Archive for October, 2010


Kemarin siang, waktu gua lagi ke warung makan (buat nyari makan pastinya, masa’ nyari obat) gua ngeliat sepasang mahluk (cowok dan cewek) yang nyesekin hati, terutama waktu gua ngeliat cowoknya. Tu cowok sebenarnya enggak punya kesalahan apapun, cuma bagi gua dia salah. Pasangan itu seperti hendak mempertegas bahwa istilah ‘beauty n the beast’ itu memang nyata adanya. Si cewek, kulitnya putih mulus, bodynya proporsional, mukanya imut dan ngegemesin. Matanya bulat, pakai soft lens warna biru muda. Cakep!! Nilainya 8. Nilai tinggi dari Penilaian 1-10 yang gua berikan terhadap seorang perempuan. Angka 1 artinya gak jelas, tu orang cewek atau bukan. Biasanya nongkrong di stasiun, terminal, atau kalau di Jogja, biasanya mangkal di depan gedung BI. Kalau di Jakarta di taman lawang. Angka 2, buat cewek palsu. Kelaminnya palsu, mukanya palsu, hidungnya palsu, jam tangannya palsu, gelangnya palsu, antingnya palsu, hatinya palsu dan hidupnya selalu di penuhi dengan kepalsuan. Angka 3 artinya jelek banget, sombong, jahat, miskin dan sok cantik. Angka 4 buat perempuan yang bertampang jelek dan bau tapi baik hati. Angka 5 untuk cewek yang agak jelek. Angka 6 buat cewek ‘lumayan daripada enggak punya cewek’. Angka 7 buat cewek manis, manja, ngangenin tapi suka ngambek dan marah-marah gak jelas. Sedangkan angka 8, artinya tu cewek cakep. Angka 9 berarti, sudah cakep, baik, solehah, penyayang, setia, suka menolong dan tidak sombong. Dan 10 adalah sempurna. Dia adalah nyokap gua, the one and only!!! Penilaian yang gua berikan bersifat relatif, artinya, mungkin aja menurut gua cantik, tapi menurut orang lain jelek, dan sebaliknya. Tapi, mengenai penilaian yang gua berikan, gak perlu di perdebatkan. Disamping gak penting, penilaian itu hanya berlaku bagi diri gua pribadi, gak berlaku buat orang lain selain gua.

Siang ini, warung tempat gua makan rame banget. Saking ramenya, gua harus rela ngantri buat mesen makanan. Warung bernama ‘HONG’ ini memang terkenal dengan sambalnya yang ekstra pedas. Dari namanya, terlintas di benak bahwa penjualnya adalah WNI keturunan Tionghoa. Tapi tidak, penjualnya adalah pribumi asli Sunda. Lama tidak makan di warung ini, gua baru ngeh ternyata warna sambalnya telah berubah kembali menjadi warna merah. Waktu harga cabai melonjak tinggi, sambal ekstra pedas ini sempat berganti warna menjadi warna hijau. Pasti karena harga cabai hijau lebih murah di banding cabai merah. Gua sempat ragu dengan cita rasa sambal berwarna hijau itu. Tapi akhirnya, gua tetap makan disana. Benar saja, rasa sambalnya agak berubah, walaupun tetap saja pedasnya minta ampun. Dan sejak saat itu, gua selalu aktif menyuarakan inspirasi di twitter gua (@onobs) mengenai harga cabai yang melambung tinggi. Bagaimana mungkin pemerintah membiarkan harga cabai melambung begitu tinggi, padahal menurut gua, cabai merupakan salah satu komoditas penting dalam dunia makanan. Tapi itu menurut gua, orang yang doyan masakan pedas. Yang tidak suka pedas, pasti gak setuju dengan gua. Dan pemerintah-lah yang menjadi tempat caci maki gua, selalu pemerintah, walaupun mungkin saja faktor penyebab kenaikan harga cabai ini bisa di karenakan berbagai hal. Misalnya cuaca yang  buruk sehingga produksi cabai menurun, sedangkan permintaan meningkat. Jika jumlah permintaan lebih tinggi dari jumlah barang yang di tawarkan, maka harga barang tersebut akan naik. Hukum ekonomi. Kebetulan waktu itu menjelang bulan puasa, jumlah permintaan cabai meningkat sedangkan produksi cabai menurun di karenakan cuaca yang tidak bisa di ajak kompromi. Tetapi menyalahkan cuaca sama juga dengan menyalahkan Tuhan. Dan kata nyokap (bagi yang percaya Tuhan), menyalahkan Tuhan hukumnya dosa. Jadi, pemerintah adalah pilihan masuk akal untuk di salahkan. Entah karena tipe orang Indonesia yang suka menyalahkan orang lain atau karena kinerja pemerintah saat ini yang aduhai hancurnya.

