Category: ocehan penulis


Kemarin siang, waktu gua lagi ke warung makan (buat nyari makan pastinya, masa’ nyari obat) gua ngeliat sepasang mahluk (cowok dan cewek) yang nyesekin hati, terutama waktu gua ngeliat cowoknya. Tu cowok sebenarnya enggak punya kesalahan apapun, cuma bagi gua dia salah. Pasangan itu seperti hendak mempertegas bahwa istilah ‘beauty n the beast’ itu memang nyata adanya. Si cewek, kulitnya putih mulus, bodynya proporsional, mukanya imut dan ngegemesin. Matanya bulat, pakai soft lens warna biru muda. Cakep!! Nilainya 8. Nilai tinggi dari Penilaian 1-10 yang gua berikan terhadap seorang perempuan. Angka 1 artinya gak jelas, tu orang cewek atau bukan. Biasanya nongkrong di stasiun, terminal, atau kalau di Jogja, biasanya mangkal di depan gedung BI. Kalau di Jakarta di taman lawang. Angka 2, buat cewek palsu. Kelaminnya palsu, mukanya palsu, hidungnya palsu, jam tangannya palsu, gelangnya palsu, antingnya palsu, hatinya palsu dan hidupnya selalu di penuhi dengan kepalsuan. Angka 3 artinya jelek banget, sombong, jahat, miskin dan sok cantik. Angka 4 buat perempuan yang bertampang jelek dan bau tapi baik hati. Angka 5 untuk cewek yang agak jelek. Angka 6 buat cewek ‘lumayan daripada enggak punya cewek’. Angka 7 buat cewek manis, manja, ngangenin tapi suka ngambek dan marah-marah gak jelas. Sedangkan angka 8, artinya tu cewek cakep. Angka 9 berarti, sudah cakep, baik, solehah, penyayang, setia, suka menolong dan tidak sombong. Dan 10 adalah sempurna. Dia adalah nyokap gua, the one and only!!! Penilaian yang gua berikan bersifat relatif, artinya, mungkin aja menurut gua cantik, tapi menurut orang lain jelek, dan sebaliknya. Tapi, mengenai penilaian yang gua berikan, gak perlu di perdebatkan. Disamping gak penting, penilaian itu hanya berlaku bagi diri gua pribadi, gak berlaku buat orang lain selain gua.

Siang ini, warung tempat gua makan rame banget. Saking ramenya, gua harus rela ngantri buat mesen makanan. Warung bernama ‘HONG’ ini memang terkenal dengan sambalnya yang ekstra pedas. Dari namanya, terlintas di benak bahwa penjualnya adalah WNI keturunan Tionghoa. Tapi tidak, penjualnya adalah pribumi asli Sunda. Lama tidak makan di warung ini, gua baru ngeh ternyata warna sambalnya telah berubah kembali menjadi warna merah. Waktu harga cabai melonjak tinggi, sambal ekstra pedas ini sempat berganti warna menjadi warna hijau. Pasti karena harga cabai hijau lebih murah di banding cabai merah. Gua sempat ragu dengan cita rasa sambal berwarna hijau itu. Tapi akhirnya, gua tetap makan disana. Benar saja, rasa sambalnya agak berubah, walaupun tetap saja pedasnya minta ampun. Dan sejak saat itu, gua selalu aktif menyuarakan inspirasi di twitter gua (@onobs) mengenai harga cabai yang melambung tinggi. Bagaimana mungkin pemerintah membiarkan harga cabai melambung begitu tinggi, padahal menurut gua, cabai merupakan salah satu komoditas penting dalam dunia makanan. Tapi itu menurut gua, orang yang doyan masakan pedas. Yang tidak suka pedas, pasti gak setuju dengan gua. Dan pemerintah-lah yang menjadi tempat caci maki gua, selalu pemerintah, walaupun mungkin saja faktor penyebab kenaikan harga cabai ini bisa di karenakan berbagai hal. Misalnya cuaca yang  buruk sehingga produksi cabai menurun, sedangkan permintaan meningkat. Jika jumlah permintaan lebih tinggi dari jumlah barang yang di tawarkan, maka harga barang tersebut akan naik. Hukum ekonomi. Kebetulan waktu itu menjelang bulan puasa, jumlah permintaan cabai meningkat sedangkan produksi cabai menurun di karenakan cuaca yang tidak bisa di ajak kompromi. Tetapi menyalahkan cuaca sama juga dengan menyalahkan Tuhan. Dan kata nyokap (bagi yang percaya Tuhan), menyalahkan Tuhan hukumnya dosa. Jadi, pemerintah adalah pilihan masuk akal untuk di salahkan. Entah karena tipe orang Indonesia yang suka menyalahkan orang lain atau karena kinerja pemerintah saat ini yang aduhai hancurnya.

