesampainya di luar, mas Darmin, tukang parkir warnet heran melihat Anton yang bertingkah aneh. Anton mengembungkan pipinya dan meniup-niup, seperti habis menahan nafas.

“Kenapa mas? Kok kaya’ kena asma gitu?” kata mas Darmin keheranan.

“Bukan asma bang, tapi di dalem ada yang kentut. Baunya bused…edan, bikin mual. Baru kali ini bang, gue nyium bau kentut seperti ini. Orang yang kentutnya super bau gini seharusnya bisa masuk MURI bang..” Anton menjawab pertanyaan mas Bejo sambil terus meniup-niup.

“Hahahaha…. Bisa aja mas Anton ini. Mungkin yang kentut abis makan pete atau jengkol kali mas..” kata mas Bejo sambil tertawa.

“Pete ama Jengkol mah masih mendingan bang, di makan enak, lha kalau kentut gini? Bikin frustasi.” Jawab  Anton sewot.

“Gue masuk dulu ya bang, mudah-mudahan baunya udah ilang.” Kata Anton sambil berjalan masuk ke dalam warnet. Tapi baru berjalan dua langkah, Anton berbalik..

“Punya pengharum ruangan gak bang?”

“Ada tuh mas, di laci meja operator. Cari aja di sana..” mas Darmin menjawab singkat.

Anton membuka pintu warnet. Ia masih menahan nafasnya. Namun secara perlahan, ia mulai menghirup udara.

“ Alhamdulillah, baunya udah ilang.”  Anton membatin.

Ia kembali duduk di kursi operator, membuka laci meja dan mencari pengharum ruangan. Cocok, pengharum ruangan wangi apel, kesukaan Anton. Anton segera menyemprot ruangan dengan membabi buta. Ia sengaja menyemprot berulang-ulang, agar sang pengentut sadar diri bahwa kentutnya telah mencemari udara di dalam warnet. Anton menutup novel Sang Pemimpi. Ia merenung sejenak. Sudah dua hari ini, setiap ia menjadi OP bau kentut selalu menyerang. Hal ini tidak bisa di biarkan begitu saja, tersangka harus segera di temukan. Kalau kaya’ gini terus, warnet bisa sepi gara-gara ulah penjahat kentut, gumam Anton dalam hati.

Tapi bagaimana caranya? Membuang kentut sembarangan adalah sebuah kejahatan terselubung, kejahatan yang sangat sulit di buktikan secara autentik.Sangat tidak mungkin menanyai user satu-persatu,  dan memaksa mereka untuk mengaku, karena semua itu perlu bukti yang nyata.  Anton mengecek nama-nama user di layar computer. “Aha!!” kata Anton setengah berteriak.  Beberapa user menoleh sinis kepadanya. Anton cuek. Matanya tertuju pada dua nama user aktif di layar komputer.

Sebenarnya Anton memang telah mencurigai dua orang user yang setiap hari datang ke warnet itu. Yang pertama, seorang laki-laki seumuran Anton. Badannya gendut, pakaiannya selalu lusuh dan sering menggunakan sandal jepit. Mukanya kusam seperti jarang mandi. Orang ini telah menjadi pelanggan tetap alias member, dan menggunakan layanan paket on-line sekali bayar. Jadi bayarnya hanya sebulan sekali, dengan system voucher. Orang yang telah menjadi member bebas menggunakan komputer selama billing vouchernya masih ada. Dia memakai user name gendut-ok.

Yang kedua, juga seorang laki-laki. Umurnya kira-kira 3 tahun lebih muda dari Anton. Badannya kurus ceking, rambut kribo. Sering memakai jeans ketat dan kaos oblong. Bentuk mukanya kotak dan gepeng, lusuh dan kusam. Pasti jarang mandi juga. Anak ini juga telah menjadi member tetap warnet ini.Dia memakai user name emo_boys.

Anton menduga, salah satu di antara mereka berdua-lah yang mencemari udara  dalam warnet. Pasalnya, pengunjung-pengunjung yang lain tidak mempunyai tampang kriminal seperti mereka. Dan kejahatan kentut ini selalu terjadi ketika mereka berdua sedang ada di dalam warnet. Tapi bagaimana cara membuktikannya? Anton memutar otak. Setelah lama di putar, otak Anton sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Sepertinya, otak Anton sedang tidak ingin di ganggu gugat. Tak ada ide yang muncul. Ah seandainya dulu Einstein sempat menemukan alat pendeteksi kentut, seperti pendeteksi asap, pasti masalah tidak akan menjadi serumit ini. Anton melamun sambil menghayal. Namun lamunan Anton buyar setelah salah seorang user menegurnya.