Cowok tadi sepertinya ngeh kalau gua lagi ngeliatin dia dan ceweknya. Setiap gua ngeliatin mereka, dia balik ngeliatin gua  dengan pandangan penuh rasa kesal. Gua tengsin, pura-pura ngeliat yang lain. Begitu cowok itu lengah, gua ngeliatin mereka lagi, kali ini fokus ngeliat ceweknya yang siang ini make celana yang super pendek. Orang-orang menyebutnya ‘hot pants’. Sebagai cowok normal (Alhamdulillah gua termasuk di dalamnya), pemandangan seperti ini gak boleh di sia-siakan. Seperti yang gua bilang tadi, tu cewek kulitnya putih mulus, bodynya juga aduhai. Pas cowoknya ngeliatin gua, gua pura-pura ngeliat ke atas. Pas dia lengah, gua ngeliatin lagi. Pas tu cowok  ngeliatin gua lagi, gua pura-pura ngeliat ke kanan. Pas dia lengah, gua ngeliatin lagi. Tu cowok ngeliatin gua lagi, gua pura-pura ngeliat ke kiri. Begitu dia lengah, gua ngeliatin lagi. Pas tu cowok ngeliatin gua untuk kesekian kalinya (kali ini dengan mata melotot) gua pura-pura noleh ke belakang. Pas tu cowok lengah lagi, gua manggil orang yang berdiri di sebelah gua. “Mas, minta tolong muterin kepala saya ke depan dong..” gua salah urat.

Siang yang panas itu semakin terasa panas karena pasangan beauty n the beast ini semakin menjadi-jadi. Si cowok dengan bangga memperlihatkan kemesraan mereka di depan gua. Tangan kanannya melukin pinggang tu cewek, tangan kirinya ngebelai rambut tu cewek. Si cewek tersenyum malu-malu sambil berbisik, “Iiih yank, malu kali di liatin orang banyak..” Si cowok malah tersenyum lebar. Senyum kemenangan. Di dalam hatinya, dia pasti merasa bangga telah memiliki cewek secakep itu. Dan sikap mesranya tadi seperti ingin mengatakan kepada semua orang, terutama gua, “hey dude back up, she’s mine, not yours…” Ah, dunia memang terlalu sering tidak adil. Bagaimana mungkin cowok seperti dia bisa mendapatkan cewek secakep itu! FYI : Gua ga cakep (baca : jelek). Kalau penilaian terhadap perempuan itu di ganti menjadi penilaian terhadap kaum Adam, nilai gua 4, dengan catatan, gua enggak bau. Nah, cowok yang jadi pemeran utama dalam cerita ‘beauty n the beast’ siang ini, tampangnya, maaf, jauh lebih hancur di banding gua. Nilainya -1,5. Hal itu-lah yang membuat gua sewot setengah mati. Apa sebenarnya kelebihan dari cowok itu sehingga si cewek cakep nan bohay jatuh hati padanya? Gua makin penasaran pas ngeliat si cewek dengan gaya manjanya malah nyuapin es krim yang sejak tadi dia nikmati ke cowok itu. Aih, hati ini makin panas, sepanas matahari di musim kemarau.

Pasangan ‘beauty n the beast’ itu akhirnya berlalu dari hadapan gua. Makanan yang mereka pesan sudah jadi. Tadi sempat gua lirik, yang cowok mesen ikan lele plus tahu dua biji. Sedangkan si cewek, cumi-cumi 1, ayam bakar 1, ayam kampung goreng 1, pete 1 (di goreng setengah matang), terong bakar 1, tempe 2 biji, sayur asem 4 bungkus plus nasi putih 4 bungkus. Mungkin tu cewek sekalian beli buat ayah, ibu dan adiknya (mumpung ada yang bayarin). Mereka ga makan di tempat alias bungkus. Begitu mereka pergi, gua sempatkan melihat ke arah mereka. Mereka bergandengan tangan dengan mesra ketika hendak menyebrang jalan menuju halaman sebuah SMA swasta yang sering di alih fungsikan menjadi tempat parkir mobil. Mobil? Yap, sebuah honda stream hitam dan gaul. Definisi mobil gaul adalah mobil dengan spesifikasi velg racing ring besar dan stiker club mobil di kaca belakangnya. Dan pemiliknya, pasti anak orang kaya (baca : yang kaya itu bapaknya). Gua tersenyum kecut. Mungkinkah karena alasan itu? Ah semurah itukah cinta? dunia benar-benar tidak adil!! Kalau memang itu yang menjadi alasan si cewek jatuh hati dengan cowok itu, maka nilai 8 yang tadi gua kasi, gua ralat jadi 2. Yap, nilai cewek itu cuma 2. Cewek palsu. Walaupun mungkin kelaminnya asli, tapi tu cewek punya hati palsu dan selalu hidup dalam kepalsuan. Tapi sekali lagi, penilaian yang gua berikan bersifat relatif, jadi gak boleh ada yang protes.