Cowok tadi sepertinya ngeh kalau gua lagi ngeliatin dia dan ceweknya. Setiap gua ngeliatin mereka, dia balik ngeliatin gua  dengan pandangan penuh rasa kesal. Gua tengsin, pura-pura ngeliat yang lain. Begitu cowok itu lengah, gua ngeliatin mereka lagi, kali ini fokus ngeliat ceweknya yang siang ini make celana yang super pendek. Orang-orang menyebutnya ‘hot pants’. Sebagai cowok normal (Alhamdulillah gua termasuk di dalamnya), pemandangan seperti ini gak boleh di sia-siakan. Seperti yang gua bilang tadi, tu cewek kulitnya putih mulus, bodynya juga aduhai. Pas cowoknya ngeliatin gua, gua pura-pura ngeliat ke atas. Pas dia lengah, gua ngeliatin lagi. Pas tu cowok  ngeliatin gua lagi, gua pura-pura ngeliat ke kanan. Pas dia lengah, gua ngeliatin lagi. Tu cowok ngeliatin gua lagi, gua pura-pura ngeliat ke kiri. Begitu dia lengah, gua ngeliatin lagi. Pas tu cowok ngeliatin gua untuk kesekian kalinya (kali ini dengan mata melotot) gua pura-pura noleh ke belakang. Pas tu cowok lengah lagi, gua manggil orang yang berdiri di sebelah gua. “Mas, minta tolong muterin kepala saya ke depan dong..” gua salah urat.

Siang yang panas itu semakin terasa panas karena pasangan beauty n the beast ini semakin menjadi-jadi. Si cowok dengan bangga memperlihatkan kemesraan mereka di depan gua. Tangan kanannya melukin pinggang tu cewek, tangan kirinya ngebelai rambut tu cewek. Si cewek tersenyum malu-malu sambil berbisik, “Iiih yank, malu kali di liatin orang banyak..” Si cowok malah tersenyum lebar. Senyum kemenangan. Di dalam hatinya, dia pasti merasa bangga telah memiliki cewek secakep itu. Dan sikap mesranya tadi seperti ingin mengatakan kepada semua orang, terutama gua, “hey dude back up, she’s mine, not yours…” Ah, dunia memang terlalu sering tidak adil. Bagaimana mungkin cowok seperti dia bisa mendapatkan cewek secakep itu! FYI : Gua ga cakep (baca : jelek). Kalau penilaian terhadap perempuan itu di ganti menjadi penilaian terhadap kaum Adam, nilai gua 4, dengan catatan, gua enggak bau. Nah, cowok yang jadi pemeran utama dalam cerita ‘beauty n the beast’ siang ini, tampangnya, maaf, jauh lebih hancur di banding gua. Nilainya -1,5. Hal itu-lah yang membuat gua sewot setengah mati. Apa sebenarnya kelebihan dari cowok itu sehingga si cewek cakep nan bohay jatuh hati padanya? Gua makin penasaran pas ngeliat si cewek dengan gaya manjanya malah nyuapin es krim yang sejak tadi dia nikmati ke cowok itu. Aih, hati ini makin panas, sepanas matahari di musim kemarau.