“Udah selesai mas. Berapa?” Seorang cewek cantik, manis dan putih membuyarkan lamunan Anton dengan suara lembutnya.

“Oh, udah selesai ya mba? Kok tumben cepet?” Tanya anton berbasa-basi.

“Iya nih mas, ada janji ama temen. Semuanya berapa mas? Tadi aku nambah teh botol satu.” Cewek itu menjawab pertanyaan Anton dengan ramah.

“Semuanya jadi tujuh ribu lima ratus mba.”

“Ini mas, duitnya.” Cewek itu memberikan selembar uang sepuluh ribuan kepada Anton.

“Makasi ya mba..” Kata Anton ketika memberikan uang kembalian pada cewek itu. Cewek itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan segera pergi.

“Perasaan tu cewek sering kesini deh. Kok gue baru nyadar ya kalo dia cantik?’ Anton membatin.

Tapi Anton segera mengalihkan pikirannya tentang cewek putih dan manis itu. Ia masih pusing memikirkan bagaimana caranya agar pelaku kejahatan kentut ini dapat terungkap.

**

Setelah semalaman berpikir keras, Anton masih belum juga menemukan cara untuk mengetahui si pelaku kejahatan kentut. Dan waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi. Itu artinya, shift jaga Anton sudah selesai. OP pengganti Anton juga sudah datang.

“Bang..bang, bangun bang..Udah siang.” Anton membangunkan mas Darmin yang rupanya, tertidur di kursi depan warnet.

“Eh, mas Anton. Mau pulang ya mas? Jawab mas Bejo sambil menguap.

“Iya bang. Udah jam 8. Capung mana bang? Aman kan? Hehe…”

“Tenang aja bos, pokoknya aman. Sebentar, saya ambilin capungnya.” Mas Darmin beranjak dari kursi dan pergi menuju garasi warnet, tempat capung bernaung.

“Ini mas, masih aman tanpa  kekurangan suatu apapun.” Mas Bejo muncul dengan membawa capung.

“Alhamdulillah. Ini bang, buat beli rokok.” Anton menyelipkan uang sepuluh ribu ke dalam jaket mas Darmin.

“Eh gak usah mas..” mas Darmin coba mengembalikan uang yang Anton beri.

“Ah, udah, pegang aja bang. Itu rejeki abang. Gue cabut dulu ya bang. Assalamualaikum..”

“Kumsalam, makasi ya mas.” Mas Darmin melambaikan tangan kepada anton yang sudah ngacir.”

Sesampainya di kost, Anton segera memarkirkan capung. Namun Anton tidak langsung menuju kamar. Ia menuju toilet umum yang terdapat di depan tempat parkir motor. Rupanya sepanjang perjalanan tadi ia menahan HIV (hasrat ingin vivis). Kost berbudi memang menyediakan dua buah toilet untuk umum. Satu di atas, dan satu lagi di bawah. Kok Cuma dua? Iya, Cuma ada dua, karena setiap kamar di kost ini telah memiliki kamar mandi masing-masing. Istilahnya kamar mandi dalam.

Cukup lama anton berada di kamar mandi. Udara Jogja pagi ini memang terasa lebih dingin dari biasanya. Disamping itu, Anton sudah menahan HIV sejak dari warnet tadi. Jadi, jumlah air kencing yang di keluarkan lumayan banyak. Sambil ‘pipis’, Anton iseng-iseng membaca tata-tertib penggunaan toilet umum kost berbudi.

“Sejak kapan ni toilet punya tata-tertib?” ujar Anton. Anton tersenyum geli membaca tata-tertib yang di tempel di dinding toilet.

Tata-Tertib Penggunaan Kamar Mandi/Toilet Kost Berbudi

  1. Dilarang Membuang sampah kedalam lubang kloset, baik berupa tissue dll
  2. Dilarang kencing di lantai toilet, kalau kencing di lubang kloset dong, biar gak bau.
  3. Sehabis kencing, tolong di siram. Apalagi habis beol.
  4. Dilarang mengeluarkan suara berlebihan ketika beol, karena akan membuat yang mendengar menjadi mual.
  5. Bagi pengguna toilet yang habis makan Jengkol/pete, di mohon untuk kencing/beol di kamar mandi mandi masing-masing, karena baunya akan menyebabkan fitnah.