Kalau ada yang berpendapat, kekesalan gua siang itu karena gua cemburu, karena gua gak mampu, karena gua pecundang, pendapat itu dengan sangat terpaksa gua benarkan. Yap, gua jomblo. dan gua gak punya cewek, so, gua memang cemburu, iri, sekaligus patah hati. Dan Kekesalan gua siang itu juga membuat gua sadar, bahwa kekesalan yang gua rasain pasti pernah juga hinggap di hati cowok-cowok yang ngeliat gua jalan atau makan bareng dengan cewek dengan nilai 8. Persis sama dengan cewek tadi. Yang cowok-cowok itu tidak tahu adalah, kalau pasangan tadi sudah pasti berstatus pacaran, nah kalau gua? Mungkin aja cewek yang gua ajak jalan hanya teman biasa, atau kalaupun punya hubungan spesial, paling hanya TTTM (Teman Tak Tau Malu). Yap, kisah percintaan gua gak seindah rembulan di kala purnama, tak secantik matahari di kala senja dan tak seelok pelangi selepas hujan. Gua pecundang. Gak perlu gua kasi tau penyebab utamanya, nilai 4 yang gua sandang tentu sudah menjelaskan semuanya. Orang-orang seperti gua inilah yang terlalu sering mengeluh soal ke tidakadilan. Yah, percaya atau tidak, setuju atau tidak, dunia itu terkadang sering tidak adil…

 

maaf, ocehan ini memang tidak penting, dan ini bukan fiksi….

 

Advertisements

Indonesia Dalam Fiksi

Aku berada pada sebuah negeri. Negeri ini adalah negeri paling kaya. Punya seorang pemimpin yang hebat, yang bertanggung jawab, yang mencintai rakyat dan tidak pernah takut dengan negara lain yang coba menghancurkan negeri ini. Pemimpin ini sangat mulia. Tegas dan tidak plin-plan. Beliau menjaga perdamaian negeri ini dengan bertindak tegas terhadap para pengacau. Melindungi negeri ini dari terorris.

Masyarakat negeri ini ramah-ramah. Saling menghormati antar sesama. Tidak saling mencaci, tidak saling menjatuhkan. Beragama dan beradab. Kaum mayoritas melindungi kaum minoritas. Tidak saling mencampuri urusan agama masing-masing. Tidak saling menghancurkan tempat ibadah masing-masing. Para ahli agama tidak saling berdebat atau saling memperlihatkan kehebatan sehingga merasa diri paling benar. Para ahli agama tetap menjadi manusia, tidak berlagak menjadi Tuhan dan tidak terdapat setan yang menyesatkan dalam jiwa mereka.

Politikus negeri ini bekerja dengan jujur. Gaji mereka besar, tapi 3 % dari gaji mereka di sumbangkan kepada fakir miskin dengan cara memberikan modal usaha. Mereka bekerja dengan nurani, demi rakyat yang mereka wakili. Gedung tempat mereka bekerja sungguh megah, tapi rakyat kecil boleh memasukinya. Rakyat tidak akan di pukul atau di tembak mati ketika hendak menemui wakil mereka di gedung ini. Semua di sambut, bahkan di muliakan.

Di negeri ini, koruptor adalah legenda. Hanya cerita rakyat. Tidak ada koruptor di negeri ini. Setiap koruptor akan di hukum mati. Keluarga mereka akan di kucilkan hingga tujuh turunan. Harta mereka akan di renggut dan di serahkan kepada yang lebih membutuhkan. Sebelum di hukum mati, mereka di penjara di sebuah penjara bawah tanah. Mereka hanya di perbolehkan memakan cacing tanah dan meminum air kencing mereka sendiri. Karena itu, sangat jarang bahkan hampir tidak ada koruptor di negeri ini.

Di negeri ini, hakim, jaksa dan polisi sama jujurnya dengan politikus. Mereka menghukum yang benar-benar pantas untuk di hukum. Tidak akan mengambil apa yang bukan hak mereka. Bekerja dengan sesungguhnya. Benar-benar mengaplikasikan apa yang mereka dapat pada waktu sekolah.

Dokter, guru, dosen dan pejabat-pejabat di negeri ini bekerja sesuai dengan sumpah mereka. Tidak ada rumah sakit yang menolak pasien. Tidak ada sekolah yang memaksa siswanya untuk bunuh diri karena tidak mampu. Tidak ada kampus yang mengajarkan kekerasan sehingga mahasiswanya saling menzalimi.

Rakyat negeri ini mencintai pemimpin mereka, mencintai saudara-saudara mereka. Rakyat negeri ini hidup sejahtera dan bahagia. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang buta hurup. Tidak ada yang tidak bersekolah. Negeri ini sungguh indah, aku sungguh bahagia berada disini..

Sebuah jam usang yang bergetar oleh suara alarm terjatuh tepat di atas kepalaku. Aku terbangun. Kupandangi ranjang reot yang setiap hari kutiduri. Bantal dan guling apek yang setiap malam ku ajak bercinta. Tembok retak dari ruangan sempit berukuran 2×2 meter. Kupandangi jam usang yang membuatku terbangun. Waktu sudah mepet, teringat janji pada ibuku. Kemana lagi harus ku gadai ijazah yang kuperoleh sejak 4 tahun silam? Lalu aku teringat negeri itu, betapa bahagianya tinggal di negeri indah itu. sayang, aku tak sempat mengingat namanya. Tapi kurasa namanya adalah Indonesia.