Pasangan ‘beauty n the beast’ itu akhirnya berlalu dari hadapan gua. Makanan yang mereka pesan sudah jadi. Tadi sempat gua lirik, yang cowok mesen ikan lele plus tahu dua biji. Sedangkan si cewek, cumi-cumi 1, ayam bakar 1, ayam kampung goreng 1, pete 1 (di goreng setengah matang), terong bakar 1, tempe 2 biji, sayur asem 4 bungkus plus nasi putih 4 bungkus. Mungkin tu cewek sekalian beli buat ayah, ibu dan adiknya (mumpung ada yang bayarin). Mereka ga makan di tempat alias bungkus. Begitu mereka pergi, gua sempatkan melihat ke arah mereka. Mereka bergandengan tangan dengan mesra ketika hendak menyebrang jalan menuju halaman sebuah SMA swasta yang sering di alih fungsikan menjadi tempat parkir mobil. Mobil? Yap, sebuah honda stream hitam dan gaul. Definisi mobil gaul adalah mobil dengan spesifikasi velg racing ring besar dan stiker club mobil di kaca belakangnya. Dan pemiliknya, pasti anak orang kaya (baca : yang kaya itu bapaknya). Gua tersenyum kecut. Mungkinkah karena alasan itu? Ah semurah itukah cinta? dunia benar-benar tidak adil!! Kalau memang itu yang menjadi alasan si cewek jatuh hati dengan cowok itu, maka nilai 8 yang tadi gua kasi, gua ralat jadi 2. Yap, nilai cewek itu cuma 2. Cewek palsu. Walaupun mungkin kelaminnya asli, tapi tu cewek punya hati palsu dan selalu hidup dalam kepalsuan. Tapi sekali lagi, penilaian yang gua berikan bersifat relatif, jadi gak boleh ada yang protes.

Kalau ada yang berpendapat, kekesalan gua siang itu karena gua cemburu, karena gua gak mampu, karena gua pecundang, pendapat itu dengan sangat terpaksa gua benarkan. Yap, gua jomblo. dan gua gak punya cewek, so, gua memang cemburu, iri, sekaligus patah hati. Dan Kekesalan gua siang itu juga membuat gua sadar, bahwa kekesalan yang gua rasain pasti pernah juga hinggap di hati cowok-cowok yang ngeliat gua jalan atau makan bareng dengan cewek dengan nilai 8. Persis sama dengan cewek tadi. Yang cowok-cowok itu tidak tahu adalah, kalau pasangan tadi sudah pasti berstatus pacaran, nah kalau gua? Mungkin aja cewek yang gua ajak jalan hanya teman biasa, atau kalaupun punya hubungan spesial, paling hanya TTTM (Teman Tak Tau Malu). Yap, kisah percintaan gua gak seindah rembulan di kala purnama, tak secantik matahari di kala senja dan tak seelok pelangi selepas hujan. Gua pecundang. Gak perlu gua kasi tau penyebab utamanya, nilai 4 yang gua sandang tentu sudah menjelaskan semuanya. Orang-orang seperti gua inilah yang terlalu sering mengeluh soal ke tidakadilan. Yah, percaya atau tidak, setuju atau tidak, dunia itu terkadang sering tidak adil…

 

maaf, ocehan ini memang tidak penting, dan ini bukan fiksi….

 

Advertisements

Indonesia Dalam Fiksi

Aku berada pada sebuah negeri. Negeri ini adalah negeri paling kaya. Punya seorang pemimpin yang hebat, yang bertanggung jawab, yang mencintai rakyat dan tidak pernah takut dengan negara lain yang coba menghancurkan negeri ini. Pemimpin ini sangat mulia. Tegas dan tidak plin-plan. Beliau menjaga perdamaian negeri ini dengan bertindak tegas terhadap para pengacau. Melindungi negeri ini dari terorris.

Masyarakat negeri ini ramah-ramah. Saling menghormati antar sesama. Tidak saling mencaci, tidak saling menjatuhkan. Beragama dan beradab. Kaum mayoritas melindungi kaum minoritas. Tidak saling mencampuri urusan agama masing-masing. Tidak saling menghancurkan tempat ibadah masing-masing. Para ahli agama tidak saling berdebat atau saling memperlihatkan kehebatan sehingga merasa diri paling benar. Para ahli agama tetap menjadi manusia, tidak berlagak menjadi Tuhan dan tidak terdapat setan yang menyesatkan dalam jiwa mereka.