Pengurus dan penanggung jawab toilet kost berbudi

Ttd

“Hahahaha…ngocol juga nih yang bikin peraturan..” kata Anton sambil tertawa.

Tiba-tiba Anton terdiam. Kalau di gambarkan, saat ini di atas kepala Anton terdapat sebuah bohlam lampu yang bersinar.

“Gue dapet ide…” kata Anton.

Setelah menyiram dan membersihkan sisa-sisa pipisnya, Anton buru-buru keluar dari dalam toilet. Ia langsung menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Di depan kamarnya, Anton menemukan Oky sedang tertidur dengan posisi jongkok dan mulut terbuka. Air liur Oky menetes. Dengkurannya sangat keras.

“Eh badak. Bangun. Ngapain lo tidur di depan kamar gue?” Anton mengguncang badan Oky.

“Eh, bos Anton. Baru pulang bos?” Jawab Oky sambil ngelap iler dengan bajunya.

“Bos, bos.. Bos apaan? Bosok? Elu bosok. Ngapain lo pake tidur di depan kamar gue gini?” Anton sewot.

“Lha? Kan bos Anton yang nyuruh gua buat ngejagain kamar?” Oky menjawab pertanyaan Anton dengan lugu. Sesekali ia menggaruk pantat dengan tangannya.

Sesaat, Anton teringat dengan cerita emas batangan yang ia karang.

“Ah, minggir-minggir, gue mau masuk kamar nih.” Anton mendorong tubuh Oky, menyuruhnya minggir.

Anton mengambil kunci kamar dari dalam tas dan membuka pintu kamarnya. Oky yang masih setengah sadar ikut masuk ke dalam kamar Anton.

“Eh, ngapain lo pake ikut masuk segala?” Anton terlihat semakin kesal dengan mahluk gendut ini.

“Gue pengen liat emas batangan yang lo bilang ton. Boleh ya?” jawab Oky memelas.

“Oky temen gua yang paling baik. Besok aja ya? Sekarang gua pengen tidur. Gua ngantuk berat nih, semaleman belum tidur. Besok aja ya..?” Anton mendorong tubuh Oky pelan-pelan. Memaksanya untuk segera keluar.

“Eh, tapi bener besok ya ton…” Braaakkkk!!! Belum sempat Oky menyelesaikan omongannya, Anton sudah menutup pintu kamar dan menguncinya.

Anton melepas tas dan menaruhnya begitu saja di atas kasur. Ia menyalakan komputernya, membuka word dan menulis sesuatu. Setelah selesai menulis dan mencetaknya, Anton mematikan komputer dan tidur…zzzzz

**

Tepat adzan Magrib. Anton sudah terbangun dan langsung mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Anton mengambil tulisan yang sudah ia cetak di selembar kertas ukuran A4 dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Ia membuka pintu kamar dan menengadahkan kepalanya keluar sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Setelah memastikan bahwa Oky tidak ada, Anton segera keluar dan turun ke bawah. Sambil memanaskan mesin capung, Anton membakar sebatang rokok, sisa semalam. Setelah selesai, ia langsung cabut menuju tempat photo copy untuk memperbanyak tulisan yang sudah ia buat tadi pagi. Selesai dari tempat photo copy, Anton menuju warnet tempat ia bekerja sebagai OP. Sesampainya di warnet, Anton menyerahkan tulisan yang ia buat pada tukang parkir warnet.

“Bang, tolong kasiin kertas ini sama OP yang jaga ya. Minta tolong tempelin di setiap bilik. Yang no smoking room ya bang. Bilang dari Anton.”

“Ok mas.” Jawab tukang parkir. Anton langsung ngacir.

Tukang parkir masuk kedalam warnet dan menyerahkan titipan Anton kepada OP yang sedang bertugas. Budi, yang menjadi OP sore itu membaca tulisan yang di buat Anton sambil tersenyum.

“Ada-ada aja si Anton. Makasi ya mas..” ujar Budi pada tukang parkir.

Ada 30 lembar kertas yang berisi tulisan dari Anton. Sesuai dengan jumlah bilik dan unit komputer yang terdapat di no smoking room. Warnet Happy memang menyediakan dua tipe ruangan. Smoking room yang berjumlah 25 unit komputer dan no smoking room yang berjumlah 30 unit komputer. Budi menempel kertas itu satu-persatu sambil terus-terusan meminta maaf kepada user karena sedikit mengganggu.