Aku tersenyum. “Jam sialan, menganggu mimpi indahku saja…”

“Mau kemana mir? Mau masuk kerja?” Ibu menyapaku dengan lembut. Ia masuk ke dalam kamar yang pintunya memang sengaja tidak ku tutup.

“Ada janji mau ketemu temen bu. Mirna sementara ini ijin gak masuk kerja.” Aku menjawab pertanyaan ibu sambil terus memakai make up.

“Teman pria? Teman apa teman nih?” Ibu bertanya sambil menggodaku.

“Temen kok bu. Temen lama..” Jawabku sambil tersenyum.

Beliau menghampiriku, memegang pundakku sambil melihat wajahku di cermin. Ibu lalu mengambil lipstick di dalam kotak perhiasan dan memutar tubuhku.

“Ah ibu, Mirna buru-buru nih..” Kataku sambil mencoba membalikkan tubuhku keposisi semula.

“Sini, biar ibu yang makein gincu..” Ibu menahan tubuhku, dan langsung mengoleskan gincu warna merah muda di bibir tipisku.

“Anak Ibu memang paling cantik. Gak heran kalau banyak yang suka..” Ibu kembali menggodaku.

“Mir. Kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga. Anjas juga sudah cukup besar. Dia butuh sosok ayah Mir. ”Kata ibu tiba-tiba.

“Maksud Ibu?” Aku tertegun mendengar perkataan ibu. Tak biasanya dia menyinggung persoalan ini.

“Umur ibu saat ini sudah tua Mir. Ibu pengen ngeliat kamu dan Anjas bisa bahagia..” Ibu melanjutkan perkataannya.

Tangannya yang lembut telah selesai memberi warna pada bibirku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat ke arah cermin. Kini bibir tipisku telah berubah warna menjadi merah muda. Kupalingkan wajahku dari cermin, lalu kutatap wajah ibu. Wajah penuh keriput, tapi masih lembut, masih bercahaya. Kusandarkan kepalaku di pundak wanita tua yang telah mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkanku.

“Mirna sudah sangat bahagia bu. Mirna punya segala yang Mirna mau. Mirna punya seorang ibu yang sangat baik. Mirna juga punya seorang anak yang lucu. Semua itu adalah kebahagiaan yang tak akan tergantikan bu..” Kataku sambil memeluk pinggang ibu.

“Tapi Ibu sudah tua mir. Ibu gak akan hidup selamanya. Ibu gak tau umur ibu sampai kapan. Dan sebelum Ibu pergi, Ibu pengen ngeliat kamu dan Njas bahagia. Ibu pengen kamu punya seorang suami yang bisa menjagamu. Ibu pengen Anjas punya seorang ayah yang bisa dia jadikan teladan, yang bisa melindunginya, yang bisa dia banggakan Mir.” Kupandangi wajah ibu, matanya berkaca-kaca. Aku terdiam. Dalam hatiku, aku membenarkan perkataan ibu. Suatu saat, kami pasti akan terpisahkan. Terpisahkan oleh waktu. Tapi tak pernah sekalipun aku berfikir hal itu akan terjadi. Membayangkannya saja membuat hatiku perih. Entah seperti apa jadinya hidupku dan Njas kalau Ibu sudah tidak ada.

“Mir..Coba kamu lihat mbah Karti. Usianya lebih tua dari Ibu. Beliau pernah ngobrol dengan ibu. Beliau bilang, seandainya beliau mati hari ini juga, beliau sudah bisa tenang. Karena Dina, anak satu-satunya yang ia punya telah memiliki keluarga. Dina telah memiliki seorang suami yang baik, ayah dari Aldo. Ibu pengen kamu seperti itu Mir..”

“Jadi ibu pengen Mirna jadi istri kedua Bu?” Aku sedikit sewot dengan perkataan ibu.

“Bukan Mir, bukan seperti itu. Maksud ibu, kalau kamu bisa bahagia dengan pria yang kamu pilih, dan kalau pria itu bisa bertanggung jawab terhadap kamu dan Njas, kenapa tidak Mir? Ibu tidak menyuruh kamu untuk mau menjadi istri kedua. Tetapi kamu sendiri harus melihat kondisimu Mir. Kamu adalah seorang perempuan muda yang telah mempunyai seorang anak. Jaman sekarang, sudah sangat jarang ada pria muda yang mau menerima kondisi seperti itu Mir.” Air mataku menetes mendengar perkataan ibu. Pikiranku langsung tertuju pada Om jerry. Lelaki tua bajingan. Oh seandainya ibu tau siapa Om jerry sebenarnya. Suami mbak Dina dan ayah dari Aldo itulah yang suatu saat ingin kuperkenalkan kepada ibu. Tapi untung saja hal itu belum sempat kulakukan.

Ketika sedang menikmati belaian lembut ibuku, aku di kejutkan oleh suara hp. Telepon dari Bayu.

“Mir, hari ini jadi kan? Kamu aku jemput ya? Alamat kamu di mana?”

“Gak usah. Aku bawa motor sendiri.” Klik. Aku langsung mematikan Hp.

“Kok kasar banget sih Mir?” Tanya ibu keheranan.

“Ah gak apa-apa bu, sudah biasa..” jawabku singkat.