Politikus negeri ini bekerja dengan jujur. Gaji mereka besar, tapi 3 % dari gaji mereka di sumbangkan kepada fakir miskin dengan cara memberikan modal usaha. Mereka bekerja dengan nurani, demi rakyat yang mereka wakili. Gedung tempat mereka bekerja sungguh megah, tapi rakyat kecil boleh memasukinya. Rakyat tidak akan di pukul atau di tembak mati ketika hendak menemui wakil mereka di gedung ini. Semua di sambut, bahkan di muliakan.

Di negeri ini, koruptor adalah legenda. Hanya cerita rakyat. Tidak ada koruptor di negeri ini. Setiap koruptor akan di hukum mati. Keluarga mereka akan di kucilkan hingga tujuh turunan. Harta mereka akan di renggut dan di serahkan kepada yang lebih membutuhkan. Sebelum di hukum mati, mereka di penjara di sebuah penjara bawah tanah. Mereka hanya di perbolehkan memakan cacing tanah dan meminum air kencing mereka sendiri. Karena itu, sangat jarang bahkan hampir tidak ada koruptor di negeri ini.

Di negeri ini, hakim, jaksa dan polisi sama jujurnya dengan politikus. Mereka menghukum yang benar-benar pantas untuk di hukum. Tidak akan mengambil apa yang bukan hak mereka. Bekerja dengan sesungguhnya. Benar-benar mengaplikasikan apa yang mereka dapat pada waktu sekolah.

Dokter, guru, dosen dan pejabat-pejabat di negeri ini bekerja sesuai dengan sumpah mereka. Tidak ada rumah sakit yang menolak pasien. Tidak ada sekolah yang memaksa siswanya untuk bunuh diri karena tidak mampu. Tidak ada kampus yang mengajarkan kekerasan sehingga mahasiswanya saling menzalimi.

Rakyat negeri ini mencintai pemimpin mereka, mencintai saudara-saudara mereka. Rakyat negeri ini hidup sejahtera dan bahagia. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang buta hurup. Tidak ada yang tidak bersekolah. Negeri ini sungguh indah, aku sungguh bahagia berada disini..

Sebuah jam usang yang bergetar oleh suara alarm terjatuh tepat di atas kepalaku. Aku terbangun. Kupandangi ranjang reot yang setiap hari kutiduri. Bantal dan guling apek yang setiap malam ku ajak bercinta. Tembok retak dari ruangan sempit berukuran 2×2 meter. Kupandangi jam usang yang membuatku terbangun. Waktu sudah mepet, teringat janji pada ibuku. Kemana lagi harus ku gadai ijazah yang kuperoleh sejak 4 tahun silam? Lalu aku teringat negeri itu, betapa bahagianya tinggal di negeri indah itu. sayang, aku tak sempat mengingat namanya. Tapi kurasa namanya adalah Indonesia.

Aku tersenyum. “Jam sialan, menganggu mimpi indahku saja…”

give me criticism

Ternyata membuat sebuah cerita, baik berupa cerpen maupun cerita bersambung bukan merupakan sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi membuat sebuah cerita ‘fiksi’, sebuah cerita yang tidak nyata dan membutuhkan daya hayal dan imajinasi yang kuat. Saya menjadi semakin kagum dengan orang-orang yang berhasil menciptakan sebuah karya sastra khususnya karya-karya fiksi, baik berupa cerita maupun berbentuk lain.  Bagaimana mereka membuat sebuah karya tidak nyata menjadi karya yang sepertinya nyata. Saya, sesungguhnya hanya menyalurkan hobby, dan saya sendiri belum bisa di katakan sebagai seorang penulis, apalagi penulis yang baik. Untuk itu, sudi-lah kiranya teman-teman yang kebetulan terdampar disini untuk sekedar memberikan kritik, cacian dan sebagainya. Teman-teman semualah yang akhirnya akan menyempurnakan tulisan-tulisan yang terdapat di blog ini. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

-best regard-