**

Didalam kamarnya, Anton tengah bersiap-siap untuk pergi ke warnet. Ia kembali membawa novel Sang Pemimpi. Karena semalam, ia baru membaca setengahnya saja. Anton membuka pintu kamar dan langsung melompat kaget.

“Badak bego. Bikin kaget aja lo!!” Ujar Anton geram.

“Hehehe…” Oky nyengir..

“Mau pergi ya bos?” Tanya Oky. Anton yang sedang memakai sepatu, diam tak menjawab.

“Kamarnya gue jagain lagi ya bos?”

“Gak usah nyet. Kamar gue udah aman kok.” Anton berusaha ramah.

“Tapi emas batangan-nya gimana bos?Bahaya lho kalo gak ada yang jaga?” Oky masih kekeuh..

“Oh soal emas batangan. Tenang aja nyet, udah gue taruh di bank. Jadi udah aman. Lo gak perlu jagain kamar gua lagi. Eh, tapi makasi ya, semalem udah jagain kamar gue. Lo bener-bener temen gue yang paling baik deh!!” kata Anton sambil menepuk-nepuk pundak Oky. Oky tiba-tiba memeluk Anton, “Baru kali ini bos, ada yang bilang gua temen baik-nya.”

“Eh, kenapa lo nyet? Norak banget si lu? Duh pake nangis lagi, malu kali nyet ntar di liatin anak-anak.” Anton mencoba melepaskan pelukan Oky, sambil menoleh kekiri dan kekanan, berharap tidak ada satupun dari anak kost yang melihat kejadian itu.

“Tapi emang bener ton, baru lo yang nganggep gua temen baik.” Ujar Oky sambil sesenggukan.

“Ah, tapi lu emang baik kok. Ya udin, gua cabs dulu yak.” Sempat terlintas di benak Anton untuk menitipkan kamarnya pada Oky, tapi ia mengurungkan niatnya.

“Tu anak kalo di pikir-pikir kasian juga. Anaknya baik si, Cuma rada tolol gitu.” Anton berbicara dalam hatinya sambil berjalan menuju tempat parkir motor.

**

Begitu sampai di depan warnet, mas Darmin sudah menyambut dengan tersenyum.

“Sini mas, Capung biar saya aja yang parkirin.” Ujar mas Bejo ramah.

“Makasi ya bang..gue masuk dulu yak.” Kata Anton.

Begitu masuk kedalam warnet, Anton tidak langsung duduk di meja OP, melainkan mengecek bilik satu-persatu. Anton tersenyum puas.

“Nah, sebentar lagi, bakalan ketauan nih siapa yang suka kentut sembarangan.”

Anton membuka tas ranselnya dan mengambil novel Sang Pemimpi. Tak berapa lama, pintu warnet terbuka. Rupanya si gendut, salah satu user yang di curigai Anton baru saja datang. Si gendut langsung masuk kedalam bilik nomor 5. Bilik favoritnya.

“Huahahahahaha…”

Anton kaget. Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari bilik nomor 5. Tempat si gendut.

Anton langsung menulis pesan di billing yang terkoneksi dengan seluruh user.

To: user no.5 = gendut_ok

Server : Eh gendut, berisik lo. Ganggu aja.

Gendut_ok : Sorry bos, abis ngebaca peraturan baru. Tolol bgt sih yang buat peraturan..hahahha

Server : Ah, berisik lo. Itu peraturan gue yang bikin bego. Mulai sekarang harus di patuhi.

Gendut_ok : wkwkwkwkkw…sorry bos, sorry…siap, pasti di patuhi..hahahaha

Server : udah, jangan berisik, ganggu yang lain aja lo.

“Gedeg banget gue ama si gendut. Emang, apa yang lucu coba, dari peraturan yang gue buat..” Anton menggumam.

Ternyata apa yang Anton tulis tadi pagi adalah peraturan dan tata-tertib baru di warnet Happy. Sepertinya ia mendapat ide dari peraturan dan tata-tertib penggunaan toilet umum kost berbudi.

WARNING!!!!

DILARANG KENTUT SEMBARANGAN!!!