“Kalau seperti itu, ntar kamu di tinggalin loh Mir…” kata ibu..

“Dia Cuma temen biasa kok bu. Oh iya bu, Njas mana?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Anjas di rumah mbah Karti, main sama Aldo.” Jawab ibu.

“Oh, mbak Dina masih di sini ya Bu? Mirna pikir sudah balik ke Semarang..” ujarku

“Dina sudah balik ke Semarang kemarin. Dia kerja. Aldo kan masih libur, jadi Aldo tinggal di Jogja. Lagipula, ayahnya kan di sini juga Mir.” Ibu menjawab pertanyaanku dengan lembut.

“ Ya sudah. Mirna jalan dulu ya bu..” Ku raih tangan ibuku dan menciumnya.

“Kapan-kapan, di ajak kemari ya. Kenalin ke Ibu..” Kata ibu pelan..

“Tunggu waktu yang tepat bu…” Jawabku seadanya..

“Ya sudah, hati-hati ya nduk…”

Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan perkataan ibu. Ah, tapi siapa? Setelah mengetahui kebusukkan Om Jerry, Aku tentu tak ingin menikah dengan seseorang yang tidak benar-benar mencintaiku. Apalagi, seperti kata ibu, aku telah mempunyai seorang anak. Anak dari entah pria mana. Aku tak ingin menikahi pria yang hanya mencintaiku, tapi tak mencintai keluargaku. Aku juga tak ingin menikahi pria yang tak menerimaku apa adanya. Pria yang hanya tertarik dengan keindahan tubuhku.

**

Perjalanan dari rumahku menuju warung steak tempat biasa aku dan Bayu sering bertemu tidak memakan waktu yang lama. Hanya sepuluh menit saja. Aku suka tempat ini, dan aku suka menu masakannya. Bagi orang miskin seperti aku, makan steak merupakan hal yang mewah. Tapi di Jogja, ada sebuah warung yang menyediakan menu masakan ala Barat ini dengan harga yang tidak mahal.

Segera kuparkir motor matic-ku di depan warung. Aku menengok ke dalam warung. Bayu sudah datang. Dia duduk di meja yang terdapat di sudut ruangan. Tempat biasa kami duduk jika datang ke tempat ini. Ku hampiri Bayu yang terlihat gelisah. Dia pasti menyangka aku tak akan datang. Tapi aku pasti datang. Aku adalah tipe orang yang selalu menepati janji. Bagiku, janji lebih dari hutang. Janji itu sangat penting. Kalau aku sudah berjanji, aku pasti akan menepatinya. Bayu tersenyum melihat kehadiranku. Dia menarik kursi dan mempersilakan aku untuk duduk. Itu adalah kelebihan Bayu. Dia selalu memperlakukanku bak putri raja. Dia selalu melakukan hal-hal romantis yang kadang tidak terduga sama sekali. Pernah suatu saat, ketika masih pacaran, kami mengalami pertengkaran hebat. Aku ngambek, dan tidak mau menemui Bayu. Bayu mungkin saat itu memang benar-benar mencintaiku. Ia melakukan hal yang tidak kuduga sama sekali. Malam itu hujan sangat deras. Bayu hendak menemuiku dirumah. Tapi aku tak mau keluar. Kuminta Ibu untuk menyuruhnya pergi dan tidak memperbolehkan Bayu masuk ke dalam rumah. Ibu sempat tidak enak dengan Bayu, tapi aku memaksa. Bayu tidak menyerah begitu saja. Dia tetap berdiri di depan rumahku. Dia menungguku hingga pagi. Dia berteriak di tengah hujan, meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sungguh menyayangiku. Perbuatannya malam itu membuatku luluh dan memaafkannya.

**

Tak berapa lama, datang seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman. Rupanya Bayu telah memesan terlebih dahulu. Blackpepper dan jus tomat untukku. Hmm, Bayu masih ingat kesukaanku. Dia tidak lupa sama sekali. Ia bahkan menaburkan merica bubuk dan saos sambal ke atas makananku. Aku memang penikmat makanan pedas. Berbeda jauh dengan Bayu. Dia sama sekali tidak menyukai makanan pedas. Sirloin double yang ia pesan selalu istimewa, tidak pedas. Tapi hari ini sepertinya berbeda. Dia menaburkan merica dan saos sambal ke dalam makanannya. Aku sedikit kaget melihatnya. Apa yang terjadi? Mungkinkah Bayu sudah mulai menyukai makanan pedas? Lalu pelayan kembali datang dengan membawakan minuman. Siapa yang memesan pikirku. Jus tomat dan jus apel, minumanku dan minuman Bayu. Lalu, lemon tea ini kepunyaan siapa?

“Maaf mas, lemon tea-nya telat..” Kata pelayan itu pada Bayu.

“Oh Gak apa-apa mas. Makasi ya..” Jawab Bayu.

Tidak biasanya Bayu memesan dua minuman sekaligus. Untuk apa? Ah, lama tidak berjumpa, kebiasaan Bayu telah banyak berubah.

“Ayo Mir, kita makan dulu ya. Mumpung masih anget..” Bayu mempersilakan aku untuk makan.

Aku diam tidak menjawab. Aku masih sedikit terkejut dengan kebiasaan Bayu yang telah berubah. Namun tidak lama kemudian, pertanyaan dalam benakku tentang minuman tadi terjawab sudah. Bayu masih seperti dulu. Ia masih tidak menyukai makanan pedas. Minuman ekstra yang ia pesan, rupanya untuk mengatasi rasa pedas pada makanannya. Tindakannya hari ini mungkin untuk menyenangkan hatiku saja. Dulu aku memang selalu memaksanya untuk mencoba makanan pedas. Aku selalu menaburkan merica dan saos sambal ke dalam makanannya. Dan ketika melihatnya panik menahan pedas, aku tertawa girang. Mungkin itu yang coba ia lakukan sekarang. Ia berhasil, aku tersenyum kecil. Hanya tersenyum, tidak tertawa seperti dulu. Kulihat ada peluh membanjiri keningnya. Biasanya, aku akan melapnya dengan tissue. Tapi kali ini tidak, dan Bayu mahfum. Dia melap keningnya sendiri dengan tissue. Bayu..Bayu…

Kami makan tanpa suara. Bayu sempat ingin mengajakku berbicara, menanyakan kabar Ibu dan sebagainya. Tapi aku hanya menjawab seadanya, selebihnya, kami terdiam dan membisu seperti sepasang musuh yang hendak saling membunuh.

**

Selesai makan, aku langsung menanyakan hal yang ingin Bayu katakan padaku.

“Kamu mau ngomong apa?” Tanyaku sinis..

“Aku mau ngasi tau kamu rahasia Mir. Rahasiaku..”jawab Bayu pelan..

“Rahasiamu? Terus apa hubungannya dengan aku? Rahasiamu biar menjadi rahasiamu. Aku tak mau tahu..” Aku berbicara sambil memalingkan muka.

“Ada Mir, justru ini semua tentang kamu. Tentang kita…”ujar Bayu

“Kita? Emang ada cerita apa lagi tentang kita? Setauku, sejak kejadian itu, tidak ada hal spesial lagi tentang kita. Semua udah berakhir Bayu..”

“Justru Itu Mir, aku tahu semua tentang kejadian itu. Aku tahu kamu gak salah Mir. Aku tahu rahasia di balik itu semua..” Kata Bayu sambil terus berusaha meyakinkanku.

“Ya udah, Ayo cerita…” jawabku ketus

“Gak bisa di sini Mir, disini terlalu banyak orang. Gak enak..”

“Terus mau dimana? Kamu ini banyak maunya ya. Udah untung aku mau ketemu kamu lagi..” Aku kesal dengan Bayu, dia seperti hendak mengulur-ngulur waktu.

“Hmmm, kita cari tempat yang lebih sepi Mir. Kita ke bukit bintang ya? Nanti pakai mobilku aja.” Kata Bayu.

Sesaat aku terdiam. Bukit bintang. Tempat paling romantis yang pernah ku datangi bersama Bayu. Daerah dataran tinggi yang terdapat di jalan wonosari itu merupakan tempat “pacaran” favoritku dengan Bayu. Kami sering menghabiskan waktu semalaman disana. Bahkan hingga pagi. Karena tempatnya yang tinggi, kita bisa melihat rumah-rumah dan bangunan lainnya yang berada di bawah. Semuanya tampak indah di kala malam, karena lampu-lampu menyala seperti kunang-kunang. Dan tempat ini merupakan tempat yang paling pas untuk menyaksikan keindahan bintang. Mungkin karena itulah tempat ini dinamakan bukit bintang. Aku dan Bayu sering ‘menggabungkan’ bintang-bintang di langit sehingga membentuk sesuatu. Entah itu berbentuk benda, binatang, dan lainnya. Di tempat itulah Bayu pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi. Di tempat itulah Bayu mengutarakan isi hatinya padaku. Di tempat itulah aku mendapatkan ciuman pertamaku. Tempat itu memberiku sejuta kenangan. Sudah lama aku tak pernah kesana, dan itu memang ku sengaja. Karena aku yakin, tempat itu akan membangkitkan kenanganku bersama Bayu. Dan itu artinya, membuka luka lama.

“Maaf, aku gak bisa..” kataku pada Bayu.

Aku beranjak dari kursi, bermaksud hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tapi Bayu menahanku. Ia meraih tanganku.

“Please Mir. Please. Aku mohon, kali ini Mir. Hal ini sangat penting Mir. Penting bagi kita..” Bayu memohon padaku..

“Kita? Mungkin hanya penting buat kamu Bayu. Kamu egois!!” Aku menepis tangan Bayu dan berjalan keluar warung.

“Mir. Tolong Mir, kali ini saja Mir. Aku hanya ingin bicara. Setelah itu terserah kamu Mir..” Bayu menarik tanganku. Ia berlutut dan memohon padaku.

Tentu saja tingkah Bayu menjadi perhatian orang-orang yang sedang makan di warung itu. Aku menjadi malu.