Mengingat seringnya terjadi kasus pencemaran udara, maka mulai saat ini penting untuk di patuhi. Bagi para user yang doyan kentut, terutama bagi yang habis makan jengkol/pete dan merasa kentutnya sangat bau, dimohon, dihimbau dan di wajibkan untuk :

  1. Tidak mengeluarkan kentut di ruangan ini, baik yang bunyi maupun yang tidak bunyi
  2. Apabila harus mengeluarkan kentut (karena tidak tahan) harap/harus mengeluarkan kentutnya di luar ruangan atau di toilet yang telah di sediakan
  3. Mengeluarkan kentut secara sembarangan dan berlebihan (bau) akan di kenai biaya tambahan.
  4. Karena ini ruangan berAC, maka kentut yang anda keluarkan (terutama yang bau) akan menimbulkan fitnah berkepanjangan
  5. Jagalah kebersihan udara ruangan ini, udara anda adalah udara kita semua

Fatwa Warnet Happy : Menyebarkan kentut (yang bau) secara sporadis dan berkesinambungan sehingga menimbulkan dampak yang buruk bagi udara dan kesehatan orang banyak adalah perbuatan yang menimbulkan fitnah. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan sesat dan di haramkan.

Pengurus

Ttd

Anton membaca kembali peraturan yang ia buat.

“Tuh, apanya coba yang lucu? Emang dasar si gendut edan.” Kata Anton.

Anton kembali melanjutkan bacaannya. Tak berapa lama, si pemilik user name emo_boys muncul.

“Nah, tersangka sudah lengkap.” Anton membatin.

Dengan peraturan yang ia buat, Anton sangat yakin bahwa ia akan menemukan pelaku kejahatan kentut ini. Karena, user yang doyan kentut pasti merasa malu untuk mengeluarkan kentut sembarangan lagi. Dan ketika salah satu dari mereka sudah tidak tahan, secara otomatis mereka akan pergi keluar ruangan atau ke toilet yang telah di sediakan.

**

Setelah si emo_boys, muncul-lah cewek manis yang kemarin sempat menarik perhatian Anton.

“Masih ada yang kosong mas?” Tanya cewek itu ramah.

“Oh, masih mba. Tenang aja. Sebentar saya cek…” ujar Anton sambil melihat layar komputer di hadapannya.
”Bilik nomor 7 kosong mba.” Kata Anton sambil tersenyum

“Oh iya mas, ada headset ga?” Kata cewek itu lagi.

“Ada dong..” Anton mengambil sebuah headset dari dalam laci. “Minta ID card ya mba.”

“SIM boleh mas?” jawab cewek itu.

“Boleh, yang penting masih berlaku..” Kata Anton sambil menyerahkan headset dan mengambil SIM cewek manis itu.

“Makasi ya mas..”

“Wokehhh..” Anton nyengir.

“Gileee, tu cewek makin manis aja. Naksir ah gue…” Kata Anton sambil memeriksa SIM cewek itu.

Cindy Prisilia nama tu cewek. Cewek asal Magelang. Kelahiran tahun 1989, 3 tahun di bawah Anton. Anton meletakkan SIM tersebut di sebuah kotak kecil yang memang di sediakan sebagai tempat menyimpan kartu identitas user yang meminjam headset. Peraturan di warnet Happy memang mengharuskan setiap user yang meminjam headset untuk menyerahkan kartu identitas. Hal ini dilakukan untuk mencegah pencurian.

**

Sejam berlalu, Anton hampir menyelesaikan bacaannya. Sesekali ia memperhatikan keadaan di dalam ruangan. Terutama bilik nomor 5 dan 9, tempat si gendut dan si ceking berada. Namun tidak ada satupun dari mereka berdua yang beranjak dari tempatnya.

“Wah, betah juga ya mereka nahan kentut.” Kata Anton.

Tak lama berselang, Cindy, sang cewek manis beranjak dari tempatnya. Ia menuju keluar.

“Mas, keluar bentar ya..” Kata Cindy ketika melintas di depan meja OP.

‘Eh, iya mba…”jawab Anton setengah kaget.

“Wah, gak mungkin. Masa’ cewek secakep itu doyan kentut?” Anton bertanya-tanya di dalam hati.

Iseng, Anton membuka pintu warnet. Ia penasaran, apa yang di lakukan Cindy di luar. Tapi ia lega, karena ternyata Cindy sedang menelpon seseorang di luar. Anton seperti tidak rela kalau ternyata Cindy yang menjadi tersangka dalam kejahatan kentut ini. Waktu terus berjalan. Bau kentut belum tercium juga. Dan belum ada satu userpun yang beranjak dari tempatnya. Termasuk dua orang yang di curigai Anton sebagai tersangka.