“Lepasin aku. Malu di liatin orang banyak tau!!” Kataku sambil berusaha melepas tangan Bayu dari lenganku.

“Enggak Mir. Aku gak akan lepas tanganku, aku gak akan berdiri sampai kamu bilang iya.” Bayu terus memohon padaku.

“Iya iya. Tapi kamu berdiri dulu, aku malu di liatin orang..”

“Bener iya Mir?” Bayu seperti tidak percaya dengan jawabanku

“Iya bener. Cerewet, cepat berdiri, malu tau di liatin orang banyak!!”

Aku sungguh kesal dengan Bayu. Dasar cowok egois. Aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain selain mengatakan ‘iya’. Karena Bayu akan melakukan apa yang ia katakan. Dia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia mau. Bayu akan terus berlutut seperti saat ini jika saja aku tetap mengatakan tidak.

Di dalam mobil, Bayu tersenyum melihatku. Kalau dulu, ketika masih pacaran, ia akan menggodaku saat melihat wajahku yang kusut karena ngambek. Tapi sekarang, dia hanya tersenyum. Sepeda motor kutitipkan di salon. Emak Ros sempat bertanya, tapi kujawab seadanya. Mungkin ia berpikir bahwa Bayu adalah pelangganku, dan aku ingin di bawa ke hotel. Aku tak terlalu merisaukannya. Suatu saat, aku akan menceritakan semua kepadanya. Sepanjang perjalanan, Bayu memutar lagu-lagu kesukaanku. Mungkin ia berharap aku akan tersenyum. Tapi tidak, aku menahan senyum itu. Aku masih kesal padanya. Kupalingkan wajahku ke jendela dan memandang ke arah luar.

**

Bayu memarkir mobil jazz silver miliknya di pinggir jalan. Tepat menghadap ke jurang. Aku masih bisa memandang keindahan Jogja di kala malam dari dalam mobil. Sesaat aku merasa betapa sesungguhnya aku merindukan tempat ini. Aku senang bisa berada disini lagi dan bersama dengan Bayu, walaupun keadaannya sudah berbeda. Tidak seperti dulu lagi. Tapi aku tak ingin terlalu larut dalam perasaan ini. Aku tak ingin terluka lagi. Bahkan, aku sendiri tidak yakin, apakah di hatiku masih ada cinta untuk Bayu.

“Ayo cepet, mau ngomong apa?”tanyaku pada Bayu.

“Aku pengen ngomong soal kejadian itu Mir.”Bayu menjawab pelan.

“Kenapa? Bukannya kamu malu? Kamu ninggalin aku gara-gara aku di perkosa kan? Terus ngapain kamu mau ngomongin masalah itu sekarang?”

“Aku salah Mir. Kamu gak ngerti posisiku. Jabatan ayah memaksaku untuk melakukan itu. Dan sekarang, aku sadar, semua itu salah..”

“Terus? Sekarang kamu maunya apa?” tanyaku dengan sinis

“Mir, orang-orang yang memperkosamu ternyata orang-orang sewaan mami Mir.”

“Maksud kamu?” tanyaku sambil menatap wajah Bayu.

“Iya Mir, kamu tau kan dulu mamiku pernah nyewa orang buat mata-matain kamu. Nah, ternyata oleh mami, orang-orang itu di suruh memperkosa kamu Mir.”

Aku terkejut mendengar cerita Bayu. Aku marah, aku benci. Ingin rasanya ku maki Bayu.

“Aku baru tau kejadian itu dua tahun yang lalu Mir.” Bayu melanjutkan ceritanya.

“Waktu itu mamiku sedang sakit. Dia terkena kanker. Mami menceritakan semuanya Mir. Tentu saja aku marah. Tapi mami sudah menyesali perbuatannya Mir. Beliau ingin bertemu denganmu, ingin meminta maaf. Sudah dua tahun ini aku berusaha mencarimu Mir..”

Aku hanya terdiam dan menangis. Aku masih Shock mendengar penuturan Bayu. Mengapa ibunya begitu tega melakukan semua itu padaku. Apa salah dan dosaku sehingga harus menerima penghinaan seperti itu.

“Sekarang mamiku sekarat Mir. Bahkan untuk matipun ia sulit. Sepertinya ada yang menjanggal di hatinya. Mungkin itu kamu Mir, mungkin beliau menunggu kata maaf darimu. Mir, aku masih Bayu yang dulu. Bayu yang benar-benar menyayangimu dengan tulus, mencintaimu apa adanya. Bayu yang akan selalu menjagamu. Sejak kehilanganmu, aku tak pernah berhubungan dengan perempuan manapun Mir. Hatiku masih untukmu. Aku menjaganya Mir.”

Bayu mendekatkan tubuhnya padaku. Ia menggenggam tanganku dengan lembut. Entah bagaimana perasaanku kini. Aku benar-benar marah. Bagaimana mungkin perbuatan sekeji itu bisa selesai hanya dengan permintaan maaf? Sedangkan aku dan ibu bertahun-tahun bergelut dengan luka yang mendalam. Segampang itukah Bayu datang meminta maaf dan menyatakan cintanya padaku? Kemana ia selama ini?