Anton tidak tenang, pokoknya malam ini ia harus segera mengetahui dalang di balik pencemaran udara tersebut. Baru hendak keluar untuk memesan kopi, langkah Anton terhenti. Ia melihat Cindy kembali beranjak dari tempatnya. Kali ini Cindy menuju toilet.

“Ah, paling pengen pipis..” pikir Anton. Anton-pun melanjutkan niatnya untuk memesan segelas kopi instant.

“Ada bau kentut lagi ya mas?” Tanya mas Darmin ketika melihat Anton keluar dari dalam warnet.

“Enggak bang, malem ini aman. Udah gue bikinin peraturan. Jadi ga ada yang berani kentut bang..hehehehe…” Anton menjawab sambil nyengir.

“Bisa minta tolong pesenin kopi di warung depan gak bang? Ini duitnya, abang juga pesen segelas ya bang..” Anton menyerahkan selembar uang lima ribuan pada mas Bejo.

“Ok mas. Mas Anton tunggu di dalem aja, entar kopinya saya anterin.”

“Sip. Makasi bang..gue tunggu di dalem ya..” Jawab Anton sambil melangkah masuk ke dalam warnet.

Di dalam, Anton memeriksa para user. Lengkap, Cindy rupanya telah berada di tempatnya lagi. Tetapi, baru saja hendak duduk, Anton melihat Cindy kembali beranjak dari tempatnya dan menuju toilet. Anton menjadi penasaran, apa sebenarnya yang di lakukan Cindy di toilet? “Kok sering banget ya tu cewek ke toilet? Jangan-jangan …”

Karena penasaran, setelah Cindy kembali ke tempatnya, Anton segera menuju toilet. Dan ketika membuka pintu toilet, hidung Anton mencium bau yang beberapa hari ini membuatnya sering mual. Bau kentut!! Bau yang sama, persis seperti bau-bau di hari sebelumnya. Anton segera keluar dari toilet. Hampir saja ia muntah, tapi ditahannya. Ingin rasanya menutup hidung, tapi ia tidak enak dengan Cindy. Anton kembali ke meja OP. Dia tidak menyangka, ternyata selama ini kentut super bau yang mencemarkan udara di dalam ruangan warnet berasal dari sebuah pantat mungil nan lucu kepunyaan dari seorang gadis cantik. “Ah, kenapa gak si gendut aja? Atau si cungkring?” Seperti ada penyesalan di benak Anton. Cewek yang baru saja hendak ia dekati ternyata punya kentut yang super bau. Lagi asik melamun, mas Darmin masuk dengan membawa segelas kopi panas pesanan Anton.

“Ini mas kopinya. Gimana? Tersangkanya udah ketemu belum?” Tanya mas bejo sambil menyerahkan segelas kopi pada Anton.

“Udah bang..” jawab Anton memelas.

“Loh, kalo gitu, ayo mas kita bawa ke sekolahan..” kata Mas Bejo.

“Ngapain di bawa ke sekolahan bang?” Tanya Anton heran.

“Itu, biar pantatnya di sekolahin mas. Biar gak ngentut sembarangan lagi..hehehe..”

“Ah, bisa aja bang.” Antopn nyengir.

“Tapi kok, mas Anton keliatan lemes gitu? Kan udah ketauan mas tersangkanya?”

“Iya nih bang. Tersangkanya ga sesuai harapan. Tersangkanya cewek bang. Cakep lagi. Gue aja lagi naksir nih bang.” Jawab anton sambil meneguk kopinya.

“Kok bisa gitu mas? Gimana ceritanya tuh? Ngomong-ngomong, ceweknya yang mana ya mas?” Tanya mas Darmin penasaran.

“Ada bang. Besok aja ya gue ceritanya. Lagi malay ngomong nih gue..”

“Ok deh mas. Saya keluar dulu ya. Itu sepertinya ada yang baru dateng….”

“Yo’i bang. Makasi ya kopinya…”

“Sep..” mas Darmin tersenyum dan berlalu…

Anton bengong. Dia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi.

“Cindy..cindy.. Kenapa musti cewek secakep elu sih…..”

baca juga : puisi untuk keyla