“Mir, aku dengar kamu sudah punya anak laki-laki Mir? Sekarang udah gde ya Mir? Namanya siapa Mir?” tanya Bayu sambil terus menggenggam tanganku. Sesekali ia mengusap air mataku.

“Anjas. Namanya Anjas.” Aku menjawab singkat. Tatapanku kosong. Tubuhku lemas.

“Mir. Aku pengen kita mulai dari awal lagi. Aku pengen kamu berhenti bekerja ditempat itu Mir. Aku akan mencintai anakmu seperti aku mencintaimu Mir. Aku berjanji Mir, gak akan pernah ada lagi orang yang akan menyakitimu dan keluargamu..”

Tiba-tiba aku terbayang sosok Anjas. Anak yang terlahir karena perbuatan keji orang-orang biadab. Anak yang sempat kubenci, namun kini begitu ku cintai. Oh, aku merasa bingung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan ini.  Perasaanku bergejolak. Kata-kata Bayu sungguh meyakinkan. Tapi apakah aku harus mempercayainya? Aku takut, aku sungguh takut. Ada sedikit rasa bahagia dihati ini. Ada sedikit rindu yang menyesakkan, rindu akan Bayu. Akan tetapi rasa takut yang menyelimuti jiwaku memaksaku untuk menolak perasaan itu.

Tiba-tiba Bayu mendekatkan wajahnya di hadapanku. Aku melihat matanya. Kupandangi dengan rasa benci sekaligus cinta.

“Aku mencintaimu Mir. Sangat mencintaimu..”kata Bayu

Berulang kali ia mengatakan hal itu. Tanpa kusadari, ada kelembutan menyentuh bibirku. Bayu menciumku. Entah mengapa aku hanya terdiam. Bahkan ketika Bayu memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Aku hanya terdiam. Dan ketika lidah kami saling bersentuhan, mataku terpejam. Ciuman yang telah lama hilang. Ciuman yang aku rindukan. Aku meladeni ciuman Bayu. Kumainkan lidahku dengan lidahnya. Cukup lama kami berciuman hingga kurasakan tangan Bayu mulai masuk kedalam bajuku. Sesaat, ada kenikmatan yang menyelimuti tubuhku ketika jari bayu mulai mengelus putingku yang sudah mengeras. Aku merasakan rangsangan yang sungguh hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tapi aku segera tersadar. Ku tepis tangan Bayu dan mendorong tubuhnya. Aku sungguh marah. Bagaimana mungkin ia memanfaatkan situasi seperti ini.

“Kamu sama seperti lelaki bajingan lain yang hanya ingin menikmati tubuhku!!”kataku sambil mendorong tubuhnya.

“Mir, maafkan aku Mir. Aku gak bermaksud seperti itu Mir.”Bayu mencoba meminta maaf.

“Cukup!! Aku gak butuh permintaan maaf dari kamu. Aku gak butuh permintaan maaf dari keluargamu. Aku sudah bahagia dengan keadaanku sekarang. Aku ga butuh kamu!!”

Kuambil Hp dari dalam tasku. Aku menghubungi operator taxi. Bayu mencoba untuk mencegahku. Tapi kugagalkan rencananya. Kubuka pintu mobil dan beranjak keluar. Bayu mengikutiku. Ia berusaha menahanku agar tidak pergi

“Mir. Denger penjelasanku dulu Mir..”Kata Bayu sambil terus berusaha meraih tanganku

Tapi aku terus berjalan menjauh darinya. Beberapa orang yang kebetulan ada di sana melihat kami. Tapi aku tak peduli. Tak berapa lama, taxi yang aku pesan datang. Aku langsung membuka pintu dan menyuruh sopir untuk segera jalan. Bayu berlari mengejar sambil memanggil namaku. Hpku berbunyi, Bayu menelponku, tapi kuabaikan. Segera kumatikan Hp agar Bayu tidak bisa menghubungiku. Sopir taxi mungkin merasa heran dan bertanya-tanya. Apalagi ia melihatku menangis di kursi belakang.

“Berantem ama cowoknya ya mba?”tanya sopir taxi mencoba ramah.

Aku hanya diam, tidak menjawab. Dadaku sesak, sangat sesak. Aku hanya bisa menangis. Menangisi nasibku. Tadinya aku sempat berharap Bayu akan benar-benar kembali. Setelah mengetahui kebusukkan Om Jerry, hanya Bayu-lah satu-satunya harapan bagiku, harapan bagi Njas untuk mempunyai seorang ayah. Tapi aku semakin tidak yakin setelah perbuatannya tadi. Aku sungguh muak. Aku memang seorang pelacur, tapi aku tak seburuk itu. Setidaknya untuk Bayu. Aku tak ingin dia hanya memanfaatkanku sebagai seorang pelacur. Kalau seperti itu, dia tak ada bedanya dengan para lelaki hidung belang yang hanya ingin menikmati tubuhku. Terbayang perkataan Ibu tadi sore. Maaf ibu, aku belum bisa memenuhi permintaanmu.

Bersambung….

Baca Cerita sebelumnya : Mirna dan dosa (pertempuran hati)